Menikah Demi Balas Dendam

Menikah Demi Balas Dendam
Bab 6 Kambing hitam


__ADS_3

Nampak Pangeran Aslan berdiri disamping jenazah ayahnya yang sudah meninggal secara misterius.


"Ayah.... aku tidak menduga kau akan tiada seperti ini? Siapapun pelakunya, aku pastikan dia akan mendapat hukuman yang setimpal," Panglima Arga lalu berdiri disamping Pangeran Aslan. Menepuk bahunya pelan. Seakan turut prihatin dengan apa yang terjadi.


"Aku juga tidak menduga. Aku akan cari pelaku yang sudah melakukan semua ini," kata Arga pada sang pangeran.


"Pelakunya sudah ditangkap. Dia adalah gadis yang kau bawa sebagai pelayan. Dia Benazir. Aku sudah menangkapnya. Aku pasti akan menghukumnya setelah pemakaman ayahanda," kata Sang Pangeran berapi-api dalam kemarahanya.


Deg.


Ketika tabib dipanggil, ayahnya meninggal karena racun ular berbisa. Racun itu adalah racun paling mematikan yang ada di dunia. Dan racun itu hanya ada di pegunungan tertinggi.


Itu ular langka dan penawarnya sulit di temukan. Sudah didatangkan semua tabib terbaik tapi semua mengatakan tidak punya penawarnya. Akhirnya Tuan Ahmet tidak mendapatkan penawar racun yang ada ditubuhnya dan dia meninggal tanpa bisa mengucapkan pesan terakhirnya.


Tap tap tap.


Semua menoleh pada suara langkah kaki yang tidak asing itu.


"Ibu....." Ucap Pangeran Aslan ketika melihat ibunya berjalan kearahnya.


Beberapa pengawal setia raja berada dibelakangnya.


"Apakah ini konspirasi?" Tiba-tiba pangeran Aslan bingung dengan para tangan kanan raja yang saat ini berada di belakang sang ibunda.


Sang ibu nampak tersenyum ramah dan lembut. Tapi pangeran Aslan hanya berdiri terpaku.


Pangeran Aslan terkejut dengan kedatangan Ibundanya, yang merupakan buronan Istana, kenapa tiba-tiba hadir di sampingnya. Bagaimana bisa masuk tanpa ada satu pengawal pun yang mencegahnya.


Aku tahu apa yang kamu pikirkan pangeran.


Bisik sang ibunda berdiri disamping putranya.


Aku tidak mengerti semua ini ibunda.


Kata hati Pangeran Aslan.


Arga pun tak kalah terpana ya. Terlebih setelah melihat empat bendahara istana berdiri di belakang Sang Ratu Safiya Halim.


Sang Ratu hanya tersenyum melihat semua orang menatap dirinya dengan tajam dan penuh tanda tanya.


"Apa yang harus kami lakukan Ratu?" tanya bendahara istana yang berdiri di belakangnya.


"Siang ini juga siapkan pasukan dan kita akan memberikan penghormatan terakhir pada sang Raja,"


Semua orang terpana ketika Ratu berbicara seakan dia berkuasa. Padahal awalnya dia adalah buronan Istana.


Rupanya bukan tanpa alasan sang Ratu berbicara demikian. Dan bukan tanpa alasan dia menjadi buronan Istana.


Bukan hanya sang Raja yang mengejarnya namun ada orang lain. Dan dia adalah orang berpengaruh di istana itu yang telah menghasut sang raja agar mencari dan membunuh sang Ratu dengan fitnah yang keji.


Sang Ratu memegang surat wasiat tentang jika Sang Raja wafat maka Ratu Safiya Halim yang akan mewarisi tahtanya.


Ratu Safiya Halim tersenyum pada semua orang yang hadir dan kebingungan dengan keberadaan nya.


"Iskan! Bacakan wasiat Tuan Ahmet, suamiku! Titah sang Ratu pada Iskan dan sang bendahara lalu membacakan wasiat penting itu dan ada segel istana didalamnya. Artinya surat itu resmi.


"Apa!?" Arga menatap tajam dan bengis.


Tidak mungkin! Mana mungkin dia kembali dengan wasiat itu!

__ADS_1


Sementara Pangeran Aslan menunduk dihadapan ibunya.


Kini hatinya menjadi tenang karena adanya surat wasiat itu. Dalam pikiran Pangeran Aslan, jika tidak ada wasiat atau pesan raja maka beberapa pejabat istana akan memberontak dan pasukan akan terbagi menjadi beberapa bagian dan terpecah belah.


Sang Ratu Safiya Halim tersenyum lalu memeluk putranya.


"Ibu...." Pangeran memeluk ibunya dan ini adalah awal yang baru dalam hubungan mereka yang sempat memanas karena isu jika ibunya kabur dan selingkuh dengan pengawal pribadinya.


