Menikah Dengan Pria Yang Menodaiku

Menikah Dengan Pria Yang Menodaiku
Part 1


__ADS_3

"Anak kurang ajar! Tidak tahu malu! Tidak punya harga diri!" umpatan meluap setelah Ibu memergoki aku sedang melihat hasil test pack di kamar mandi.


Benda yang meunjukkan dua garis merah dirampas dari tanganku  lalu melemparkannya ke wajahku.


Rambut panjangku dijambak dan dirseret dari kamar mandi hingga aku terjerembab di ruang tengah. Pukulan bertubi-tubi menjatuhi tubuhku. Tangan lembut yang biasanya membelaiku kini berubah menjadi tamparan.


Ibu yang selama ini lembut tiba-tiba berubah menjadi sangat buas. Melihat anak perawannya hamil di luar nikah, pasti hatinya seperti diremas. Hancur!


"Anak siapa ini, hah?" suaranya setengah memekik. Berusaha agar tidak terdengar tetangga.


"Dengan siapa kau melakukannya? Dia harus bertanggung jawab!" kembali rambutku dijambak lalu dihempaskan hingga kepalaku terbentur di dinding. Hanya mengaduh dalam hati jika rasa sakit menghampiri.


Mudah saja bagiku untuk mengaku siapa bapak dari anak yang kukandung. Tapi, Ibu tidak akan sanggup mendengar pernyataan dan menerima kenyataan.


Juga, tak sudi lelaki yang menanmkan benihnya ke ramhimku harus menanggung jawabinya. Lebih baik mati saja!


"Ayo, jawaaaab!" gerang Ibu dengan terus mengobrak-abrik kepalaku.


Kudengar suara Aini menangis dan meminta Ibu untuk menyudahi menyakitiku.


Aini datang memelukku untuk memberi perlindungan dari amukan Ibu.

__ADS_1


"Jika tidak mau mengaku, berati lelaki yang menyentuhmu tidak satu. Dasar anak kurang ajar!" sebuah benda tumpul mendarat beberapa kali ke tubuh dan kepalaku. Itu batang sapu. Aini menjerit memohon agar Ibu berhenti sambil terus memeluk tubuh yang tak berdaya ini.


"Ada apa ini?" tiba-tiba Bapak muncul dan merangkul Ibu dari belakang, hingga gerak Ibu terhalang.


Ibu terus meraung minta dilepaskan. Belum puas rasanya sudah menghajarku membabi buta.


Sambil bersusah payah menahan Ibu, pria separuh tua itu bertanya ada apa. Apa yang sedang terjadi.


"Dia hamil. Aku malu punya anak seperti dia!" suaranya naik beberapa oktaf. Ibu menunjukku dengan tatapan murka. Ada luapan api yang membara sedang membakar dada. 


Hamil?


Mungkin pria itu terkejut mendengar pengakuan Ibu. Entah disadarinya atau tidak, tangan kokohnya tak lagi merengkuh ibu. Ia membisu.


Ya, Allah. Murka Ibu adalah murka-Mu juga. Apakah Engkau juga murka padaku? Sedang Engkau-lah yang maha tahu. 


"Lihat siapa ini. Lihat! Dia yang sudah rela membesarkanmu dan merawatmu." tangan kanan ibu mencengkram daguku dan tangan kirinya menunjuk lelaki yang sekarang mematung.


Rona wajah yang sudah menampakkan usianya tidak lagi muda. Tercengang, ia sama sekali tidak menduga.


"Apa yang dia dapat darimu, Hah? Apa? Kau coreng nama baiknya. Dasar tidak tahu diutung!" Kembali Ibu akan menyerang, namun segera Bapak tersadar dan menghalang. Ibu menjerit sejadi-jadinya. Tak peduli lagi didengar tetangga.

__ADS_1


"Sudahlah, malu dilihat tetangga. Mari kita bicara baik-baik," bujuk Bapak.


Ternyata benar, tetangga sudah pada melongo dari depan pintu dan jendela. Ingin melihat lebih dekat kejadian perkara. Bahkan ada yang merekam dengan ponsel kamera. Pasti buat diposting demi mendulang banyak like dan komen. Dasar manusia sekarang, selalu mengambil kesempatan meraup keuntungan dari penderitaan orang.


Aini adikku sayang. Dengan hati-hati ia menyuruh orang bubar dan segera menutup pintu.


Setelah Ibu sedikit tenang, kami berkumpul di ruang tengah.


Aku menunduk, namun ekor mataku masih dapat menangkap  Ibu terduduk lemas di samping Bapak.


"Katakan, siapa yang menghamilimu?" Bapak mengawali pembicaraan, suaranya tenang. Menunjukkan sikap bijaksana. Tapi aku tahu, hatinya gelisah.


Aini menransfer energinya dengan menggenggam tanganku. Sangat kentara dia di pihakku. Padahal, bisa saja dia membenci kakaknya yang sudah membuat malu. Tidak menjaga martabat sebagai wanita baik-baik. Tidak memberi contoh yang baik pula.


Kuangkat kepala dan menatap pemilik suara yang sedang bertanya. Ingin sekali kukatakan fakta, namun mulutku terkunci oleh suatu ancaman. 


"Pacarmu?" 


Kutatap pria itu dengan tatapan benci. Pria yang pandai bersandiwara dan membuatku menderita. Pria itu tahu, siapa yang menyebabkan aku berbadan dua.


*****

__ADS_1


Setelah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Dengan cara like dan komen. Bantu subscribe juga, ya😊


Singgah juga di cerbungku yang berjudul Dikhianati Suami dan Mertua


__ADS_2