
Ketika suasana pesta begitu meriah, semua orang menikmati jamuan dan makan makanan yang enak, Pangeran Edric turun ke bawah. Dia menemui Almira dalam tahanan.
Para penjaga sedang makan dan berbincang. Pangeran Edric lalu melumpuhkan para penjaga dengan pedangnya.
Sringggg!
Beberapa penjaga tergeletak didekat makanan mereka, dan tidak bergerak lagi. Pangeran Edric melompati mereka dan berjalan ke arah Almira yang kaget ketika mengetahui ada seseorang yang datang.
"Siapa kau?" Tanya Almira dalam gelap karena nyala obor tiba-tiba mati.
"Aku akan melepaskanmu dari sini. Ikut denganku dan jangan banyak bertanya!"
Almira membiarkan dirinya dibawa oleh pria itu yang tidak lain adalah pangeran Edric.
"Pangeran....kau...." Almira terkejut ketika sebuah pintu rahasia tiba-tiba menuju ke kamar pangeran Edric.
"Ya, aku melepaskanmu dari ancaman hukuman gantung yang akan diberikan oleh Ratu Safiya," kata Pangeran Edric menatap Almira yang baru menyadari jika yang menyelamatkan dirinya adalah pangeran Edric.
"Pasti ada syaratnya...." tebak Almira dan membuat pangeran Edric tersenyum.
"Tentu saja. Semua ini ada imbalannya. Kau akan menjadi sekutuku untuk sebuah tujuan...."
"Kau ingin merebut tahta Ratu Safiya?" tanya Almira.
Sesaat Pangeran Edric diam saja.
"Sudah kuduga...kau juga menginginkan tahta itu. Baiklah. Aku bersedia bekerja sama denganmu," kata Almira tanpa menunggu jawaban dari Pangeran Edric.
"Tetap di kamarku. Kau akan diam di kamar rahasia ini. Aku yang akan datang menemuimu," kata Pangeran Edric lalu keluar dan berbaur dalam pesta lagi.
Pesta telah selesai.
Benazir bersama Pangeran Aslan akan menghabiskan malam bersama setelah resmi menjadi suami istri.
Pangeran mendekati Benazir yang duduk diatas ranjang.
Kau milikku malam ini, gumam Pangeran Aslan dan telah melupakan kebencian untuk sesaat akibat terpesona oleh kecantikan Benazir dan gelora yang dia tahan sejak siang tadi selama prosesi pernikahan.
Seorang pelayan masuk dan memberikan susu untuk keduanya.
Setelah menaruh susu itu sang pelayan keluar dari kamar sang pangeran. Ratu Safiya menemui pelayan itu dan bertanya padanya.
"Apakah kau sudah memberikan susu itu?"
__ADS_1
"Sudah Ratu..."
"Mereka meminumnya?"
"Hamba langsung keluar Ratu setelah menaruh minuman itu dimeja,"
"Baiklah. Kau boleh pergi," Ratu Safiya tersenyum tipis.
Malam ini kuda akan berpacu dalam hasrat akibat bubuk dalam minuman itu.
Maafkan aku Pangeran, aku terpaksa melakukan semua ini. Aku tidak bisa menunggu lama kau memberikan keturunan untuk kerajaan. Jika selir itu lebih dulu mendapatkan cucu, maka aku tidak bisa menerimanya. Pangeran Edric juga tidak bisa diremehkan. Dia bisa saja setiap saat memberontak padaku.
Ratu Safiya lalu meninggalkan kamar Pangeran Aslan. Dia segera ke kamarnya.
"Benazir, minumlah susu ini. Kau pasti lelah setelah seharian menemui para tamu," kata Pangeran Aslan memberikan susu pada Benazir.
Lebih baik aku segera minum susu dan tidur. Aku tidak ingin dia menyentuhku.
Batin Benazir dalam hati dan segera menenggak minuman itu hingga habis.
Setelah minum, kepalanya berputar dan menatap wajah pangeran Aslan dengan konsep yang berbeda.
Wajahnya terlihat manis dan tampan juga sangat menggairahkan. Benazir mengucek matanya sekali lagi, dan lagi-lagi wajah tampan pangeran Aslan terlihat sangat mempesona dan ingin rasanya dia memeluk tubuhnya yang kekar.
Cupppp!
"Tunggu aku minum susu dulu..." kata Pangeran Aslan ketika tiba-tiba Benazir mencium pipinya.
