Menikah Dengan Pria Yang Menodaiku

Menikah Dengan Pria Yang Menodaiku
part 4


__ADS_3

"Ayo, Han, kita tinggalkan perempuan murahan ini," ajak Bu Sri sambil membalikkan tubuh Juragan.


"Aku akan menikahinya, Sri," ucap juragan sambil menatapku iba. Ia menolak memutar badan.


"Apa? Kamu sudah gila?" pekik Bu Sri. Ia tidak terima jika suaminya beristri dua.


Aku pun tak kalah terkejutnya dengan ucapan Juragan Handoko yang siap akan menikahiku.


"Kalau kamu ingin anak, kita bisa adopsi. Bukan melihara anak dari orang nggak jelas begini, Han!" Bu Sri mengacungkan telunjuknya ke arahku.


"Ini bukan masalah anak. Ini masalah tanggung jawab," balas juragan.


Seketika aku merasa dia adalah pahlawanku. Rasa benci yang menggunung ia runtuhkan dengan sikap pedulinya padaku. Peduli? Sadar Maya! Ini bukan bentuk peduli, tapi tanggung jawab! Dia memang harus bertanggung jawab atas perbuatannya!


Kutepis tangan yang ia ulurkan. Kutahu maksudnya membantuku untuk berdiri.


"Aku akan segera menikahimu, Maya. Percayalah!" ucapnya pelan.


"Tidak akan kubiarkan!" Bu Sri datang dan menjambak rambutku tanpa sempat Juragan menghalaunya. Aku yang masih terduduk lesu menjadi tersungkur hingga mencium tanah saat Bu Sri mendorong kepalaku.


Belum hilang sakit yang dijambak Ibu, kini Bu Sri menambahnya dengan cara yang sama. Tapi, semarah apa pun wanita yang telah melahirkan anaknya, ia tidak terima ketika anaknya disakiti orang lain.


Ibu melabrak Bu Sri karena berani menyentuhku. Sedang Bu Sri membela diri karena merasa suaminya telah dijebak. Jadilah mereka saling serang dan saling melempar kata-kata kasar. Juga saling menuduh siapa yang bersalah.


Aini mendekat dan membantuku berdiri. Bapak dan Juragan melerai dua wanita yang saling membenarkan diri. Hingga akhirnya keributan berhasil diakhiri.


*****


Karena kejadian yang menimpaku, rumah ini terasa sunyi. Tidak ada yang bersuara meski sekedar saling sapa.


Aini memilih menghabiskan waktunya di kamar. Ibu menjahit pakaian yang sudah koyak namun masih sangat layak pakai. Bapak berbaring di depan televisi menikmati berita terkini.


"Pak ...," panggilku pelan sambil duduk di dekat kakinya yang sedang selonjor. Kaki itu tampak kekar. Pertanda Bapak pekerja kasar.


"Hm ...." Bapak berusaha beringsut dari posisinya untuk duduk menyamaiku. Kursi terbuat dari kayu yang sudah reot mengeluarkan bunyinya karena Bapak bergerak.


Setelah Bapak duduk sejajar denganku, aku mengatur napas. Menyusun kata agar tidak salah bicara. Meski hanya penyampaian maaf.


"Ada apa?" tanya Bapak tanpa menoleh padaku. Entah karena tertarik pada tayangan di tivi atau karena masih menyimpan kesal di hati.


"Ma-afin ... Maya, Pak." Sulit bagiku melanjutkan kalimat. Bagai ada yang mengganjal di kerongkongan. Perlahan air mata menyeruak menghalangi pandangan. Hingga akhirnya kubiarkan ia tumpah.

__ADS_1


Tidak mendapat jawaban, aku segera turun dari tempat duduk dan bersimpuh. Kubenamkan kepala diantara lutut Bapak yang menyatu. Di sana kutumpahkan semua air mata. Juga perasaan bersalah.


Terasa tangan kasar Bapak mengusap pucuk kepala. "Bapak mengerti perasaanmu, Nak," ucapnya pelan.


Kudongakkan kepala untuk menatap gurat wajahnya yang tidak lagi segar. Samar terlihat karena air mata yang menggenang.


"Kenapa Bapak percaya sama Maya kalau Juragan Handoko pelakunya? Padahal istrinya sudah bilang kalau dia mandul." Bahkan Ibu sendiri, yang melahirkan aku tidak memiliki naluri ke sana.


"Kamu memang bukan terlahir dari benihku. Tapi ... darah dagingmu tercipta dari keringatku. Jiwa ragamu tumbuh dari kasih-sayangku. Bagaimana aku tidak mengenal putriku?" tutur Bapak lembut.


Kalimat Bapak begitu syahdu di pendengaranku. Begitu sejuk bagai silir angin yang meniup lembut sanubariku.


Bahkan kalimat yang menenangkan jiwa itu tidak kudengar dari Ibu saat aku butuh. Sosok yang sebelumnya sangat kuharap pengertiannya.


Ibu justru marah membabi buta tanpa berusaha mencari tahu kebenarannya. Sangat bertolak belakang dengan Bapak. Setelah aku ikut memfitnah karena ketidak tahuanku, Bapak tidak serta-merta ikut memarahiku. Dengan bijak Bapak mencari kebenaran dengan mendatangi orang yang bersangkutan.


"Bapak tau betul apakah kamu berbohong atau tidak."


"Kenapa Bapak nggak marah saat Maya menuduh Bapak?"


