Menikah Demi Balas Dendam

Menikah Demi Balas Dendam
Bab 16 Terbongkar


__ADS_3

"Semoga mereka bisa selamat dan tidak tertangkap oleh siapapun," bisik Benazir dalam hati ketika Pangeran Aslan menghentakkan badannya di atas ranjang.


Sekarang aku tahu jika Arga berbohong dan hanya memanfaatkan aku saja. Sekarang giliran ku untuk membalasmu.


"Katakan! Kenapa kau berkeliaran bersama Pangeran Edric?"


"Aku hanya jalan-jalan di istana dan tanpa sengaja bertemu dengan pangeran Edric karena aku tersesat," kata Benazir melirik kekanan.


"Jika kau ingin jalan-jalan, kau bisa memintaku untuk menemanimu. Jangan berjalan bersama pria lain selain suamimu. Itu tidak pantas!"


"Apa?!"


Aku harus mengurus Arga secepatnya. Dia harus mendapatkan pelajaran karena sudah menipuku.


Pikiran putri Benazir sedang di tempat lain, sehingga dia tidak terlalu menghiraukan Pangeran Aslan.


"Aku harus pergi! Lepaskan aku!" Teriak Benazir ketika kakinya di ikat dengan selimut oleh Pangeran Aslan.


"Apa yang kau lakukan?"


"Agar kau tidak berkeliaran kemana-mana. Kita baru saja menikah. Dan sebaiknya kau berada dikamar ini untuk beberapa hari," kata Pangeran Aslan.


Apa? Jika aku terus berada disini, lalu bagaimana aku bisa kabur dari istana ini?


Pangeran Aslan duduk sambil membaca buku-buku politik kerajaan dan membiarkan Benazir tetap terikat di atas tempat tidur.


"Aku haus...." kata Benazir berusaha mengelabui suaminya.


"Kau tetap disini. Aku akan keluar mengambilkan nya untukmu," Pangeran Aslan lalu keluar dan tidak lama lagi kembali dengan minuman segar untuk Benazir.


"Lepaskan ikatanku. Aku janji aku takkan kemana-mana. Aku merasa seluruh tubuhku sakit jika kau mengikatku seperti ini,"


"Baiklah. Kau harus tetap disini. Akan aku lepaskan ikatan mu...."


Glek.


Benazir segera meminum isi dari gelas itu hingga tak tersisa setetes pun. Pangeran Aslan menggelengkan kepalanya melihat Benazir minum dengan cepat.


"Kau bisa baca buku dengan tenang. Aku tidak akan mengganggumu," Benazir lalu duduk diam seperti seekor kucing yang manis.


Pangeran Aslan kembali ke tepat duduknya. Sesekali dia mencuri pandang pada Benazir yang diam di atas tempat tidur.


tok tok tok.


"Pangeran....Ratu memanggil anda..." kata seorang pelayan penjaga pintu.


"Baiklah,"


Pangeran Aslan lalu merapikan buku yang baru saja dia baca dan melangkah ke luar kamar.


Aku akan keluar dari sini ketika dia bertemu dengan Ratu Safiya.


Benazir keluar mengendap-endap, setelah yakin jika Pangeran Aslan tidak kembali dengan cepat, maka dia menuju ke dapur terlebih dahulu.

__ADS_1


Namun tiba-tiba, seseorang berpakaian hitam membekap mulutnya dan menyeretnya keluar dari dapur. Benazir meronta dan berusaha berteriak, namun tangan itu sangat kuat menutup mulutnya, hingga suaranya hanya tersekat di tenggorokan.


"Siapa kau!?"


Benazir berusaha berteriak.


"Jangan banyak bicara! Ikut denganku," pisau tajam menempel di leher Benazir. Jika dia bergerak sedikit saja pasti kulit dilehernya akan terluka.


"Almira!?" Benazir tetkejut ketika melihat dari sebuah kaca jika yang menyekapnya adalah Almira.


"Lepaskan aku! Apa yang kamu lakukan?"


"Menyakiti dirimu lalu membunuhmu..."


"Tidak! Kita tidak punya masalah apapun. Kenapa kau ingin membunuhku?"


"Apa kau bilang? Tidak punya masalah. kau adalah masalah terbesarku! Harusnya aku yang menjadi istri Pangeran Aslan. Tapi kau malah menjadi istrinya sekarang. Rasakan ini...."


"Aaaaaa" Almira menjambak rambut Benazir dengan keras hingga dia kesakitan.


"Lepaskan! Jika Pangeran Aslan tahu, kau akan di penjara!"


"Hahaha. Penjara? Aku bahkan bisa lolos dari dalam penjara dan tidak ada yang mengetahuinya. Kenapa aku harus takut dengan penjara."


