Menikah Demi Balas Dendam

Menikah Demi Balas Dendam
Bab 7 Belajar politik


__ADS_3

Putri Benazir mandi dan memakai baju yang indah yang sudah disiapkan oleh seorang pelayan bernama Sima atas perintah sang Ratu Safiya.


"Kau selamat berkat sang Ratu..." kata Sima ketika menyisir rambut Putri Benazir.


"Iya...jika tidak, aku pasti sudah di hukum mati," Putri Benazir menatap wajahnya yang cantik melalui cermin didepannya.


"Hidup di dalam istana tidaklah mudah. Kau harus selalu waspada dan hati-hati. Meskipun hari ini kau selamat bukan berarti besok tidak akan ada masalah baru yang datang. Disini penuh dengan tipu muslihat. Kau sendiri tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan. Kadang orang yang awalnya sangat kau percayai, bisa saja berkhianat karena suatu hal,"


"Aku belum pernah hidup didalam istana. Ini adalah pengalaman pertamaku. Dan aku pikir hidup disini sangat mudah dan indah. Tapi kenyataannya, seperti yang kau bilang. Jika tidak waspada maka nyawa bisa melayang," Benazir sedih teringat saat dia dituduh membunuh Tuan Ahmet padahal dia belum melakukannya.


"Hati-hatilah terhadap pelayan Pangeran Aslan yang bernama Almira. Semua orang tahu jika dia gadis sangat licik," pesan Sima dan menyelipkan hiasan di rambut Putri Benazir.


"Aku bisa melihatnya. Dia memang gadis yang berbahaya,"


Dan saat itu Arga masuk kedalam ruangan Benazir.


"Hamba mohon diri," kata Pelayan Sima ketika panglima Arga masuk kedalam. Sima mengangguk hormat pada Arga. Panglima Arga adalah orang yang disegani di istana itu. Berkat nasehat-nasehat politiknya maka Raja Ahmet bisa meraih banyak kekayaan dan juga kemenangan dalam setiap kali bisnis dengan lawannya.


Arga segera menutup pintu dan Benazir berdiri berhadapan dengan dirinya.


"Meskipun kau sekarang menjadi orang yang akan dekat dengan Ratu Safiya, kau tetap seorang gadis biasa. Dan aku peringatkan agar kau tidak macam-macam denganku," Arga menatap tajam wajah Benazir.


"Kalau begitu katakan. Dimana kedua orang tuaku?" Benazir menatap tajam wajah Arga.


"Mereka aman bersamaku," kata Arga.


"Aku ingin bertemu mereka,"


"Tidak sekarang. Kau masih aku butuhkan disini. Jika misiku berhasil maka aku akan membawamu bertemu mereka," ucap Arga dengan tegas.


"Kau pria yang licik!" Benazir hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Dia marah dan kesal dalam hati. Tapi dia tidak bisa melawan Arga secara terang-terangan karena nyawa kedua orang tuanya berada di tangannya.


"Kau gadis yang beruntung. Setelah kembali dari maut, kau akan lebih kuat. Aku suka keberuntungan yang ada pada dirimu,"


"Cih, pria licik seperti dirimu pasti akan mati dimakan binatang buas!"


"Apa!? Kau mulai kurang ajar! Apa kau bilang!?" Arga mendekat dan akan memegang leher sang putri karena bicaranya yang lancang.

__ADS_1


"Panglima Arga! Apa yang kamu lakukan?" Tiba-tiba sang Ratu masuk karena ingin bertemu dengan Benazir secara pribadi.


"Tidak Ratu. Hamba hanya akan membetulkan kerah bajunya yang miring," Arga lalu melirik pada Benazir dengan sinis dan pamit untuk keluar dari kamar itu.


"Hamba permisi...." Arga keluar dan mengangguk hormat pada Ratu Safiya. Semua pasukan kini berada dalam kendali Ratu Safiya dan juga para pejabat di istana itu. Arga harus mengubah semua rencana semula karena kejadian tidak di duga ini.


Benazir mengangguk hormat pada Sang Ratu. Dia menundukkan kepalanya di hadapan wanita ini. Bagaimanapun, wanita ini sudah membuat dia hidup dan kembali dari kematian.


"Kau gadis yang cantik. Aku iri dengan kecantikan dan keberanian mu...."


"Terimakasih Ratu...tapi hamba datang bukan karena keinginan hamba. Hamba hanyalah gadis biasa dan lebih senang hidup di luar istana," kata Benazir polos dan jujur.


Bagaimanapun, dia tidak bisa tidur dengan tenang di istana ini karena seakan nyawanya terancam setiap saat. Malam hari pun dia juga gelisah dan terus saja khawatir.


