
Beberapa pasukan dalam komando Panglima Arga mengendap dan membunuh para pelayan setia Pangeran Aslan dan juga Ratu Safiya.
Namun hal itu segera di ketahui oleh Hamza, tangan kanan Ratu Safiya. Maka terjadilah pertempuran didalam istana.
Halil yang menyadari sedang ada perebutan kekuasaan malam ini maka memanfaatkanya untuk membebaskan Benazir.
"Aku akan membebaskanmu dulu. Sedang ada pertumpahan darah di istana. Mereka saling membunuh demi tahta. Kau tetap tidak aman jika berada disini. Ayo kita segera keluar!"
Halil membunuh beberapa penjaga di mana Benazir di tahan.
"Tetap disisiku," kata Halil menggandeng tangan Benazir keluar dari istana melewati jalan rahasia.
Sementara didalam istana benar-benar kacau. Pangeran Aslan dan pangeran Edric bertarung dengan sengit. Suara pedang dan suara beberapa pelayan yang berteriak membuat suasana semakin mencekam.
Ratu Safiya terkurung didalam kamar karena Hamza sengaja melakukan pengamanan diluar kamar Ratu Safiya dan membunuh beberapa beberapa prajurit yang mencoba mendobrak kamar ratu Safiya.
Hingga beberapa pejabat istana yang terbangun di malam hari segera berkumpul dan membuat persatuan.
"Kita harus bertindak! Jika tidak semua akan hancur dalam satu malam." kata seorang pejabat tinggi.
"Ya. Siapa memihak siapa?"
"Aku tetap pada keturunan Raja Ahmet. Pangeran Aslan."
"Aku juga."
"Aku juga,"
"Aku juga,"
"Jika begitu, ayo kita pimpin pasukan dan kira kepung Arga sipemberontak dan juga Pangeran Edric,"
"Ayo segera kita lakukan. Suasana sudah sangat kacau,"
"Ayo kita kerahkan semua anak buah kita,"
__ADS_1
Mereka segera mengepung Panglima Arga dan juga Pangeran Edric. Mereka menawan Selir yang tidak lain ibu dari pangeran Edric yang merupakan otak dari penyerangan malam ini.
Pertempuran kembali sangat sengit. Pangeran Edric tidak peduli dan tetap menyerang Pangeran Aslan.
Hingga satu panah berhasil mengenai dadanya. Perlahan Pangeran Edric tumbah ketanah.
Hal itu membuat Arga terkejut. Dengan cepat Arga segera berlari meninggalkan istana melewati jalan rahasia sebelum Pangeran Aslan menyadarinya.
Hamza juga masih sibuk dengan beberapa prajurit yang menyerangnya.
"Pangeran Edric tumbang! Berhenti!" Pangeran Aslan berteriak dengan lantang hingga membuat semua prajurit pengikutnya berhenti dan setelah melihat Arga tidak ada di antara mereka, dan pangeran Aslan yang tumbang, maka mereka menyerahkan diri saat itu juga.
Sementara Sang Ratu segera keluar dalam perlindungan Hamza.
Lalu Selir itu berlari memeluk anaknya.
"Pangeran....sadarlah... pangeran...." Selir yang tidak lain ibu dari pangeran Edric memeluknya dan menangisi putranya.
"Tangkap mereka!" Titah Ratu Safiya penuh kemarahan melihat kekacauan malam ini.
"Hamza! Kejar dia! Dan jika melawan kau bisa menghabisinya!"
"Baik Ratu!"
Sementara para prajurit yang lainnya membawa para pemberontak kedalam penjara.
*
*
Benazir dan Halil berhasil menemukan berlian lalu membawanya keluar dari istana.
Mereka sudah berhasil menyelamatkan diri pagi hari dan sampai di kediaman saudara Halil.
"Syukurlah kita sudah sampai kemari. Dan kita juga membawa berlian milik ayah. Aku tidak akan pernah masuk lagi ke istana itu," kata Benazir memeluk Hamza.
__ADS_1
"Ya...untuk apa kesana lagi? Orang tuamu berada disini," Halil tersenyum dan memeluk Benazir.
"Terimakasih...aku berhutang nyawa padamu..."
"Jangan ucapkan itu jika kau menganggap aku adalah sahabat mu..."
Deg.
Tiba-tiba Benazir teringat jika dia sudah menikah dengan Pangeran Aslan ketika berada dalam pelukan Halil.
"Ayo kita masuk kedalam," Hamza mengajak Benazir menemui kedua orang tuanya.
"Baiklah...." Benazir menepiskan perasaan aneh didalam dirinya.
Tiba-tiba terbayang malam yang dia lewati dengan Pangeran Aslan. Namun sesaat terbayang juga bagaimana Pangeran Aslan memenjarakan dirinya ketika dia ditangkap bersama Arga.
Juga mata ibu mertuanya yang menatapnya seakan penuh dengan kebencian.
"Tidak! Mereka bukan keluargaku. Seorang mertua tidak ada yang akan bersikap seperti Ratu Safiya, dia memenjarakan menantunya. Juga ternyata aku adalah bagian dari masa lalunya," Benazir berkata lirih.
"Dan seorang suami yang seharusnya melindungi istrinya, tapi dia justru memenjarakan istrinya karena cintanya penuh keraguan. Tidak! Tidak ada kekuatan cinta diantara kami. Pernikahan kami tidak berarti apapun baginya. Semua hanya mimpi. Semua hanya bagaikan sebuah mimpi,"
Tanpa terasa airmata Benazir mengalir. Dan hal itu diperhatikan oleh sahabatnya, Halil.
"Maafkan aku ...aku malah menangis..." kata Benazir mengusap airmatanya.
"Menangis lah...kau sudah melalui hari yang sangat berat. Dan sekarang tidak akan ada lagi ketakutan seperti yang terjadi didalam istana. Kau akan hidup seperti dulu, seperti. warga desa pada umumnya...." kata Halil.
"Ya.... sekarang aku akan masuk menemui kedua orang tuaku..."
Benazir lalu masuk kedalam rumah dimana ada orang tuanya disana.
Deg.
Sesaat dia seperti mendengar suara pangeran Aslan memanggilnya. Namun ketika menoleh, tidak ada siapapun di belakangnya kecuali Halil.
__ADS_1