Menikah Demi Balas Dendam

Menikah Demi Balas Dendam
Bab 20 Dimana Benazir


__ADS_3

"Ratu! Putri Benazir melarikan diri," kata seorang prajurit ketika melihat Benazir tidak ada diruang tahanan.


"Bagaimana bisa! Segera cari ke segala penjuru istana!"


Sementara itu, Almira yang sudah sehat duduk disamping Pangeran Aslan yang terluka akibat perang kemarin malam.


"Pangeran....aku sedih melihat kau terluka seperti ini. Kau memelihara seekor ular didalam istana. Bahkan istrimu juga seekor ular berbisa. Pasti dia seorang mata-mata. Dia sekarang telah kabur dan itu lebih baik. Dia ancaman bagi semua orang!" umpat Almira di samping Pangeran Aslan yang tertidur.


"Benazir....." bisik Pangeran Aslan ketika matanya perlahan terbuka.


"Apa? Dia memanggil Benazir? Apa aku tidak salah dengar?" Almira terkejut melihat Pangeran Aslan menyebut nama Benazir ketika pertama kali tersadar.


Dan saat itu Ratu Safiya masuk kedalam.


"Bagaimana keadaan Pangeran Aslan?"


"Sudah lebih baik Ratu. Hamba menjaganya," kata Almira si penjilat dan gadis yang cerdik.


"Istrinya kabur dari istana. Aku yakin dia punya teman didalam istana ini dan membebaskannya ketika terjadi kegaduhan didalam istana,"


"Benar Ratu. Menurut hamba dia seorang mata-mata," kata Almira pada Ratu Benazir.


"Kau benar....aku di khianati oleh para orang kepercayaan ku. Aku bahkan sudah menikahkannya dengan putraku,"


"Tapi...gadis itu tidak pantas memberikan keturunan untuk kerajaan ini. Darahnya tidak boleh mengalir dalam keturunan suci yang mulia Ratu..." lagi-lagi kata-kata Almira berisi ambisinya untuk menjadi bagian dari keluarga kerajaan dan bukan sekedar pelayan saja.


"Ratu...kami menemukan jalan rahasia," kata Hamza yang baru saja masuk setelah melakukan penyelidikan menyeluruh ke seluruh istana bawah tanah itu.


"Dimana?"


"Di dekat pantai. Dan kemungkinan Benazir keluar lewat jalan rahasia itu,"


"Segera hancurkan jalan rahasia itu Hamza. Sehingga jangan ada lagi tahanan yang kabur atau orang asing yang masuk kedalam istana!" titah Ratu Safiya.

__ADS_1


"Baik Ratu...."


Hamza segera mengerahkan pasukannya untuk menghancurkan jalan rahasia itu. Dan sekarang, Benazir sudah tidak punya jalan untuk kembali ke istana menemui suaminya.


*


*


Halil sedang duduk melihat bintang-bintang bersama Benazir. Entah kenapa tiba-tiba Benazir merasakan pusing dan mual


Uhuk!


"Kepalaku sangat pusing...." kata Benazir lalu Halil mengajaknya masuk kedalam.


"Kau harus diperiksa. Ada dokter yang aku kenal," kata Halil.


Tidak lama kemudian Dokter datang dan memeriksa Benazir.


"Nona Benazir sedang hamil...."


"Apa!?" Kedua orang tua Benazir terkejut dan juga Halil. Benazir juga terkejut ketika mendengar semua itu dari Dokter.


"Aku hamil? Bagaimana mungkin?" Benazir menangis dan Zeinep segera memeluknya.


"Tenanglah nak. Kamu hamil. Ada kami di sisimu. Kami akan menjagamu dan merawat anakmu jika lahir kelak," kata ibunya.


Halil nampak mengangguk disamping kedua orang tua Benazir.


"Ibu....." Benazir memeluk ibunya dan menangis sesenggukan.


"Jalan ke istana telah ditutup oleh para prajurit," kata Halil pada Benazir.


"Aku tidak akan kesana dan menyerahkan bayiku pada mereka. Aku tidak peduli jika mereka menutup semua jalan. Aku akan bersama keluargaku dan hidup sebagai rakyat biasa,"

__ADS_1


"Kau benar nak. Suamimu memang ada disana. Tapi mereka tidak mencintai mu sebagai mana kami sangat menyayangimu. Mereka bahkan memenjarakan anggota keluarganya dan terus meragukan dirimu,"


"Iya ibu. Kalian adalah keluargaku. Dan Halil adalah sahabat terbaikku,"


"Terimakasih Halil...jika tidak ada kau...kami semua tidak akan keluar dari istana itu," kata Benazir.


"Nak Halil... kemarilah....ini untukmu..." kata Ayah Benazir memberikan separo simpanan berliannya untuk Halil.


"Ti..tidak pak....ini semua milikmu...." Halil menolaknya.


"Tidak nak. Jangan menolak hadiah dari kami. Kami mendapatkan berita baik karena Benazir sedang hamil. Dan kau adalah penyelamat kami. Kami ingin berbagi kebahagiaan denganmu. Terimalah berlian ini,"


"Baiklah pak.... terimakasih..." Halil tidak bisa menolaknya lagi setelah ayah Benazir memaksanya untuk menerima berlian itu.


Benazir menatap Halil dengan mata bercahaya. Ada ketulusan Dimata pria sederhana seperti Halil. Dan kenapa baru sekarang Benazir menyadarinya? Dia pikir, pria seperti Pangeran Aslan adalah impian semua wanita. Tapi ada pria sederhana dengan ketulusan dan kebaikan budi pekertinya, tidak dia lihat selama ini.


Padahal mereka sudah mengenal sejak lama. Dan Benazir baru menyadari ada pria pemberani yang bersedia mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan dirinya dan keluarganya.


Dia adalah pria desa yang sederhana. Bukan seorang pangeran bangsawan seperti Pangeran Aslan.


Sejenak, Benazir menatap lama sahabatnya itu. Hatinya berdesir lembut.


Dan ketika Halil menatapnya, mereka bertemu pandang. Senyum bertaut saling mengembang. Ada ketulusan dari senyum itu. Tanpa pamrih.


Ibu Benazir, Zeinep melihat senyum di wajah Halil dan juga putrinya. Dalam hati berharap, mereka adalah jodoh yang akan disatukan oleh Tuhan setelah melewati banyak cobaan dan ujian kehidupan.


Zeinep lalu menggenggam tangan suaminya.


"Andai kau melihat suamiku. Kau akan melihat cinta tulus dari seorang pria biasa untuk putri kita..."


"Aku memang tidak melihat istriku. Tapi aku bisa merasakannya. Hatiku dan filingku sangat kuat. Aku merasakan semuanya tanpa harus melihatnya dengan mataku, Benazir akan bahagia jika bersama pria yang tepat. Yang akan lebih menyayangi nya daripada dirinya sendiri," kata suami Zeinep memeluk istrinya.


"Semoga mereka berjodoh...." bisik Zeinep yang duduk disamping suaminya.

__ADS_1


__ADS_2