"Lepaskan! Biarkan aku pergi!"


"Tidak! Kau akan disini. Dan aku akan menggantikan posisimu menjadi istri pangeran Aslan.


"Lihat apa yang kubawa? Gunting? Ya. Aku akan mencukur rambut mu...biar kau tidak cantik lagi dan pangeran tidak mengenalimu ketika kau sudah tiada, dia bahkan tidak akan mengangisimu"


"Jangan lakukan itu. Aku bilang menjauh dariku!"


"Lawan aku jika kau bisa!" tantang Almira dengan mata tajam penuh kebencian.


"Tolong! Pangeran! Tolong aku..."


Arga mendengar semua itu. Arga segera mencari suara yang baru saja dia dengar.


Dan dia melihat sebuah anting terjatuh. Arga memungut anting itu.


"Ini...milik siapa anting ini?"


Tiba-tiba, Pangeran Aslan datang dan melihat Arga sedang berdiri memegang sebuah anting.


"Pangeran...." Arga mengangguk hormat.


"Apa yang kau pegang itu?" tanya Pangeran Aslan ketika melihat Arga memegang sesuatu.


"Hamba menemukan satu anting dilantai..."


"Biar aku lihat," Pangeran melihat anting itu dan setelah mengingat-ingat, dia segera sadar jika melihat Benazir memakai anting itu.


"Ini milik Benazir..." kata Pangeran Aslan.

__ADS_1


"Ohh, kalau begitu anda bisa memberikannya padanya," Arga memberikan anting itu pada Pangeran Aslan.


"Tapi dimana kau menemukan anting ini?"


"Disini pangeran..."


"Aku akan kekamar. Dan akan memberikan anting miliknya,"


Arga menunduk hormat dan mencari suara yang tadi minta tolong. Arga berjalan perlahan dan tiba disebuah ruangan, dia melihat satu lagi anting terjatuh.


"Ini anting yang sama,"


"Apakah Benazir sedang dalam bahaya?"


Arga lalu berjalan mengendap dan instingnya kuat, dia menemukan dimana Benazir disekap. Namun dia terkejut ketika melihat seorang pelayan biasa berani menodongkan pisau dileher Benazir.


Dari jarak empat meter, Arga mengambil pisau dan akan melemparkannya pada pelayan itu.


Slingggh! Pisau melayang dan menancap di punggung pelayan itu.


Sang pelayan menoleh dan berusaha kabur setelah terluka.


"Arga...tolong aku....aku sesak nafas...." kata Benazir ketika mulutnya di ikat dengan kain yang sangat kuat.


"Tapi pelayan itu..." Arga akan mengejar pelayan itu namun Putri Benazir meminta pertolongan darinya untuk segera melepaskan ikatan di mulutnya.


"Dia...dia bukan pelayan biasa. Dia...dia Almira..."


"Apa?" Arga terkejut ketika Putri Benazir mengatakan jika pelayan itu adalah Almira.


Ya. Masuk akal. Siapa lagi yang berani melakukan tindakan kejam seperti ini selain dirinya.


Arga lalu memapah Putri Benazir. Namun dipintu, Ratu Safiya menatap tajam pada keduanya dan beberapa prajurit di perintahkan untuk menangkap Arga dan Benazir.


"Tangkap mereka berdua!" Perintah Ratu Safiya.


"Ada apa ini? Apa yang kalian lakukan?" Benazir nampak terkejut, begitu juga dengan Arga.


"Maafkan kami. Kami hanya menjalankan perintah Ratu Safiya." kata prajurit yang diperintahkan untuk menangkap mereka berdua.


Apa yang terjadi? Kenapa kami ditangkap?


Arga dan Benazir saling berpandangan. Pangeran Aslan juga berdiri diam ketika melihat istrinya dibawa oleh para Prajurit bersama panglima Arga.


"Aku tidak menduga mereka berdua berkhianat," kata Ratu Almira.


Dan saat ini, Almira sang penjilat sedang di obati.


Ketika melarikan diri, dia tertangkap oleh Ratu Safiya karena bertabrakan. Dan karena tidak ingin mati sendirian, dia membuka kedok Benazir dan Arga yang bekerja sama untuk membunuh Tuan Ahmet dan juga merebut tahta.


Demi menyelamatkan diri, Almira juga mengatakan siapa Arga yang sebenarnya. Dia juga tahu, siapa Benazir yang sebenarnya dan apa tujuannya datang kemari.


Almira memang wanita yang cerdik namun jahat. Dia memegang kartu lawan yang dalam masa sulit bisa dia gunakan untuk menyelamatkan diri.

__ADS_1


__ADS_2