Menikah Demi Balas Dendam

Menikah Demi Balas Dendam
Bab 14 Bertemu orang tuanya


__ADS_3

Ketika Ratu Safiya mengetahui jika Almira lepas dari tahanan, maka dia sangat marah dan menyuruh Arga untuk mengusut semua ini.


"Ampun Ratu, tidak ada saksi yang melihat siapa yang sudah membebaskan Pelayan Almira,"


"Arga! Bagaimana kau bisa lengah?" Ratu Safiya menatap tajam Panglima Arga.


"Hamba berada di pesta sepanjang hari Ratu,"


"Perkuat pertahanan! Cari siapa yang sudah membebaskan Almira! Aku yakin dia pasti belum jauh!"


"Baik Ratu..." Arga segera keluar dari ruangan itu.


Ketika itu, Benazir dan Pangeran Aslan juga masuk kedalam.


"Hamba mendengar jika Almira lepas dari tahanan Ratu. Siapa yang sudah melepaskanya?" Pangeran bertanya dan ada Benazir di sampingnya.


"Seseorang sudah berkhianat kepadaku. Ketika ada pesta di istana ku, pengkhianat itu melepaskan tahanan ku," kata Ratu Safiya.


"Arga! Bagaimana ini bisa terjadi?!" Pangeran menatap pada Panglima Arga.


"Hamba berada di pesta sepanjang hari Pangeran. Para prajurit yang menjaganya semua dilumpuhkan. Saya rasa dia bukanlah orang biasa. Dia tahu beberapa jalan rahasia sehingga bisa masuk ke penjara dan keluar tanpa ada yang tahu," kata Arga dan merasa kesal ketika semua mata menyalahkan dirinya.


Jika saja aku adalah Raja. Tidak akan ada yang berani menatapku seperti ini.


Gumam panglima Arga.


"Sebaiknya kau segera selidiki kasus ini Raga. Artinya di istana ini ada penyusup. Dan itu artinya keamanan kita harus diperkuat lagi. Kita tidak tahu jika penyusup itu tiba-tiba datang ke dapur istana dan memasukkan racun di setiap makanan. Arga periksa semua pelayan dan katakan pada mereka agar melaporkan jika ada orang asing yang mereka curigai. Ini sangat berbahaya," kata Pangeran Aslan pada Arga.


"Benar yang dikatakan pangeranku. Ini harus segera di selidiki. Istana ini harus bebas dari penyusup. Raja Ahmed bahkan bisa meninggal secara misterius. Siapapun yang kau curigai segera laporkan padaku!" kata Ratu Safiya pada Panglima Arga.


Panglima segera pamit dan berjalan keluar dari ruangan itu. Benazir mengikuti dengan matanya. Ketika Ratu Safiya berbicara pada Pangeran Aslan maka Benazir menyelinap keluar dan menegur Arga diluar ruangan.


"Ikut denganku!" kata Putri Benazir pada Arga.


Mereka lalu berjalan ke tempat yang sepi.


"Apakah kau terlibat dengan pembebasan Almira? Gadis itu sangat licik. Dia sangat berbahaya,"


"Kali ini tidak. Ada orang lain yang sudah membebaskan dirinya,"


"Siapa yang kau curigai?" tanya Benazir.


"Belum ada. Akan aku selidiki hari ini juga. Kenapa kau menemuiku? Ini sangat berbahaya jika ada yang melihatnya." kata Arga.


Awalnya Benazir ingin menegur Arga karena sudah membuatnya tidur dan menyatu dengan Pangeran Aslan.

__ADS_1


Tapi niat itu dia urungkan secara tiba-tiba. Dia juga punya rencana lain kali ini. Dia tidak bisa terus mengandalkan Arga, diapun harus hati-hati dengan dirinya. Bagaimanapun, dia adalah pria licik yang tidak bisa dijadikan Tan setia.


"Kalau begitu, pergilah. Aku akan kembali ke istana," kata Benazir dan segera kembali ke sisi Pangeran Aslan.


Arga menatap kepergian Benazir dengan menatap nya sangat lama.


Apa yang ingin dia katakan. Aku merasa dia ingin m nyatakan sesuatu tadi? batin Arga.


Benazir menghadap Ratu Safiya dan duduk disamping Pangeran Aslan.


"Kalian terlihat sangat cerah hari ini. Tidur kalian pasti sangat nyenyak," kata Ratu Safiya menatap keduanya.


"Em...benar Ibu,kami tidur dengan nyenyak malam ini," kata Pangeran Aslan.


"Aku menunggu kabar baik dari kalian...." kata Ratu Safiya.


Benazir tersenyum kecut dan menatap Ratu Safiya. Sementara Pangeran Aslan menatap wajah istrinya dan teringat akan pertarungan semalam yang sangat panas dan membuatnya tersenyum manis.


Benazir keluar ketika Pangeran Aslan bertemu dengan Pangeran Edric yang baru saja masuk ketika mendengar ada tahanan yang lolos.


