Menikah Dengan Pria Yang Menodaiku

Menikah Dengan Pria Yang Menodaiku
Part 13


__ADS_3

Part 13


Entah apa yang dikatakan Ibu mertua pada Juragan hingga anak lelakinya itu kembali padaku. Eh, tepatnya padak kami semua. Setelah itu Ibu mertua merangkul bahu Bu Sri dan mengajak keluar. Menantu pertamanya itu menurut. Sebelum meninggalkan tempat, Bu Sri sempat menoleh dan menatapku sinis. Tatapan matanya seperti menyampaikan pesan.


"Harap dimaklumi, ya. Sebenarnya dia baik, kok," bisik wanita yang tadi memperkenalkan diri sebagai keponakan Juragan. Namanya Mirna. Sepertinya usianya tidak jauh dibawahku. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum saat wanita cantik itu berbisik.


"Yuk, kita makan lagi," ajak seorang wanita yang aku lupa namanya. Ajakan wanita itu mampu menghipnotis yang lain untuk melanjutkan kegiatan semula. Mereka seakan melupakan apa yang baru saja terjadi.


Setelah seharian berkumpul dengan keluarga Juragan, aku segera memberesi piring yang berserak. Seperti inikah mereka? Berbeda dengan keluargaku, kami akan bersama-sama mengerjakannya. Kecuali acara resmi yang kami undang.


"Eh, Nak. Udah taruh aja piringnya. Biar Nenek aja yang ngerjain." Tiba-tiba muncul wanita tua dari arah belakangku. Ia langsung menghampiri dan mengambil piring dari tanganku.


Nenek siapa? Tanyaku dalam hati. Namun, sepertinya Nenek ini bisa mendengar. "Panggil aku Nek Darti. Nenek yang akan nemani kamu di rumah ini," ucapnya sambil meletakkan piring kotor ke atas westafel.


"Eh, nggak cuma nemani aja, lho. Nenek juga yang akan melayani Nak Maya," imbuhnya lagi sambil meraih sapu yang sudah kupegang. Lalu, Nek Darti menuntunku. "Nak Maya duduk di sini aja. Nggak boleh banyak gerak. Nanti Nek Darti dimarah sama si Handoko. Apalagi si Mbak Ningsih. Bisa marah besar dia."


"Mbak ningsih? Siap dia, Nek?" Aku mengernyitkan dahi.


Nek Darti tertawa mendengar pertanyaanku. "Ya ibunya Handoko. Mertuamu. Bapak namanya Hartono. Nenek manggil Ibunya Handoko itu kakak. Udah kayak keluarga. Hehehe ...."


Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Nek Darti. "Aku bantuin nenek, ya," pintaku tak enak hati memberikan orang tua mengerjakan semua.


"Jangan. Nanti Nek Darti dimarah. Ibu Ningsih kalau marah serem juga, lho."


Bisa marah juga? Pikirku.


"Marah kenapa, Nek? Kan bantuin nenek kerja," protesku.


"Hmm ...." Nek Darti mengibaskan beberapa lembar uang yang diambil dari sakunya. Senyumnya mengembang penuh kebahagiaan. Ia menjelaskan uang itu diberikan dari keluarga yang tadi berkumpul.


"Keluarganya memang begitu, nggak mau tau urusan rumah, tapi nggak pelit. Pokoknya kalau mereka udah datang Nek Darti panen duit. Hehehe ...."


Nek Darti juga menceritakan kekhawatiran Ibu mertua dengan kehamilanku. Ibu mertua tidak mau terjadi apa-apa dengan kandunganku karena masih terlalu muda, masih rentan untuk dibawa bekerja. Takut akan berbahaya. Begitu peduli kah Ibu mertua?


"Ibumu sudah lama rindu cucu. Makanya dia sangat mempedulikanmu," lanjut Nek Darti sambil menggeser meja ke tempatnya. Sambil bercerita, satu-persatu pekerjaan Nek Darti selesai.


Apakah perlakuan Ibu mertua sama dengan yang dikatakan Juragan? Semua yang ia lakukan bukan untukku, tapi anak yang ada dalam perutku.


Ada yang menggelitik di benakku, apakah orangtua atau keluarga Juragan tidak menentang kehamilanku? Ingin sekali aku menanyakan hal sangat pribadi dengan Nek Darti, namun rasanya masih terlalu dini. Aku juga masih baru mengenal Nek Darti. Belum paham kepribadiannya.


*****


"Bagaimana tidurnya malam ini, Nak?" Pagi-pagi sekali Ibu mertua menemuiku. Aku yang baru saja keluar dari kamar terkejut mendapati Ibu mertua sudah duduk di sofa yang berada di depan kamarku. Senyumnya sangat ramah.


"Nyenyak ...," Aku masih canggung untuk memanggilnya Ibu. Bukan karena masih baru, dari usia aku lebih pantas memanggilnya nenek. Hanya beda tipis dengan Nek Darti. Hanya saja Ibu mertua terlihat lebih segar dan bersih. Semua pengahuh ekonomi.

__ADS_1


Ibu mertua menyuruhku untuk duduk di sampingnya, "Sini." Tangannya menepuk sisi yang kosong. Aku pun menurut.


"Maaf, tadi malam Ibu dan Bapak nggak bisa nemani kamu tidur di sini."


