Menikah Demi Balas Dendam

Menikah Demi Balas Dendam
Bab 8 Siasat Ratu Safiya


__ADS_3

Sang Ratu sedang berada dikamarnya, menunggu hasil penyelidikan yang sedang dilakukan pengawal pribadi untuk mengungkap siapa yang sudah membunuh Sang Raja.


"Hamba sudah menemukan pembunuh yang sebenarnya,"


"Katakan siapa dia?"


"Pelayan Pangeran Aslan!" sahut Hamza dan kala itu sang pangeran masuk kedalam kamar ibundanya dan berhenti dipintu.


Hamza dan Ratu terkejut, dengan kedatangan pangeran Aslan. Pangeran Aslan lebih terkejut lagi karena pelayan setianya dituduh telah membunuh ayahandanya sendiri.


"Hamza! Apa yang kau katakan!" Sang Pangeran mendekati ibundanya.


"Jelaskan Hamza. Apa yang kau ketahui tentang racun itu," kata Ratu Safiya menatap Hamza.


"Baik Ratu..." Hamza lalu menjelaskan bagaimana penyelidikan nya bisa mengerucut pada pelayan sang pangeran yang bernama Almira.


"Ditemukan beberapa noda bubuk dari baju yang dipakai oleh Almira kala terjadi pembunuhan malam itu."


"Tidak! Tidak mungkin!" Pangeran Aslan sangat terkejut. Bukan tanpa sebab dia terkejut seperti ini.


Almira adalah pelayannya. Dan dia khawatir dianggap memberontak oleh ibundanya melalui pelayannya.


"Hamba tidak percaya pelayan hamba melakukan pembunuhan itu. Untuk apa? Dia hanyalah seorang pelayan. Mana mungkin bisa bertindak sejauh ini,"


"Hamza panggil Almira ke hadapanku!" titah Ratu pada pengawal pribadinya.


"Tenang pangeran. Kita akan membawa gadis itu kemari. Dihadapan ku dia akan mengakui semuanya," kata Ratu Safiya.


Dikamar Almira, dia sedang berbicara dengan Arga secara rahasia.


"Jika salah satu diantara kita tertangkap, aku harap tidak menyebutkan nama rekannya atau aku tidak bisa menyelamatkan dirimu," kata Arga yang sudah mendengar lebih dahulu dari seorang mata-mata jika Almira berada dalam bahaya. Hamza melalui tukang cuci baju sudah menemukan pemilik baju yang terkena noda racun itu.


"Aku sangat takut," kata Almira ketika dia tidak menyadari jika ada noda racun didalam bajunya.


"Aku akan menyelamatkan dirimu. Kau hanya harus tenang dan berikan alasan yang masuk akal," kata Arga pada Almira yang bibirnya gemetar karena ketakutan.


"Apakah aku akan di hukum mati?" Almira tidak bisa tenang saat ini. Sebentar lagi dia akan ditangkap karena dituduh membunuh Tuan Ahmet.


"Kau hanya perlu tenang. Aku akan datang menyelamatkan dirimu. Jadi kau tenanglah," kata Arga pada Almira yang gemetar dan gelisah sejak tadi.


"Haruskah aku mengakui jika aku yang menaruh racun itu?"


"Tidak. Kau katakan tidak tahu apapun. Seakan ada orang lain yang menfitnah dirimu. Apapun yang terjadi katakan tidak tahu apa-apa, mengerti, .....sttttt...ada yang datang. Aku akan sembunyi," Arga lalu sembunyi di dekat ranjang ketika Hamza datang dengan beberapa prajurit istana.


tok tok tok!


Hamza sempat mengetuk pintu kamar Almira. Almira semakin gemetar kendati dia mempersilahkan mereka masuk.

__ADS_1


"Ya, masuk!" Almira menatap sayu penuh rasa takut pada Hamza juga para prajurit yang berdiri dipintu.


"Kami datang atas perintah Ratu Safiya. Ditemukan racun di baju yang kau pakai kala terjadi pembunuhan Raja Ahmet. Kau bisa ikut kami dan jelaskan pada sang Ratu," kata Hamza.


"Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak bersalah!" Almira mundur dua langkah dan tanganya maju kedepan. Dia menolak menghadap sang Ratu. Rasa takut dalam dirinya membuat akalnya tidak bisa berfikir dengan tenang.


Hamza menatapnya penuh selidik. Benar yang Ratu katakan. Jika ingin menangkap ikan maka harus diberikan umpan. Entah apa maksud semua itu hanya Ratu dan Hamza yang tahu tujuan mereka. Siapa yang sedang mereka curigai sebagai pemberontak didalam istana. Hanya mereka yang tahu.


"Maaf Almira. Jika kau menolaknya maka kami terpaksa bertindak sesuai prosedur istana,"


"Tidak! Jangan! Aku tidak bersalah!"


"Kau bisa mengatakannya di hadapan Ratu Safiya," kata Hamza lalu melirik pada prajurit dan memberikan isyarat pada mereka.


Para prajurit lalu mendekati Almira yang gemetar ketakutan dan membawanya dengan paksa pada Sang Ratu.


Benazir yang akan menyelidiki foto kedua orang tuanya kaget melihat Almira di bawa oleh prajurit dan tangan kanan sang Ratu.


"Kenapa mereka membawa Almira? Apa yang terjadi?" Benazir tidak tahu apapun tentang politik yang sedang dilakukan oleh sang Ratu.


Sang Ratu sedang mencurigai orang yang ingin merebut kekuasaan Tuan Ahmet. Dan dia melakukan siasat ini demi mengungkap pelakunya.


