
Pangeran Aslan membuka matanya dan mencari istrinya.
"Benazir...." bisiknya ketika dia sudah mulai sembuh dari lukanya.
Almira mendekat dan duduk didekatnya.
"Kau..." Pangeran nampak terkejut karena ada Almira di dekatnya.
"Dia akan kembali menjadi pelayan pribadimu," sahut Ratu Safiya yang baru saja masuk dan mendengar putranya menyebut nama Benazir.
"Dimana Benazir? Bagaimana keadaan nya? Setelah kejadian malam pemberontakan itu, apakah Benazir baik-baik saja?" Pangeran Aslan perlahan akan duduk. Almira dengan cepat membantunya.
"Dia melarikan diri. Dia tidak ada di istana ini lagi. Ibu sudah mencarinya ke segala penjuru istana. Tapi tidak menemukan dirinya," kata Ratu Safiya dengan sangat menyesal karena tidak bisa menangkap Benazir dan kembali mengurungnya dalam penjara.
"Semua ini kesalahan ku. Jika saja aku tidak menahannya dan mencurigai nya sebagai mata-mata, dia pasti masih disini?"
"Ada apa denganmu Pangeran? Bukankah kau membenci gadis asing itu?"
"Tidak ibu. Sekarang aku mulai merindukan kehadirannya. Ibu...aku mohon...cari Benazir untukku. Mungkin saja dia sedang mengandung anakku,"
"Apa?"
"Bagaimana kau tahu?"
__ADS_1
"Entah bagaimana hatiku mengatakan jika Benazir sedang hamil...."
"Kurang ajar! Jadi dia membaca cucuku pergi dari istana ini? Mungkinkah dia tahu jika dia hamil lalu kabur dari istana ini?" Ratu Safiya sangat terkejut.
"Ibu...dia pasti ada disekitar sini. Bawa kembali Benazir padaku. Dia buka seorang mata-mata," Pangeran tertunduk dengan sedih dan menyesali sikapnya selama ini pada istrinya itu yang selalu penuh dengan kecurigaan.
"Tidak! Semua jalan rahasia sudah di hancurkan. Aku sangat yakin dia keluar dari istana ini melewati jalan rahasia. Meskipun ingin kembali, dia tetap tidak bisa masuk istana ini,"
"Kenapa? Kenapa tidak bisa ibu?" Pangeran Aslan kebingungan.
"Karena dia adalah putri dari Zeinep. Wanita yang menjadi penyebab penderitaan ku selama bertahun-tahun. Wanita yang di cintai oleh ayahmu, itulah sebabnya dia tidak bisa kembali kemari,"
"Benazir....jadi aku akan kehilangan dia untuk selamanya?"
"Tidak ibu! Aku tidak akan menikah! Aku akan menunggunya datang,"
Almira mengepalkan tangannya dan menatap Pangeran Aslan dengan hati yang tercabik.
"Kalian pergilah, aku ingin sendiri saat ini. Ibu, aku mohon tinggalkan aku sendiri..." kata Pangeran Aslan dengan sedih karena dia akan kehilangan Benazir untuk selamanya.
*
*
__ADS_1
Ditempat lain.
Halil duduk disamping Benazir dan menyuapinya makan.
"Sudah...aku tidak bisa makan lagi...." kata Benazir beralasan. Dia tidak mau tubuhnya begitu cepat besar karena sahabat nya terus membuatnya makan dalam porsi banyak.
"Kau makan untuk dua orang. Kau harus menambah porsimu dua kali lipat,"
Halil sangat perhatian pada Benazir. Dia diam-diam memang menyukainya. Dan karena alasan cinta itulah, dia berani mempertaruhkan nyawanya demi orang yang dia cintai.
Halil terus merayu Benazir agar dia menghabiskan porsi makannya.
"Halil, aku baru saja hamil. Prosesnya masih lama. Jika badanku sangat gemuk di awal kehamilan, apa jadinya nanti ketika aku melahirkan?"
"Kau dan bayimu akan sehat dan kuat. Kau ibu yang berani dan kuat. Maka habiskan makanannya, biar aku suapin..."
Benazir akhirnya membuka mulutnya dan saat itu mata mereka saling bertatapan.
Bibir Benazir menyulam senyum begitu juga Halil. Beberapa detik ke kemudian mereka saling mengalihkan pandangannya.
Aku tidak boleh berharap lebih dari perhatiannya? Siapa aku ini? Aku sudah menikah dan sedang mengandung anak dari Pangeran Aslan, batin Benazir ketika menyadari terbiasa dan tersanjung dengan perhatian yang diberikan oleh sahabatnya.
Aku memang sudah lama mencintaimu. Bahkan meskipun kau pernah menjadi milik orang lain. Semua itu tidak mengubah rasa cintaku padamu. Aku menerima kau apa adanya. Cinta ini seperti air yang mengalir dengan lembut dan memberikan arti dalam kehidupan ini. Tanpa cinta didalam hatiku untukmu, mana mungkin aku bisa melakukan hal yang tidak mungkin aku lakukan menjadi mungkin. Masuk ke istana. Menyamar. Dan melakukan segalanya demi dirimu. bisik Halik dalam hati.
__ADS_1