
Benazir tertunduk dengan sedih. Dia tidak mau mengabiskan hidupnya didalam istana ini. Bagaimanapun indahnya hidup didalam istana. Dia lebih suka menjadi rakyat biasa dan hidup dengan bebas.
"Sima! Katakan...dimana jalan rahasia dari istana ini? Akan aku berikan kau mutiara dari Raja Ahmet jika kau mau mengatakanya," kata Benazir memegang tangan Sima.
"Tidak putri. Aku tidak tahu jalan keluar dari istana ini. Semua pintu dijaga ketat oleh para prajurit. Tidak akan bisa keluar tanpa ketahuan," kata Sima menggelengkan kepalanya.
"Sima, bantulah aku. Katakan siapa yang bisa membawaku keluar dari istana ini?" tanya Benazir menatap dalam mata wanita setengah baya yang sudah lama bekerja dengan Tuan Ahmet.
"Ada satu orang yang bisa membantumu...." kata Sima.
"Siapa? Katakan?"
"Arga.Hanya dia yang bisa membantumu keluar dari sini..."
"Astaga Sima. Tidak mungkin aku minta bantuannya. Dia yang menculik dan membawaku kemari. Mana mungkin dia akan membantuku keluar dari sini?" Benazir memegang kepalanya dan mondar-mandir di hadapan Sima.
"Kau belum menemuinya. Temui dia dan buatlah kesepakatan," kata Sima memberikan ide pada Benazir.
"Kesepakatan? Lagi-lagi kesepakatan? Kenapa tidak ada yang ikhlas membantu? Kenapa harus ada kesepakatan?"
"Kesepakatan dibutuhkan untuk tetap selamat putri,"
"Kau yakin? Aku harus membuat kesepakatan lagi?"
"Tentu saja...." Sima tersenyum pada Benazir yang menatapnya dengan ragu.
__ADS_1
*
*
Akhirnya Benazir datang menemui Arga dan mengatakan jika dia tidak mau hidup dan menua di istana ini.
"Hem..."
Arga tersenyum licik.
Arga mendapatkan kembali pionnya yang dia bawa dari tanah seberang bernama Benazir. Kini Benazir akan bekerja sama lagi dengan dirinya setelah tahu jika kedua orang tuanya sudah tiada.
"Kau bilang mereka masih hidup. Tapi kenyataannya mereka sudah tiada," kata Benazir bingung mana yang harus dia percayai.
"Aku memang menyembunyikan mereka di istana ini. Tapi ketika ratu Safiya datang, di hari pemakaman Tuan Ahmet mereka sudah tidak ada di tempatnya. Aku melihat ada darah dimana-mana. Dan jasad mereka juga tidak ada. Mata-mata ku mengatakan jika Ratu Safiya yang sudah melenyapkan keduanya," kata Arga mengelabuhi Benazir.
Akal Benazir sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Apa yang dikatakan arga membuat dia kehilangan kendali akibat kemarahan didalam hatinya.
"Pikirkan lagi. Kau ingin pergi setelah mengetahui kedua orang tuamu di bunuh oleh Ratu Safiya? Kasihan sekali...orang tuamu pasti akan sedih dialam sana,"
"Cukup Arga! Hentikan!" Benazir tidak tahan jika mendengar jika orang tuanya sedih di alam sana.
"Baiklah. Apa yang bisa aku lakukan?"
"Menikahlah dengan Pangeran Aslan!" kata Arga.
__ADS_1
"Apa!? Setelah membawaku sebagai pelayan disini. Kau ingin aku menjadi istri pangeran Aslan. Tidak! Aku adalah gadis yang orang tuanya di bunuh secara keji oleh mereka. Bagaimana mungkin aku menjadi bagian dari mereka,"
"Kau ingin balas dendam bukan?"
"Ya...aku ingin balas dendam," kata Benazir.
"Jika kau menjadi istrinya, buatlah pengaruh yang besar. Lalu kau ambil semua bisnisnya. Setelah itu singkirkan Ratu Safiya, dan duduklah di singgasana," kata Arga pada Benazir.
"Tapi...."
"Jika kau lemah, maka siapa yang akan membalas dendam pada kematian kedua orang tuamu?"
"Baiklah...." Benazir lalu siap mengorbankan hidupnya demi balas dendam pada Ratu Safiya dan merebut tahta kerajaan.
Arga tersenyum simpul.
Sementara Almira yang berada didalam penjara sangat kesal karena Arga tidak kunjung datang menyelamatkan dirinya.
Bahkan sekarang dia mendengar jika Pangeran Aslan akan menikah dengan Benazir.
"Aku bersumpah! Pernikahan kalian tidak akan bahagia," umpat Almira penuh kemarahan tapi matanya juga berkaca-kaca karena itu adalah impiannya menjadi istri Pangeran Aslan.
Hari pernikahan dilangsungkan di dalam istana. Hanya beberapa orang penting yang diundang.
Arga melihat satu persatu orang yang datang dan mengingat wajah mereka.
__ADS_1
"Suatu saat nanti, kalian akan bekerja sama dengan diriku," kata Arga dalam hati.
"Jika sudah kutemukan peta penyimpanan berlian di istana ini, maka aku akan merebut kerajaan bisnis keluarga ini. Dan aku akan memberikannya pada ayahku," bisik Arga lirih.