
Di aula istana, Ratu Safiya duduk di atas tahta kerajaan. Hamza berdiri di dekatnya.
Ada pangeran Aslan duduk didalamnya, Ada Arga yang sejak tadi ketar-ketir dan gelisah. Ada Pangeran Edric juga yang duduk disamping Pangeran Aslan.
Seorang pelayan yang mengatakan jika ada racun di baju Almira menjadi saksi. Almira di jaga ketat oleh para prajurit. Benazir masuk dengan langkah bimbang.
"Ada apa ini?" Benazir berbisik dalam hati. Dia tidak tahu jika Almira menjadi tertuduh telah membunuh sang Raja. Benazir sedang sibuk dengan urusan lainnya, yaitu mencari keberadaan kedua orang tuanya. Benazir yakin, kedua orang tuanya pasti disekap disalah satu ruangan didalam istana ini. Namun istana ini sangatlah luas. Dia tidak tahu di bagian mana kedua orang tuanya berada.
Benazir berdebar. Dalam hati dia juga khawatir akan keselamatan dirinya sendiri.
"Baiklah. Sidang akan segera dimulai. Kau..katakan apa yang kau temukan di baju Almira," kata Sang Ratu menatap pada pelayan yang bekerja di binatu.
"Baik Yang Mulia. Hamba akan mengatakan dengan sejujurnya tanpa ada yang hamba tutupi,"
"Jelaskan pada semua yang hadir disini. Jika kau berbohong, kau akan di hukum gantung," kata Sang Ratu pada pelayan yang gemetar sejak tadi.
Selain takut dengan Ratu, pelayan juga sangat takut pada Almira. Almira adalah gadis yang sangat licik dan kadang berdarah dingin. Dia tidak segan melenyapkan orang lain demi keselamatannya.
Sang pelayan lalu menjelaskan pada semua yang hadir tentang apa yang dia lihat dan temukan di baju Almira.
Semua orang terkejut dan menatap Almira dengan serempak. Begitu juga para pejabat di istana. Mereka tidak menduga seorang pelayan tingkat rendah bisa berani melakukan hal sebesar ini.
Pasti ada orang lain yang mengendalikannya, itu yang dipikirkan semua orang.
"Benazir telah dibebaskan dari segala tuduhan dan nama baiknya akan segera di kembalikan dan di pulihkan. Dia tidak terlibat dalam pelenyapan raja Ahmet. Dan sebagai gantinya karena dia telah dituduh tanpa bukti yang kuat dan nama baiknya tercoreng, sekarang dia akan menjadi pelayan pribadi Pangeran Aslan.
"Apa!?" Almira menatap tajam pada Ratu Safiya juga pada pelayan yang sudah membuatnya menjadi tertuduh.
"Kurang ajar! Aku pasti akan membunuhmu. Karena kau, aku jauh dari pangeranku," Almira mengepalkan tangannya dan menatap Arga dengan isyarat tajam.
Arga mengangguk dan memberi isyarat untuk tetap tenang.
Pangeran Aslan terkejut karena Benazir sekarang akan menjadi pelayan pribadinya. Padahal baginya dia adalah gadis asing. Dan sampai saat ini merasa jika Benazir adalah seorang gadis yang licik. Di hatinya dia lebih mempercayai Almira daripada Benazir.
"Ibu, bisa kita bicara empat mata?"
Almira segera di bawa keruang tahanan. Dan semua orang meninggalkan aula itu. Kecuali Pangeran Aslan dan Ratu Safiya.
__ADS_1
Sampai diruang tahanan, Almira mengamuk dan menghentakkan tangan serta kakinya dengan sangat kesal.
"Tidak akan aku ampuni kalian yang sudah berani berbuat seperti ini padaku!"
Sementara Arga sedang menyusun siasat untuk menyelamatkan Almira dari hukuman gantung.
Pangeran Aslan menatap ibunya dengan ekspresi aneh.
"Katakan, ada apa pangeran? Apakah kau keberatan dengan keputusan ku tadi?"
"Tentu saja ibu. Saat racun ditemukan dikamar Benazir kau mengatakan bukan berarti dia pembunuhnya. Begitu juga ketika racun ditemukan di baju Almira. Bagaimana jika orang lain yang menorehkannya dan menjebaknya. Hamba tidak bisa menerima keputusan sidang ini. Bagaimanapun Almira adalah pelayan setia hamba. Dan Benazir adalah orang asing yang baru saja datang. Bagaimana Ibu bisa mempercayainya?"