"Aku harus menemui Sima. Aku harap Sima bisa menjelaskan hubungan ayah dan ibu dengan Tuan Ahmet," kata Benazir dalam hati.


Benazir lalu mencari Sima dikamarnya. Dan Sima segera membuka kan pintu ketika tahu jika Benazir yang berada diluar kamarnya.


"Sima, aku datang karena ada yang ingin aku ketahui darimu,"


"Katakan. Kau datang membuat aku kaget saja," kata Sima yang sedang merapikan bajunya didekat lemari baju.


"Ini, lihat foto ini. Bisakah kau jelaskan siapa dia dan apa hubungannya dengan sang Raja?" Sima terkejut melihat Benazir membawa foto sakral itu.


Sima lalu menatap Benazir dengan tajam.


"Darimana kau mendapatkan foto ini? Jika ada yang tahu kau bisa dihukum?" kata Sima pada Benazir.


"Aku dari perpustakaan Istana. Ratu yang meminta aku mempelajari politik. Dan aku tertarik dengan foto ini. Katakan Sima aku ingin tahu masa lalu mereka," pinta Benazir dengan sangat.


"Tapi....ini adalah rahasia besar. Dan bisa membuat jiwamu dalam bahaya jika Ratu mengetahuinya,"


"Memangnya ada apa? Katakan Sima?"


Sima lalu bercerita pada Benazir jika dimasa lalu ketika para pangeran belum lahir, Sang Raja jatuh cinta pada wanita didalam foto ini. Namun sang wanita memilih untuk menikah dengan sepupu sang Raja.


Sang Raja patah hati dan menikahi Ratu Safiya tanpa cinta. Setiap malam sang Raja menatap bintang-bintang dan berbicara pada foto wanita ini. Sang Ratu mulai cemburu pada gadis didalam foto itu.


Semakin hari, kecemburuan sang ratu semakin menjadi-jadi ketika sang Raja diam-diam menemui wanita itu dan memaksanya untuk ikut bersamanya dan meninggalkan suaminya. Namun wanita itu tidak mau karena dia sedang hamil.

__ADS_1


Sang Ratu lalu mencari keberadaan wanita itu dan ingin melenyapkan nya.


Setelah itu, aku tidak tahu lagi kelanjutan ceritanya. Wanita itu hilang begitu saja bagaikan ditelan bumi bersama suaminya.


Dan sang Raja berhenti menemui wanita itu. Sementara sang Ratu juga melahirkan pangeran Aslan. Dan kebahagiaan kembali dalam keluarga ini sejak pangeran Aslan lahir


Namun masalah kembali terjadi ketika sang Raja memiliki seorang selir. Kala sang Ratu baru saja melahirkan, maka Ratu Safiya ingin tidur terpisah dari raja selama dua bulan. Hingga dirinya pulih dari pasca melahirkan.


Dan dalam masa itu, sang raja memilih satu selir. Sang Ratu sangat sedih dan kecewa. Sang Ratu lalu sering bertengkar dengan Raja dan membuat Raja semakin marah diapun mengasingkan sang Ratu dan putranya di kerajaan kecil miliknya.


Setelah dari pengasingan, sang Ratu kembali bersama putranya dan seorang pelayan bernama Hamza. Ratu menjadi lebih kuat dan tidak melawan suaminya kendati suaminya memiliki banyak selir sepeninggalnya dalam pengasingan.


Lalu ada desas desus jika Hamza dan Ratu Safiya menjalin hubungan asmara selama dalam pengasingan. Hal itu membuat harga diri Raja Ahmet hancur dan membuatnya marah besar.


Sang Ratu yang ketakutan lalu kabur bersama pengawal pribadinya.


"Lalu...."


"Sudah Benazir. Aku sudah mengatakanya yang ingin kau ketahui. Dan sebaiknya kau tidak tahu apapun daripada nyawamu berada dalam bahaya," Sima memperingatkan Benazir.


Tok tok tok!


"Ada yang datang. Cepat sembunyi!" kata Sima pada Benazir.


Benazir lalu sembunyi di bawah ranjang.


Yang datang adalah Pangeran Aslan. Dia menatap sekeliling ruangan itu dan datang mencari Benazir.


"Aku datang untuk mencari Benazir. Ibunda ingin bertemu dengannya,"


"Maaf Pangeran. Putri Benazir tidak ada disini," Sima terpaksa berbohong. Dia tidak ingin dekat dengan siapapun karena dirinya bahaya dan nyawa sebagai taruhannya. Dia harus selalu netral agar tidak terlibat dengan berbagai tuduhan.


"Baiklah. Jika kau bertemu dengannya katakan jika Ratu ingin bertemu dengan Benazir,"


"Baik Pangeran...." Sima menunduk hormat pada Pangeran Aslan.


Setelah pangeran Aslan pergi, Benazir segera keluar dari persembunyiannya dan menemui Sima.


"Sebaiknya kau jangan sering datang kemari. Sangat berbahaya. Orang yang melihatnya akan menuduh sebuah konspirasi sedang dilakukan,"


"Baiklah. Aku mengerti. Aku harus segera pergi dan bertemu dengan Ratu... dan terimakasih kau sudah mengatakan cerita tadi...." Benazir segera keluar dengan lincah dari kamar Sima.


Sementara Sima terpaku dan menyesal karena sudah terbuka pada Benazir.


"Astaga...apa yang aku lakukan? Kenapa aku menceritakan masa lalu Raja. Bagaimana jika gadis itu menyebarkannya..."


Aku suka kebablasan....

__ADS_1


__ADS_2