"Itu tidak benar. Ada yang sudah memfitnah ibu. Ibu tidak tahu siapa. Percayalah, ibu kabur karena alasan lainnya. Nyawa ibu berada dalam bahaya karena wasiat ini. Ada orang dalam yang mengincar tahta. Sedangkan pengawal ibu hanya bermaksud untuk menyelamatkan nyawa ibu...."


Pangeran Aslan menatap ibundanya. Mencari kejujuran dimatanya. Sang pangeran akhirnya mengangguk meskipun dalam hati tetap masih tersimpan keraguan didalamnya.


Ibundanya adalah seorang bangsawan sama seperti Benazir sebelum menjadi istri Tuan Ahmet. Bahkan berkat sang istri yang pandai dalam berpolitik, akhirnya mengantarkan Tuan Ahmet pada kejayaanya. Namun sayangnya Tuan Ahmet menjadi lupa diri dan memiliki beberapa selir.


Ada semacam dendam abadi dalam diri sang Ratu yang dilihat oleh Pangeran Aslan putranya. Namun jika belum terbukti ibundanya melakukan konspirasi terhadap ayahnya maka sang pangeran tidak akan gegabah kali ini.


Ibundanya telah kembali. Suasana di istana pasti bisa dikendalikan. Bagaimana pun pengaruhnya masih sangat besar. Ibu mengenal sangat banyak orang dalam dan mampu mengendalikan mereka semua.


"Aku kembali, bagaimana kabarmu?" tanya sang Ratu pada Arga yang merupakan orang kepercayaan Tuan Ahmed dan membuat Safiya hampir saja di tangkap berkat tangan kanan tuan Ahmet itu.


"Hamba patuh pada titah paduka," akhirnya mau tidak mau, Arga harus mengikuti alur cerita yang kini dikendalikan oleh Ratu Safiya berkat wasiat itu.


Dalam hati Arga. Sial! Bagaimana dia masih punya wasiat itu! Pantas saja aku cari dikamar Raja ketika beliau wafat, dan tidak ada dimana-mana. Andaikan aku menemukannya lebih dulu, maka akan aku bakar menjadi abu. Semua diluar dugaanku. Dia kembali dan aku harus pura-pura tidak terlibat dengan semua ini. Satu-satunya yang paling berbahaya adalah Benazir. Gadis itu harus di hukum mati. Jika tidak dia adalah ancaman bagiku.


"Terimakasih Arga. Kau sekarang akan dekat denganku," kata Ratu Safiya tersenyum penuh arti. Sang Ratu sangatlah bisa membaca wajah siapa saja di istana itu yang harus dia waspadai.


Kejadian sebelumnya. Malam itu Arga dan Almira membuat kesepakatan. Almira berbuat demikian demi cintanya pada Pangeran Aslan. Sedangkan Arga karena Benazir hampir merusak semua rencananya.


Konspirasi Arga dan Almira dengan


mengkambing hitamkan Benazir.


Benazir dianggap bodoh oleh Arga dan ceroboh. Dia juga melihat jika Benazir bekerja dengan hatinya. Itu yang tidak disukai oleh Arga.


"Kita akan sama-sama diuntungkan jika bekerja sama," Almira juga gadis yang licik. Jangan remehkan dirinya.


Bagi Arga, bekerja harus pakai otak. Jika pakai hati, maka akan tersesat. Dan jika hati nya tersesat maka akalnya tidak bekerja. Dan tujuannya akan berubah dari semula.


"Gadis itu selalu terbawa perasaan. Dan akalnya tidak bekerja," keluh Arga pada Almira.


"Tentu saja! Kau telah memilih kawan yang salah," imbuh Almira bertatapan dengan Arga penuh percaya diri.


"Ya. Kita sepakat," Arga mengangguk.


Kesepakatan itu terjadi ketika Benazir berada di kamar Tuan Ahmet.


Arga sangat kesal karena ketika kesempatan baru datang lagi tapi Benazir justru meninggalkan racun dikamarnya.


Dan Almira sangatlah licik. Kelalaian Benazir justru dia manfaatkan untuk menjebaknya dan menyingkirkan dirinya dari istana ini selamanya.


"Gadis bodoh! Kau akan mati di penjara! Dan tidak ada lagi yang akan menghalangiku mendekati pangeran Aslan!" Almira tersenyum menyeringai.


Dan benar saja.


Bukti membuat Benazir akan mendapatkan hukuman mati. Pangeran Aslan sediri yang menemukan racun dikamar Benazir. Dan Almira adalah saksinya jika racun itu berada didalam kamarnya.


Namun Benazir berkilah. Jika dia bukan pembunuhnya.


"Jika aku yang membunuhnya, kenapa aku begitu bodoh dengan menaruh racun dikamarku? Artinya aku sama saja dengan bunuh diri?"

__ADS_1


Kata Benazir ketika Pangeran Aslan menemuinya didalam penjara bawah tanah.


Badan Benazir dirantai dengan rantai yang sangat berat. Dia merasa kesakitan di seluruh tubuhnya.


Namun apa dayanya? Tidak ada siapapun yang bisa menyelamatkan dirinya kali ini.