Pangeran tidak mau dekat dengan Benazir. Meskipun ada getaran cinta karena kecantikan Benazir, namun dia yakin jika Benazir terlibat dalam pelenyapan ayahnya.
Sang ibu menatap putranya dengan lekat.
"Baiklah. Keputusan untuk Almira akan ditunda. Tapi dia tetap akan didalam ruang tahanan sampai semua ini jelas,"
"Baik ibu, jika begitu, hamba permisi," Pangeran Aslan segera keluar dan dipintu berdiri Hamza yang mengangguk hormat padanya.
"Apa ada masalah Ratu?" tanya Hamza pada Ratu Safiya.
"Seperti yang kau lihat, putraku keberatan dengan keputusan dari sidang ini. Dia tidak percaya jika Almira membunuh ayahnya. Kita harus mencari bukti yang lebih kuat lagi Hamza, tentang keterlibatan Almira dalam pelenyapan sang Raja,"
"Mungkin ada orang yang sangat berpengaruh di balik semua kejadian ini Ratu,"
"Sedang aku selidiki siapa dia,"
Ratu nampak berfikir sejenak dan keluar dari ruangan itu.
Benazir sudah memindahkan semua barangnya di samping kamar pangeran Aslan. Sima yang membantunya berkemas. Karena jika menjadi pelayan setia pangeran Aslan mereka harus tidur disamping kamar Pangeran agar selalu bisa dipanggil setiap saat.
Pangeran masuk kedalam kamarnya dan tidak lama kemudian Benazir juga masuk kedalam kamar Pangeran Aslan.
Benazir mengangguk hormat pada Pangeran Aslan.
"Aku tidak memanggilmu datang. Kenapa datang ke kamarku?"
__ADS_1
"Apakah ada yang pangeran butuhkan. Hamba akan mengambilnya untuk pangeran," kata Benazir menuruti apa yang baru saja diajarkan oleh Sima cara melayani Pangeran Aslan.
"Aku tidak butuh apapun. Pergilah dari kamarku dan jangan datang jika tidak aku panggil,"
"Tapi ..."
"Pergilah...aku ingin sendiri...." Pangeran Aslan memalingkan tubuhnya dan memunggungi Benazir.
Kecantikannya memang menggetarkan semua hati para pria. Matanya yang indah seakan melenyapkan siapapun yang memandangnya.
Namun pangeran terlanjur di hasut oleh Almira dan mencurigai Benazir sebagai mata-mata. Getaran cinta didalam hatinya dia tepikan di samudra sejauh mungkin.
Benazir mengangguk hormat dan keluar dari kamar Pangeran Aslan dengan kecewa. Penolakan yang dilakukan sang Pangeran entah kenapa terasa sangat menyakitkan hatinya.
Apakah karena dia begitu tampan hingga membuat Benazir juga bergetar hatinya?
Sementara itu, Arga menyelinap masuk ke ruang tahanan dimana Almira ditahan.
"Sttttt...jangan teriak," kata Arga ketika dia berhasil mengelabuhi para penjaga.
"Keluarkan aku dari sini. Aku tidak tahan berada diruangan yang gelap dan pengap ini,"
"Bersabarlah. Kau harus tahu, kau telah diselamatkan boleh Pangeran Aslan. Dia mbuat sang Ratu menunda hukuman untukmu. Dan hal itu bisa kita manfaatkan untuk menyelamatkan dirimu," kata Arga.
"Cepat lakukan sesuatu. Aku ingin segera bebas dari sini" kata Almira dengan wajah berminyak dan berkeringat.
"Hanya ini yang ingin aku katakan padamu. Selanjutnya tunggu kabar dariku. Aku akan menyelamatkan dirimu..."
"Ya...kau memang harus menyelamatkan diriku. Jika tidak...aku juga akan membuat kau dihukum sama seperti dirimu,"
"Heh, gadis konyol! Aku berusaha menyelamatkan dirimu kau malah balik mengancamku?"
"Terserah apa katamu. Kau harus segera mengeluarkan aku dari sini,"
"Sudah ku bilang sabar lah. Aku akan mencari jalan keluarnya,"
Arga lalu meninggalkan Almira yang mulai berkaca-kaca matanya karena takut dan merasakan seluruh tubuhnya pegal-pegal.
__ADS_1