Menikah Demi Balas Dendam

Menikah Demi Balas Dendam
Bab 17 Selidiki kamar mereka


__ADS_3

Ratu Safiya duduk diatas tahta dan di dampingi oleh putranya Pangeran Aslan. Pangeran Aslan juga sangat kecewa ketika tahu jati diri Benazir.


"Tidak kuduga kalian seorang mata-mata!" Kata Ratu Safiya dengan bengis menatap penuh kemarahan pada Benazir dan juga Arga.


Mereka berdua tertunduk dan diam saja. Mereka berpikir bagaimana menyelamatkan diri saat ini.


Pangeran Edric yang juga hadir disana punya pikiran yang berbeda dengan Ratu Safiya dan juga Pangeran Aslan.


Semua musuhmu adalah temanku, batin Pangeran Edric tersenyum licik.


"Kami menemukan botol racun di kamar Panglima Arga," kata seorang prajurit.


"Bawa kemari. Racun apa ini?"


"Itu adalah racun yang sama yang digunakan untuk membunuh Tuan Ahmet,"


Ah, sial! Aku lupa membuangnya. Aku pikir sisanya akan aku gunakan untuk membunuh Ratu Safiya. Aku justru tertangkap karena pelayan licik itu.


"Kau sudah menyelidiki semua ini Tabib?"


"Sudah, hamba sudah menyelidiki nya dan isinya sama dengan yang ada di baju Almira dan di tubuh Tuan Ahmet.


"Pantas saja hingga saat ini kita tidak menemukan pembunuh Raja Ahmet. Ternyata yang membunuh adalah panglima kesetiaan nya,"


Panglima Arga hanya tertunduk tapi otaknya berpikir keras.


"Apa!?" Benazir menatap Arga dan dia memang sudah menduga sejak awal. Arga ingin menguasai kerajaan.


Lalu kenapa aku juga sekarang terlibat? Apa kesalahanku?


"Sungguh kami tidak menduga. Panglima yang besar dan gagah. Menjadi kebanggaan istana. Tapi kau ternyata adalah musuh dalam selimut...." Ratu Safiya menggelengkan kepalanya.


"Bawa dia ke penjara! Dan tinggalkan gadis ini padaku!" Teriak Ratu Safiya pada beberapa prajurit.


Para Prajurit lalu membawa Panglima Arga kedalam sel tahanan.


Pangeran Aslan ikut mengawalnya dan memastikan jika Arga masuk kedalam sel tahanan dan tidak ada prajurit yang mengkhianati dirinya.


"Arga...aku sungguh tidak menduga itu kau!"


"Aku memang ingin merebut tahta dari ayahmu. Karena aku adalah anak dari pamanmu yang juga berhak atas istana ini, harta yang di pakai untuk membangun istana ini sebagian adalah milik ayahku," kata Arga menatap Pangeran Aslan.


"Apa?" Pangeran Aslan terkejut.


"Yah, kau benar aku memang berkhianat. Tapi aku tidak melakukan semua ini demi hakku. Hak ayahku yang dirampas oleh ayahmu," kata Arga menjelaskan pada Pangeran Aslan yang usianya lebih muda darinya.

__ADS_1


"Jadi kau juga adalah saudara ku?" Pangeran Aslan terkejut dengan kenyataan yang selama ini tidak dia ketahui.


"Lalu dimana paman?"


"Kau tidak perlu tahu dimana ayahku. Jika kau memang berbeda dari ayahmu. Maka serahkan separo harta milikmu pada ayahku. Maka itu baru namanya keadilan. Atau...kau juga sama serakahnya seperti ayahmu?"


"Tutup mulutmu Arga! Bagaimana aku percaya apa yang kau katakan adalah kebenaran? Mungkin kau sedang membuat siasat atau menipuku...seperti yang sudah kau lakukan..."


"Kau tanyakan pada ibumu. Atau kau bisa cari silsilah ayahmu. Kau akan menemukan nama ayahku ada disana, dia masih hidup hingga saat ini,"


Pangeran Aslan menatap Arga dengan dada gemuruh naik turun. Tanpa bicara lagi, Pangeran Aslan segera ke perpustakaan dan akan mencari silsilah keluarganya.


Dia mencari satu persatu buku lama silsilah keluarganya. Mencari dengan terburu-buru membuatnya melewatkan judul buku yang dia cari sekarang.


Namun untungnya ada buku yang jatuh ketika tadi dia terlewat membaca judulnya.


Bruuukkkk!


"Ini yang aku cari," kata Pangeran Aslan sambil memungut buku yang terbuka itu dilantai.


Ada beberapa foto ayahnya ketika masih kecil. Lalu foto seorang pria muda disampingnya.


Ada nama yang tertulis di bawah gambar pria itu. Namanya Ajnur.


"Jadi benar yang dikatakan Arga. Dia adalah pamanku? Tapi dimana dirinya? Kenapa tidak pernah datang menemui kami?" Gumam Pangeran Aslan.