Benazir dipanggil oleh seorang pelayan yang mirip dengan teman dekatnya ketika di kotanya.


Benazir lalu mendekat.


"Ikut aku!" Kata pria yang mirip teman Benazir.


"Lihat tanda ini?" kata pria itu menunjukkan luka di tangannya. Dan Benazir sangat mengenali luka itu.


"Halil? Temanku? Apakah kau benar adalah Halil?"


"Kau masih ragu setelah melihat tanda ini?"


"Ohh, akhirnya ada orang yang bisa aku percayai di istana ini. Bagaimana kau bisa masuk kemari?"


"Aku datang untuk membebaskanmu dari sini. Ikutlah denganku. Kita akan keluar lewat jalan rahasia. Aku juga menemukan orang tuamu. Mereka masih hidup,"


"Apa? Apakah kau tahu kenapa aku kemari? Aku ingin bertemu mereka?"


"Aku tahu segalanya. Aku sudah lama mengikutimu. Aku bergerak sendiri agar tidak ada yang mencurigai ku. Ketika ada pesta yang sangat besar untuk pernikahan mu. Saat itulah aku leluasa mencari kedua orang tuamu. Mereka ada di goa didekat hutan. Sekarang mereka sedang menunggumu,"


"Baiklah, ayo kita pergi...." kata Benazir dan tidak menghiraukan Pangeran Aslan dan juga Ratu Safiya.


Halil segera mengajak Benazir pergi lewat jalan rahasia yang berhasil di temukan dan menemui Kedua orang tua Benazir di tengah hutan. Mereka sudah lama menunggu saat yang tepat untuk menemui putrinya.


Sampainya ditengah hutan. Dua orang sedang menunggu sambil berbincang. Mereka adalah kedua orang tua Benazir.

__ADS_1


"Ayah.....ibu...." Benazir memeluk mereka berdua.


"Nak....kami sangat cemas memikirkanmu..."


"Aku datang untuk menyelamatkan kalian....tapi Arga mengatakan kalian sudah tiada...." kata Benazir menangis tersedu-sedu.


"Jangan percaya pada pria itu. Dia hanya memanfaatkanmu untuk kepentingannya sendiri," kata ibunya.


"Ibu..... bagaimana keadaanmu?"


"Kami baik-baik saja nak. Berkat Halil kami bisa lepas dari goa itu,"


"Sebaiknya mari kita segera pergi dari sini. Ada tempat yang aman setelah sampai ke tanah seberang. Kalian akan aman bersama pamanku," kata Halil yang pamannya juga orang terpandang yang kaya raya. Dia juga punya banyak anak buah yang bisa diandalkan.


"Mari ayah...ibu....kita harus pergi. Disini sangat berbahaya. Jika tertangkap lagi, maka mereka pasti tidak akan mengampuni kita," Benazir menggandeng ibunya dan meninggalkan hutan itu menuju tempat yang aman.


Untunglah, begitu banyak jalan rahasia yang ada di istana itu yang di bangun oleh Pangeran Aslan secara diam-diam. Juga pangeran Edric secara diam-diam. Dan itu yang dimanfaatkan oleh Halil.


Kedua pangeran itu diam-diam mempersiapkan segala kemungkinan hingga membuat mereka membuat jalan evakuasi untuk menyelamatkan diri.


"Kau yakin tidak ada yang mengikuti kita Halil? Aku takut sekali jika sampai tertangkap Ratu Safiya. Dia pasti akan membunuh kita semua," kata Benazir merasa gelisah ketika melewati sebuah lorong rahasia milik Pangeran Edric.


"Siapa disana!" Tiba-tiba ada suara dari arah yang berbeda. Rupanya itu Pangeran Edric dan pasukannya. Mereka sedang membicarakan perlawanan terhadap Ratu Safiya.


Dan melihat Benazir akan meninggalkan istana, maka dia marah. Dia ingin gadis itu menjadi miliknya setelah tahta berhasil dia rebut dari tangan Ratu Safiya.


"Halil. Bawalah pergi kedua orang tuaku. Aku mohon. Biarkan aku yang kembali ke istana. Nanti jika aku berhasil keluar, aku akan mencarimu..." kata Benazir lalu memeluk kedua orang tuannya.


"Tapi nak...."


"Ibu, tolonglah. Aku mohon. Kalian pergilah bersama Halil. Aku akan kembali ke istana," kata Benazir dan melangkah mundur.


"Ayo kita segera pergi dari sini. Sebelum mereka menangkap kita," kata Halil pada kedua orang tua Benazir.


"Nak...jaga dirimu baik-baik..."


"Iya ibu. Aku akan baik-baik saja," kata Benazir lalu berbalik dan mendekati para pasukan serta Pangeran Edric.


"Putri? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Pangeran Edric.


"Aku....aku....ingin keluar dari istana ini..."


"Apa!?"


Benazir terpaksa mengadu domba Pangeran Edric dan Pangeran Aslan agar dirinya aman saat ini.

__ADS_1


"Pangeran Aslan. Dia....dia sangat kasar padaku...."


__ADS_2