"Tapi jika kau sudah datang kemari maka kau tidak bisa kembali pada kehidupan mu yang sebelumnya. Kau akan tinggal disini selamanya. Dan itu peraturan di istana ini," kata Sang Ratu Safiya membuat mata Benazir berkaca-kaca.


"Hamba tidak tahu jika ada peraturan seperti itu," Arga tidak sekalipun mengatakan padanya tentang peraturan seperti ini.


"Ikut denganku...." Titah Ratu dan membawa Benazir ke ruang perpustakaan istana.


"Kau bisa membaca beberapa buku disini karena kau akan selalu berada di dekatku. Pelajarilah banyak hal dari cara berpolitik diantara banyak kerajaan. Sebagian politik akan menyelamatkan hidupmu," Sang Ratu menatap pada Benazir dan baginya, Benazir adalah gadis yang cerdas dan bisa di andalkan olehnya.


Disana banyak buku-buku besar dan tebal. Semua buku itu pernah dibaca oleh Ratu Safiya ketika masih muda. Dan sekarang dia ingin Benazir mempelajari semua itu sama seperti dirinya. Dia bukannya tidak punya tujuan hingga menyuruh Benazir banyak belajar tentang politik.


Rupanya sang Ratu punya suatu tujuan yang belum dia utarakan pada semua orang. Dia masih memendamnya dalam hati. Ketika saatnya tepat, maka dia akan mengatakan semua itu.


Benazir lalu berjalan dari rak ke rak buku dan melihat-lihat semua judulnya. Tidak ada kisah romantis didalamnya. Semua buku ini bercerita tentang masalah politik dan bagaimana hidup di kerajaan.


Benazir lalu menarik kursi dan akan mengambil buku di rak yang paling tinggi yang menarik perhatiannya.


Kreeekkk!


Kursi itu sedikit berat jadi Benazir menyeretnya. Dia lalu naik keatas kursi dan mengambil buku itu.


Ternyata buku yang dia inginkan sangat berat. Dan itu bukanlah buku politik, melainkan silsilah masa lalu kerajaan Ahmet ini.


Braakkkkk!

__ADS_1


Karena sangat berat beberapa buku disampingnya berjatuhan, dan ketika Benazir akan menangkap beberapa buku yang jatuh, dia malah hampir ikut terjatuh.


Buuuuukkkkk!


Beberapa buku berserakan dilantai. Dan seketika tangan yang kekar menangkap putri Benazir.


Mereka saling berpandangan. Ternyata itu adalah pangeran Aslan yang sering menghabiskan waktunya di perpustakaan ini.


"Maaf pangeran...." kata Putri Benazir.


"Ya. Kau hampir saja jatuh jika aku tidak menangkap mu..."


"Terimakasih..." Benazir lalu berdiri tegak.


Pangeran menatap keberadaan Benazir ditempat ini.


"Kenapa kau ada disini? Siapa yang membawamu kemari? Kau tahu, hanya keluarga kerajaan yang bisa berada di perpustakaan ini," kata Pangeran Aslan menatap tajam ke wajah Benazir yang berdiri dihadapan nya.


"Ratu Safiya yang mengajak hamba kemari. Dan Sang Ratu ingin agar hamba membaca banyak buku tentang politik kerajaan," kata Benazir tertunduk didepan sang pangeran.


Deg.


Entah kenapa jantungnya berdebar kali ini meskipun dia sangat marah dan tidak bisa memaafkan apa yang belum lama dilakukan sang pangeran yaitu merantai dirinya dan menuduhnya seorang pembunuh.


"Kenapa ibunda melakukan semua itu? Untuk apa!?"


"Hamba tidak tahu pangeran. Anda bisa tanya sendiri pada Ratu Safiya," kata Benazir masih dengan kepala tertunduk.


"Tentu saja. Kau adalah gadis asing. Bagaimana Ratu bisa membawamu ke perpustakaan ini!" Pangeran Aslan lalu keluar dan meninggalkan Benazir sendirian.


"Dasar tidak punya hati!" umpat Benazir.


Benazir kesal karena pangeran Aslan telah melakukan kesalahan besar dengan menuduhnya telah membunuh Tuan Ahmet.


Benazir jongkok dilantai dan mengambil semua buku yang berserakan.


Dia lalu merapikan satu persatu dan tiba-tiba matanya tertegun ketika melihat gambar foto ibunya ketika masih muda dengan ayahnya dan juga Tuan Ahmet berada dalam satu foto yang sama di atas kuda masing-masing.

__ADS_1


"Mereka saling mengenal? Bagaimana mungkin?!" Benazir segera mengambil foto itu dan menyimpan didalam bajunya.


__ADS_2