"Em....kau juga gerah bukan. Biar aku bantu kau membuka bajumu?" kata Benazir sudah dalam kendali obat perangsang yang di berikan ratu Safiya dalam susu hangat itu.
"Ehm...baiklah... sepertinya kau sudah tidak sabar untuk malam ini...." kata Pangeran Aslan berdiri dan membiarkan Benazir melepaskan bajunya satu persatu.
Benazir berputar mengelilingi Pangeran Aslan dengan setengah baju yang terlepas dari tubuhnya.
Tiba-tiba dia memeluk Pangeran Aslan dan mengecup leher dan membuat Pangeran Aslan juga mengimbanginya dalam pengaruh obat yang sama.
Mereka terus bergerak dan saling menyentuh satu sama lainnya. Terus menuntut ke arah yang lebih intens.
Suara Benazir sudah sangat menuntut agar Pangeran Aslan memberikan haknya.
"Baiklah, sekarang sudah saatnya. Aku sudah tidak tahan lagi," kata Pangeran Aslan dan segera melakukannya. Mereka menyatu dalam panasnya hasrat malam pertama.
Benazir berulang kali menuntut haknya hingga Pangeran Aslan begitu senang dan tak percaya pada pendengaran nya ketika Benazir berulang kali berbisik ditelinganya.
__ADS_1
"Enak bukan?"
"Hem...." hanya itu yang keluar dari bibir Benazir yang sedikit terbuka.
"Kau suka?"
"Hem...."
Mata Benazir mulai terpejam karena kelelahan, begitu juga Pangeran Aslan.
Pagi hari, ketika terbangun mereka sangat terkejut.
Benazir yang pertama membuka matanya dan merasakan perih di antara kedua pahanya. Lalu merasakan jika dia kedinginan tanpa sehelai kain pun. Bahkan selimut itu telah merosot ke lantai.
"Apa yang terjadi?" Benazir segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Dan saat itu Pangeran Aslan juga terbangun dan kaget ketika dia juga tidak memakai sehelai bajupun.
"Apa yang terjadi?!" Pangeran Aslan juga lupa pada apa yang terjadi semalam.
"Kau sudah memperkosa diriku!" kata Benazir kesal.
"Apa kau bilang? Kau yang memperkosa aku! Lihat. Semua tanda merah ini. Kau yang membuatnya bukan?" kata Pangeran Aslan ketika melihat lehernya ada beberapa tanda merah bekas kecupan Benazir.
Hahhhh?!!
Benazir kaget melihat begitu banyak tanda merah di leher dan dada pangeran Aslan. Dalam hati dia berharap, ada orang lain yang menjebaknya dan bukan dia yang memperkosa pangeran Aslan.
"Kau diam kan? Tidak bisa menjawab? Teruslah berpura-pura. Kau sudah memperkosa aku dan membuat begitu banyak tanda? Tapi kau pura-pura jika kau adalah gadis lugu yang tidak tahu apa-apa,"
"Aku benar-benar tidak melakukan nya. Mungkin ada orang lain yang memperkosamu dan dia menjebakku..."
"Bagus. Teruslah bersandiwara. Bahkan setelah semua bukti di leherku ini kau tetap mengatakan jika itu bukan kau. Lihatlah pintu itu masih terkunci. Artinya hanya kita berdua diruangan ini. Dan aaaoooo sakit sekali!"
"Heh! Pangeran konyol! Aku yang sakit, kenapa kau yang mengeluh!" Kata Benazir ketika merasakan sakit di antara kedua pahanya.
"Punyaku juga sakit tahu! Kau sudah menggigitnya!" Kata Pangeran Aslan dan berjalan ke kamar mandi setelah mengambil baju yang berserakan dilantai.
"Apa kau bilang?" Benazir akan mengejarnya tapi segera sadar jika dia belum berbusana.
Akhirnya diapun tetap duduk dan menutupi tubuhnya dengan selimut itu.
Apa yang kulakukan? Bagaimana aku bisa melakukan semua ini? Tapi tidak ada orang lain di kamar ini selain kami berdua. Jadi...memang benar...kami telah melakukan malam pertama? Semua ini gara-gara Arga! Aku tidak akan mengampuninya! Awas kau Arga!"
__ADS_1
Benazir sangat kesal karena rencana Arga, dia menjadi korban dan menyerahkan kehormatannya pada musuhnya.