
"Biadab! Kau rusak anak gadisku. Kau rusak masa depannya!" cecar Bapak sambil terus mendaratkan tinjuan di wajah Juragan. Posisi Bapak menindih tubuh Juragan memudahkannya untuk melancarkan aksinya.
Aku terperangah mendengar perkataan Bapak yang sedang menuding Juragan Handoko sambil menghajar penuh kemarahan.
Apa itu artinya Bapak tidak terlibat sama sekali. Bapak tidak pernah menjualku kepada siapapun. Apa lagi pada Juragan Handoko?
Kalau begitu, orang kaya itu sudah memfitnah Bapak dan aku menelan omongannya mentah-mentah tanpa menyelidiki kebenarannya.
Peristiwa itu kembali menari di ingatanku. Di mana Juragan Handoko menjamahku.
Semua berawal saat aku menggantikan Bapak mengambil upah bulanan dan harian Bapak yang bekerja merawat kebun sawit orang terpandang di Desa ini. Itu juga karena Bapak kurang sehat.
Juragan memintaku masuk. Karena Juragan Handoko dikenal sebagai sosok yang santun, baik dan ramah, aku menurut saja. Tidak menaruh curiga terhadapnya.
Setelah aku duduk di sofa ruang tamu. Dia memasuki kamar. Tidak terlalu lama menunggu, ia keluar dengan membawa amplop berisikan uang. Lalu duduk. Kami saling berhadapan. Diletakkannya uang itu di atas meja.
Setelah kuraih, aku pamit untuk pulang. Naas! Saat aku hendak keluar, Juragan Handoko menarik paksa lenganku dan menutup rapat pintu.
"Kamu pikir, kamu bisa pulang begitu saja? Tidak!"
Tubuhku gemetar melihat wajahnya yang tiba-tiba berubah buas. Didorongnya tubuhku hingga menempel di dinding. Kedua lenganku dicengkeramnya kuat. Sakit sekali!
"Lepas, Gan!" rintihku.
"Enak saja. Bapakmu sudah menyerahkan dirimu padaku untuk membayar hutang yang dipakai biaya rumah sakitmu," katanya saat itu. Aku termangu, namun mataku menatapnya tajam.
"Kenapa? Kaget?" ejeknya dengan tertawa kecil. Lalu, tubuhku diseretnya menuju kamar dan di hempaskan di atas ranjang. Di sanalah aku kehilangan kehormatan.
Saat itu perasaanku hancur! Harga diriku telah dijual oleh orang yang selama ini membesarkan aku.
Baru kutahu, untuk menebus rumah sakit, Bapak meminjam uang kepada Juragan Handoko. Dan baru kusadari, Bapak tidak benar-benar tulus menyayangiku. Aku yang sakit, butuh pengeluaran banyak, maka aku juga yang harus membayar. Dengan cara inilah Bapak menyuruhku melunasi uang yang telah terpakai untuk berobatku.
__ADS_1
"Jangan mengadu pada siapapun jika ingin keluargamu baik-baik saja!" ancamnya setelah melampiaskan aksi bejatnya. Ia membukakan pintu agar aku keluar dari tempat yang kusebut neraka. Ekor mataku sempat menangkap beberapa botol minuman beralkohol berbaris di dinding kamar jahanam itu.
Sambil menahan sara perih, aku berjalan menuju rumah. Tak kusangka nasibku akan seperti ini. Kukira itu hanya terjadi di sinetron saja. Ternyata benar-benar ada. Ya, biarlah kisah pilu ini kupendam sendiri.
Suara Bapak yang menggelegar membuyarkan ingatanku di masa itu.
"Aku yang berhutang, kenapa anak gadisku yang kau rusak? Bukankah setiap bulan kubayar dengan memotong gajiku? Dasar bajingan!" Bapak terus menghajar Juragan. Emosinya kian meluap. Api amarah berkobar-kobar siap menghanguskan orang yang ditindihnya itu. Anehnya, tidak ada perlawanan sama sekali dari Juragan Handoko.
Seketika dadaku terasa sesak. Air mataku kian menyeruak. Setelah mengetahui betapa murkanya Bapak karena anak perempuannya telah dirusak. Kini, kupikul penyesalan yang menggung. Segera aku berlari menghampiri pria tua yang telah difitnah itu.
"Bapak ...!" Aku berlutut agar sejajar dengan Bapak, lalu menubruk tubuhnya yang hitam dan kusam kerena selalu bekerja di bawah terik matahari.