Pangeran Aslan terdiam. Almira kesal dan menghasut pangeran lagi.


"Jangan dengarkan dia pangeran. Semua pembunuh akan mengatakan jika mereka bukan pelakunya. Mereka takut mendapatkan hukuman mati dihadapan seluruh rakyat di istana ini," Kata-katanya sangat mempengaruhi hati pangeran.


"Kau akan di hukum setelah ayah di makamkan," Pangeran Aslan lalu meninggalkan Benazir yang hanya menatapnya tanpa daya.


Percuma aku bicara padanya! Dia adalah pangeran yang bodoh! Dia tidak menyelidiki semuanya dan menuduhku yang melakukannya. Padahal disampingnya ada penjahat dan musuh dalam selimut. Tapi jika ku katakan juga akan percuma. Aku tidak punya bukti apapun.


Arga ada dibelakang Pangeran Aslan. Hanya diam dan menatap Benazir seakan dia adalah orang asing.


Benazir menatap tajam dengan penuh kebencian pada Arga yang diam saja. Benazir curiga jika Arga yang melakukan semua ini dan menjebak dirinya.


Namun tiba-tiba ketika semua harapannya kandas. Dia sudah yakin jika akan segera menemui ajalnya di istana ini, seorang ratu datang menemuinya.


"Kau yang sudah membunuh suamiku?" tanya sang ratu pada Benazir yang tertunduk hilang harapan saat ini.


Siapa wanita ini? Dia mengatakan jika dia adalah istri Tuan Ahmet. Aku belum pernah melihatnya di istana ini sebelumnya, bisik Benazir dalam hati.


"Aku tidak membunuhnya. Ada racun dikamarku. Aku di tuduh membunuh Tuan Ahmet hanya karena racun itu berada dikamarku. Lalu untuk apa aku membunuh Tuan Ahmet? Apa keuntungan yang akan aku dapatkan? Aku bahkan hanya seorang pelayan yang dibawa Arga kemari. Untuk apa aku membunuhnya?"


Kata-kata Benazir entah kenapa membuat sang ratu sangat tertarik. Terlebih karena dia dibawa oleh Arga.


"Pengawal! Lepaskan gadis ini!" Titah sang ratu yang membuat Benazir terbelalak kaget. Tak percaya pada pendengaran nya.


Apakah aku akan di hukum mati saat ini juga. Bukan esok hari?


"Kau akan menjadi tangan kananku!" Tiba-tiba sang Ratu berkata demikian. Entah kenapa sang ratu percaya pada mata Benazir. Dan firasatnya tidak pernah salah.


Sang ibu sangat bersyukur pada Benazir karena dianggap sudah menyelamatkannya dari suaminya sendiri yang kejam. Maka kedatangan Benazir dianggap sebagai pembawa kebahagiaan baginya.


Dalam hati sang Ratu punya rencana yang baru.


Sang ratu akan menjodohkan Pangeran Aslan dengan Benazir.


Setelah pemakaman selesai.


Ratu Sagita memanggil semua orang datang ke istana.


Dan disana ada Benazir juga yang membuat semua orang sangat terkejut termasuk pangeran Aslan.


"Pangeran ku telah salah tangkap. Penjahatnya bukan gadis ini. Hanya karena racun berada dikamarnya tidak lantas membuktikan jika dia adalah pelakunya. Bisa saja ada orang lain yang menjebaknya. Maka aku perintahkan semua dari kalian untuk mencari pelaku yang sebenarnya. Dan yang berhasil melakukannya, akan mendapatkan hadiah besar dariku," kata Sang Ratu.


"Lalu, gadis ini aku bebaskan dari segala tuduhan. Semua itu tidak benar. Aku sendiri sudah menyelidiki jika dia bukan pembunuhnya. Ada orang lain di istana ini yang sudah melakukan konspirasi,"


Semua orang terkejut dan saling berpandangan. Ada yang mengatakan jika Pangeran Aslan yang melakukan nya. Ada juga yang mengatakan jika pangeran Edric yang melakukan nya. Bisik-bisik para pejabat membuat suasana sangat riuh.


"Harap tenang semua. Penyelidikan akan dilakukan setelah tujuh hari kedepan. Sekarang aku tidak ingin ada kegaduhan apapun. Waktu tujuh hari ini adalah waktu berduka bagi kita semua. Tidak ada lampu yang akan menyala. Dan hanya lilin yang akan digunakan selama tujuh hari kedepan," kata Ratu dan membubarkan semua yang hadir di istana itu.


Hal itu membuat Arga dan Almira saling berpandangan.


Benazir senang dan tersenyum penuh kemenangan.


Benazir lalu berjalan ke kamarnya dan melewati Arga yang terpana juga Almira didekatnya.

__ADS_1


"Kau lihat? Keadaan begitu cepat berbalik?" Berkata pada Arga dengan penuh percaya diri.


Dan melirik Almira si gadis licik dengan senyum manis.


__ADS_2