Sebenarnya yang ingin mengambil hak tahta adalah Arga sendiri yang sangat keras kepala meskipun ayahnya sudah melarangnya.


Sang Ayah tidak ikut campur dalam urusan perebutan tahta itu. Begitu Arga tahu jika kakak ayahnya sangat sukses maka dia kesana untuk suatu tujuan yang hanya dirinya yang tahu. Dia juga menyimpan ambisi, sama seperti Tuan Ahmet.


Pangeran Aslan lalu kembali ke tahanan dan melihat Arga sedang tertidur.


Sebenarnya Arga tidak benar-benar tidur, dia sedang berpikir cara licik untuk mengelabuhi keluarga kerajaan dan melakukan siasat baru agar bisa bertahan dan di bebaskan.


"Dimana pamanku?"


"Untuk apa kau menanyakan? Kau juga akan membunuhnya? Aku tidak akan memberitahumu?"


Tentu saja Arga tidak akan memberi tahukan dimana ayahnya. Karena jika Pangeran Aslan bisa menemukannya, maka ceritanya akan berbeda. Ambisi Arga akan ketahuan olehnya. Kini dia bisa berlindung dari nama ayahnya dan hubungan ayahnya dengan Tuan Ahmet. Dan menggunakan hubungan itu sebagai alasan balas dendam.


"Aku ingin bertemu dengan pamanku,"


"Tidak perlu. Kita tidak ada hubungan apapun setelah apa yang terjadi dimasa lalu!" kata Arga yang tidak ingin Pangeran Aslan bertemu dengan ayahnya.


"Aku akan mencarinya," kata Pangeran Aslan melihat perubahan pada air muka Arga.

__ADS_1


"Jangan! Jangan mencarinya...biarkan dia hidup tenang...."


"Kenapa kau takut? Dia adalah pamanku. Aku harus membawanya kemari ke istanaku dan kami bisa hidup bersama sebagai keluarga..." kata Pangeran Aslan.


"Tidak! Kau tidak akan mencarinya! Jangan mencarinya,"


"Tapi kenapa kau ketakutan seperti itu? Kau bilang alasanmu berkhianat adalah hubungan masa lalu. Maka biar paman menjelaskan semuanya," kata Pangeran Aslan lalu pergi meninggalkan Arga yang tertunduk.


Sial! Aku tidak boleh membiarkan Pangeran Aslan bertemu dengan ayah. Ayah akan marah jika tahu aku seperti ini....kata Arga dalam hati.


*


*


Diruangan lain.


Benazir tertunduk ketika Ratu Safiya menceritakan masa lalunya dengan Tuan Ahmet.


Benazir sekarang tahu kisah lengkapnya dari Ratu Safiya. Sebelumnya dia tahu dari Sima.


"Jadi kau putri dari Zeinep?"


"Ya...itu nama ibuku...." kata Benazir tertunduk.


"Pantas saja aku kaget ketika tahu nama panjangmu Benazir Zeinep. Tapi aku sempat berfikir jika itu hanyalah kebetulan saja. Tapi ternyata kau adalah putri dari wanita yang aku benci selama ini,"


"Kenapa kau membenci ibuku? memangnya apa salahnya? Kau adalah istri dari Tuan Ahmet dan ibuku tidak ada sangkut pautnya dengan rumah tanggamu!"


"Tentu saja ada. Suamiku selalu saja memikirkan Zeinep. Dimana-mana dia selalu memikirkan gadis itu,"


"Itu adalah kesalahan suamimu. Dan bukan ibuku. Seandainya saja Tuan Ahmet berhati besar merelakan ibuku bersama pria lain. Maka tidak akan ada kisah seperti ini,"


"Sayangnya...suamiku sangat keras kepala dan terus saja membuatku menderita. Dan aku sebabnya aku sangat membenci ibumu. Dan juga.... dirimu...setelah tahu jika kau keturunan dari Zeinep maka melihatmu sama seperti melihat masa lalu yang pahit,"


"Kalau begitu, biarkan aku pergi dari sini. Kau tidak akan melihatku lagi setelah aku pergi dari istana ini," kata Benazir memohon.


"Tentu bukan itu rencanaku. Kau akan tetap disini sebagai tahanan. Dan ada yang bilang ibumu masih hidup bukan? Maka dia akan menderita ketika tahu kau menjadi tahanan ku,"


"Kau memang jahat. Kau jahat!"


"Aku tidak jahat. Tapi kalian yang sudah membuat aku menjadi jahat...." kata Ratu Safiya jika teringat akan masa lalunya yang menyakitkan hingga ketika dia menjadi buronan suaminya sendiri.


Benazir hanya tertunduk dengan sedih. Beberapa prajurit membawanya ke tahanan wanita. Tempatnya terpisah dari tahanan pria.


Didalam tahanan, dia pasrah akan nasibnya. Arga didalam penjara. Dan temannya sudah meninggalkan istana. Siapa yang bisa menolongnya kini? Tidak ada yang bisa membebaskan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2