Aku menangis sesenggukan sambil mencengkram tubuhnya. Aku tidak ingin melepasnya. Tidak! Bahkan aku malu menatap wajahnya. Kueratkan rengkuhanku saat kurasakan Bapak bergerak. Aku terisak. Dadaku sesak. Hingga untuk mengatakan 'maaf' pun sulit. Hanya mampu merengkuh tubuhnya dan menangis.
Terdengar tangis histeris seorang wanita menghampri. Membuatku melepaskan tanganku yang melingkar di tubuh Bapak. Wanita itu adalah istri Juragan Handoko. Suara tangisnya memekakkan telinga. Ia tidak terima melihat wajah suaminya babak belur.
Aku dan Bapak berdiri. Membebaskan Juragan Handoko yang tertindih. Ibu dan Aini menghampiri. Tampak mereka juga sangat terpukul akan kejadian yang menimpaku.
Aku menggeleng kuat. Tidak perlu meminta maaf. Ibu tidak bersalah. Namun, itu hanya mampu kukatan di dalam hati.
Setelah saling bertatapan dengan mata berkaca, tangis kami pun pecah. Seiring dengan berpelukan yang kian mengerat. Juga rasa penyesalan yang membuncah.
"Kau harus bertanggung jawab!" Bapak menunjuk wajah Juragan dengan murka.
"Dia sedang mengandung anakmu ...," imbuh Bapak lagi.
Aku tercengang. Bertanggung jawab? Bapak meminta Juragan menikahiku? Aku tidak mau!
Kupeluk Ibu. Berharap ada pertolongan di sana. Agar tidak menikahkan aku dengan pria itu. Pria yang jauh lebih tua dan tidak kucinta. Namun, Ibu pun tak mampu berkata apa-apa. Hanya menangis dan menangis sambil mengelus bahuku.
"Apa? Menikahi anakmu? Tidak salah dengar? Kami saja belum punya anak. Jangan-jangan anakmu memang perempuan liar!" Tuduh istri Juragan sambi menunjukku.
__ADS_1
Secara nalar memang benar. Sampai sekarang mereka belum dikaruniai anak, bagaimana bisa orang akan percaya jika yang ada di rahimku adalah anak Juragan? Bisa-bisa semua orang akan mengolok-olokku sebagai perempuan pezina. Kotor!
Tapi ... bukankah setiap kemandulan selalu wanita yang disalahkan? Apa karena mereka sudah mengetahui bahwa Juraganlah yang lemah?
Hanya kepada yang Maha Kuasa kupasrahkan. Allah Maha melihat. Allah Maha mengetahui. Allah Maha segalanya. Allah tidak pernah tidur. Allah akan membuka semua kebenarannya.
"Ma-maya hamil?" Juragan Handoko bertanya dengan suara berat. Perlahan ia jalan mendekat.
Bu Sri, biasa kusapa istri Juragan menghalangi langkah suaminya. "Jangan percaya, Han!" hasut istrinya.
Langkah Juragan Handoko terhenti. Ia menatap sendu istrinya. Bola matanya seakan berkata bahwa janin ini adalah benar miliknya.
"Tapi aku memang menodainya. Aku mengakuinya. Maafkan aku Sri ...." Di hadapan istrinya Juragan mengakui perbuatannya sambil tertunduk lesu.
"Jahat kamu, Han! Jahat kamu!" Bu Sri histeris sambil memukul-mukul dada suaminya.
Juragan Handoko yang mengaku bersalah membiarkan istrinya melampiaskan kemarahan dengan memukul tubuhnya bertubi-tubi.
"Tapi ... itu bukan anakmu, Han! Kamu nggak ingat kalau kamu mandul? Kamu mandul, Han. Mandul!" pekik Bu Sri. Raut wajahnya berusaha menyadarkan pria yang sampai saat ini belum bisa memberikan keturunan.
Bagai disambar petir di siang bolong ketika istri Juragan menegaskan bahwa suaminya mandul. Itu artinya mereka tidak akan percaya bahwa ini adalah anak Juragan. Tidak akan ada yang percaya!
Bapak, Ibu, Aini. Mereka bertiga menatapku. Kecurigaan mengisi pikiran mereka. Akankah mereka akan menuduhku sebagai wanita yang menjajakan tubuh kesetiap pria?
Ya, Allah ... lemas sudah seluruh raga. Lutut pun tak mampu lagi menopang tubuh hingga aku jatuh bersimpuh.
"Ayo, Han kita tinggalkan perempuan murahan ini," ajak Bu Sri sambil membalikkan tubuh juragan.
*****
Setelah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Dengan cara like dan komen. Bantu subscribe juga, ya😊
__ADS_1
Singgah juga di cerbungku yang berjudul Dikhianati Suami dan Mertua