"Siapa bilang Bapak nggak marah? Bahkan sangat kecewa. Namun nggak harus bersuara." Tangan Bapak menepuk-nepuk tempat yang kosong di sampingnya agar aku tidak lagi bersimpuh dan duduk di sisi kirinya. Aku pun menurut.


"Terkadang ketika kita marah perlu untuk menutup mulut. Karena bisa saja secara tiba-tiba akan melakukan hal yang tidak diinginkan yang akan memeperburuk keadaan. Setelah itu kita menyesal dan meminta maaf. Tapi, kata-kata itu sudah terlanjur tertancap di hati orang tersebut, dan meninggalkan lubang yang sulit untuk diperbaiki seperti semula," ujar Bapak tenang. Membuat perasaan bersalah dan penyesalanku semakin menumpuk.


Dinikahi pria yang jauh lebih tua dan menjadi istri kedua bukanlah impianku sebagai wanita biasa.


"Bagaimana jika Maya menolak menikah dengannya, Pak?" tanyaku ragu.


"Maka, kamu tidak hanya mencoreng namamu sendiri. Tapi juga orangtuamu. Jangan salahkan jika orang-orang berpikiran negatif terhadapmu."


Aku terdiam. Bukan masalah jika itu nama baikku. Tapi ... Ibu dan Bapak?


"Masuklah ke kamar dan istirahat. Menguras pikiran lebih melelahkan dari menguras tenaga," ujar Bapak.


Dengan langkah berat aku berjalan memasuki kamar. Berat! Ya, sangat berat! Aku akan menghadapi hidup baru yang sangat berat untuk dijalani. Bagiku, kehamilan ini adalah musibah.


Aku bukan pezina! Aku bukan melakukan pergaulan bebas! Mengapa diberikan hukuman dengan menghadirkan kehidupan di rahimku? Aku marah pada nyawa yang sedang bersemayam nyaman di dalam. Dia tidak tahu bagaimana hancurnya perasaanku.


'Hai bayi. Tidak bisakah kamu meminta pada Sang Pencipta untuk pergi dari rahimku tanpa harus kuusir?' kesalku dalam hati.


Kuraih gawai yang tergeletak dia atas kasur. Mataku terbelalak melihat banyak panggilan tak terjawab dari Agus. Benakku penuh tanya.

__ADS_1


Mengapa kamu meneleponku? Apa kamu sudah mendengar kabarku? Lalu, apakah kamu akan menghinaku? Memebenciku? Atau ... apa? Jujur, aku malu.


Tanganku bergetar saat hendak membuka pesan darinya. Takut kalau pesan yang dikirimnya hanyalah cercaan belaka. Itu akan menambah luka. Jika tidak kubuka, rasa penasaran akan terus menari di benak.


[Maya, aku tidak rela kamu menikah dengan orang tua itu. Jika orangtuamu tidak merestui kita, pergilah denganku. Kita ciptakan kebahagiaan]


Darahku tiba-tiba mengalir deras hingga terasa hangat di seluruh raga. Pesannya, ingin membawaku bersamanya. Agus, apakah kamu tidak tahu jika aku sudah berbadan dua?


Terdengar suara jendela diketuk. Setelah itu disusul suara berbisik, "Maya ... ini aku. Agus."


Mendengar bahwa itu Agus, jantungku berdetak hebat. Segera kukunci pintu kamar, setelah itu membuka jendela untuk melihat pria yang ada di baliknya.


"Assst ...." Kuberi isyarat agar ia tidak bersuara keras.


"Aku akan menemui orangtuamu besok," ujarnya dari luar jendela.


Aku menggeleng kuat. Bukan aku tidak ingin dinikahi Agus. Justru aku sangat menginginkannya. Tetapi, ini kasusnya berbeda. Aku sudah berbadan dua. Mungkin, Agus belum mengetahui hal ini. Ia hanya mengira ini perjodohan belaka.


"Kenapa?" tanyanya begitu melihatku menggeleng.


Aku menunduk. Mulutku terkatup. Malu untuk mengatakan yang sebenarnya. Takut ia tidak percaya dan akan menilai buruk diriku.


"Aku akan menjadi Ayah anak yang kamu kandung," ucapnya. Matanya menatap perutku yang masih datar.


Aku terperanjat. Menatap tak percaya pada dirinya. Jadi ... dia sudah tahu semuanya?


"Aku sudah tau semuanya," imbuhnya lagi. Seakan mendengar suara hati ini.


'Tuluskah kamu?' pertanyaan itu hanya menggema di dalam hati. Meski tak terdengar, namun ia dapat merasakannya dan menyahut, "Aku tulus, Maya."


Jika begitu. Aku sangat setuju. Menikah dengan pria yang dicinta alangkah bahagianya. Apa lagi, mau menerima diriku apa adanya.


"Kalau begitu, temuilah orangtuaku. Mintakan diriku baik-baik," ujarku pelan dengan mata berbinar. Disambut dengan anggukan kepala olehnya.


*****


Aini menyuguhkan dua gelas teh manis. Satu untuk Bapak dan satunya untuk Agus.


Agus menepati janjinya untuk menemui orangtuaku. Dengan begitu, di mataku ia adalah lelaki sejati. Berani memintaku meski seorang diri. Dan ... aku tidak meragukan ketulusannya karena sudi menikahiku meski sedang mengandung anak orang lain. Namun, kening Bapak mengkerut. Menggambarkan penolakan akan niat baik Agus.


*****

__ADS_1


Setelah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Dengan cara like dan komen. Bantu subscribe juga, ya😊


Singgah juga di cerbungku yang berjudul Dikhianati Suami dan Mertua


__ADS_2