
Setelah berhasil keluar dari istana mereka sekarang dalam perlindungan saudara dari Halil.
"Syukurlah kita sampai disini tanpa ada yang mengejar kita. Tapi, sayangnya Benazir masih berada didalam istana bawah tanah itu," kata Halil pada Zeinep dan suaminya yang buta.
Karena terkena bubuk beracun, maka mata suaminya menjadi buta sejak saat itu. Zeinep berada dalam tahanan Arga sehingga tidak bisa mendapatkan obat untuk suaminya.
"Istriku, berikan peta istana itu pada Halil. Dia akan mengambil berlian dan juga menyelamatkan Benazir,"
"Apa? Peta apa? Aku tidak mengerti?"
"Di masa lalu aku dan Ahmet bekerja sama. Dan aku mendapatkan bagian berlian yang sama banyak ya dengannya dari hasil bisnis kami. Namun karena dia serakah, maka dia ingin mengambil berlian itu semua agar menjadi miliknya. Aku menyimpannya di sebuah ruang rahasia. Ikuti petunjuk peta ini dan kau akan menemukannya. Arga yang tahu karena dia adalah tangan kanan Tuan Ahmet, lalu menyelamatkan aku. Namun ibarat keluar dari mulut harimau aku masuk mulut buaya. Dia sama jahatnya dengan Tuan Ahmet. Dia juga menginginkan berlian itu dan peta ditangani,"
"Jadi...kalian punya hubungan dimasa lalu?" Halil nampak sangat terkejut.
"Ya...Benazir belum lahir ketika itu. Dan ketika dia masih kecil, aku ditangkap. Benazir pikir aku dan ibu ya sudah tiada. Namun Arga yang mendapat perintah dari Ahmet untuk membunuhku malah menyelamatkan aku dan membunuh orang lain sebagai gantinya. Dia menyelamatkan kami karena peta dan berlian yang masih aku simpan. Begitulah ceritanya...setelah dia tidak cukup menangkap kami, dia memanfaatkan putriku demi kepentingan nya, kau pergilah dan selamatkan dia. Putriku harus selamat dari mereka yang kejam dan jahat. Bawa dia keluar dari istana itu," pinta ayah Benazir pada Halil.
"Baiklah. Aku akan membawa Benazir dengan selamat juga membawa berlian itu,"
Halil lalu pamit pada Zeinep.
__ADS_1
"Restuku bersamamu. Kau pria yang baik. Bawalah putriku kepada kami.."
"Saya akan membawa Benazir dengan selamat dan saya pergi sekarang,"
Setelah menitipkan kedua orang tua Benazir pada saudaranya, maka Halil kembali ke istana dengan menyamar.
Kali ini dia menyamar sebagai seorang pemahat tembok. Dia masuk bersama beberapa orang yang ditugaskan untuk membuat gapura istana dengan lebih megah lagi.
*
*
Halil menyebarkan bubuk aroma yang membuat para prajurit tertidur ketika menghisapnya.
"Benazir....ini aku..." kata Halil dan seketika Benazir memegang tangannya.
"Halil. Kenapa kau kemari? Bagaimana dengan kedua orang tuaku?"
"Mereka baik-baik saja. Aku kemari untuk menyelamatkan dirimu," kata Halil.
__ADS_1
"Ada yang datang. Pergilah bersembunyi, aku akan pura-pura tidur," kata Benazir pada Halil.
Ternyata yang datang adalah Pangeran Edric. Dia melihat Benazir masih ada di tempatnya dan hal itu membuat dia tersenyum senang.
"Besok kau akan menjadi istriku. Malam ini juga, aku akan merebut tahta dari Ratu Safiya," Pangeran Edric menatap Benazir yang pura-pura tidur pulas.
"Kau cantik seperti rembulan. Tenanglah. Aku akan membebaskanmu ketika aku berhasil merebut tahta malam ini," kata Pangeran Edric.
Pangeran Edric lalu ke ruang tahanan para Pria. Dia mencari Arga.
"Arga! Bangunlah! Ini aku, pangeran Edric."
"Pangeran...kenapa datang malam-malam begini?"
"Aku akan membebaskanmu tapi dengan syarat. Malam ini juga, bantulah aku menghabisi Ratu Safiya dan juga Pangeran Aslan. Jika tidak malam ini, kita tidak akan punya kesempatan lagi," kata Pangeran Edric memegang kunci ditangannya.
"Baiklah. Keluarkan aku dahulu. Setelah itu aku akan mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamar Ratu Safiya dan Pangeran Aslan," kata Arga yang pengaruhnya akan pasukannya masih sangat besar. Hampir separo dari pasukan di istana takluk pada perintahnya.
Akhirnya aku bebas....
__ADS_1
Kata Panglima Arga ketika dia dibebaskan oleh Pangeran Edric yang juga mengincar tahta.