Aku mengangguk dengan bibir menyeringai.


"Besok suamimu akan di sini. Sebagai istri kedua kamu yang sabar, ya, Nak. Maklumi kakakmu yang belum bisa menerima keadaan."


Kakak? Bu Sri aku panggil kakak? Batinku terkejut. Lagi, hal yang membuatku tidak nyaman ketika diminta bersabar sebagai istri kedua. Ingin membantah karena ini bukan yang kuminta. Tetapi, aku tak bisa berbuat apa-apa, karena di mata mereka ini adalah fakta.


"Hari ini ibu mau balik ke kampung. Nanti berangkat jam tujuh. Ibu akan sering nengokin kamu. Di sini juga ada Darti yang jagain kamu."


Aku pernah dengar kampung orangtua Juragan ada di Medan. Butuh waktu 12 sampai 13 jam perjalanan.


"Jaga cucu ibu baik-baik." Risih, tangannya mengelus-elus perutku. Jika pernikahan ini atas dasar cinta, mungkin rasanya akan berbeda. Aku akan merasa menjadi menantu yang paling beruntung mendapatkan mertua sepertinya.


*****


Perlahan aku membuka mata. Rasanya berat. Setelah terbuka sempurna, kusadari tempat ini berbeda. Meski belum lama menempati kamar baruku, tapi aku sudah mengenalnya. Ini bukanlah kamarku.


Rumah sakit! Ruangan khas yang sangat mudah dikenali oleh siapa pun. Tapi ... sepertinya ini bukan rumah sakit umum yang pernah kunjungi. Dari isi ruangan ini sampai ranjang yang kutiduri sepertinya ini kamar VVIP. Satu kamar hanya ada satu pasien itu memperkuat dugaanku.


Kudapati tanganku terpasang selang infus. Kenapa aku? Berusaha keras mengingat kejadian sebelum akhirnya aku dirawat.


Terdengar suara batuk tak jauh dari tempat aku berbaring. Dari sebelah kananku, Juragan baring di sofa yang letaknya di pinggir jendela. Terlihat dari balik kaca jendela kelap-kelip lampu di luar sana. Masih malam? Gumamku.


"Ma-maaf," katanya terbata. "Kamu nggak tidur?"


Aku tak menjawab pertanyaannya. "Jangan sentuh aku!" kataku sambil membuang wajah ke kiri.


Aku tahu dia hanya mengkhawatirkan bayinya. Tapi aku tidak suka pada sentuhannya. Sentuhannya akan mengingatkanku pada peristiwa naas itu. Peristiwa yang menghantarkan aku pada pernikahan ini. Pernikahan yang tak pernah kurindukan.


"Pergi!" Aku mengusirnya.


"Aku hanya menjagamu, Maya."


Tak ku pedulikan perhatiannya. Sekali lagi aku mengusirnya. Dan, dia pun bertahan pada pendiriannya.


"Jika ingin anak ini baik-baik saja, pergi lah. Aku akan lebih baik jika Nek Darti yang menjagaku."


"Ini masih malam. Kasihan Nek Darti. Biarlah dia istirahat. Besok dia akan menggantikan aku."


Alasan yang tidak bisa kutepis. Jika memaksa Nek Darti datang malam ini juga, aku egois. Tapi jika Juragan terus di sini, aku yang miris.


"Selama tidak kamu izinkan, aku tidak akan menyentuhmu , Maya. Tapi, aku tidak akan bisa diam jika melihatmu lemah begini. Lembutkan sedikit hatimu."

__ADS_1


Sampai kapan pun tidak akan pernah kuizinkan kau menyentuhku! Gumam hatiku.


"Aku bisa mengerti kamu membenciku, tapi ... izinkan aku peduli denganmu, pada anakku yang ada di dalam rahimmu." Suaranya melemah. Mengiba agar aku memahaminya.


Terenyuh dengan kata-katanya. Aku memejam erat mata, mengatur napas yang menyesakkan dada. Bibirku bergetar ketika berusaha keras menahan kristal bening yang telah menetes dari sudut mata.


"Jangan ragukan keyakinanku. Itu adalah anakku."


"Bagaimana dengan Bu Sri?" Aku meragukan istrinya. Dengan cepat wajahku berbalik arah dan menatapnya sehingga lupa dengan mata basahku yang sebelumnya kusembunyikan dari Juragan.


"Itu urusanku."


"Itu juga urusanku."


"Biarkan aku yang mengurus."


"Sampai kapan? Sampai kapan Bu Sri berhenti mengataiku wanita kotor?"


Juragan menundukkan kepala dan membisu. Membuatku semakin geram melihatnya. Kembali aku memalingkan wajah ke kiri.


Terdengar suara kursi ditarik mendekati ranjangku. Ia menarik napas kasar, suaranya terdengar jelas di pendengaranku.


"Kamu tahu? pertama kali mendengar kehamilanmu dari Bapak, perasaanku campur aduk. Di sisi lain aku bahagia ternyata bisa menjadi seorang Bapak. Di sisi lain aku merasa bersalah karena menghancurkanmu. Dan, disisi lain aku ... aku ...." Suaranya mulai berat. Aku penasaran dengan ceritanya yang terputus.


"Aku sangat merasa bersalah dengan istriku karena telah menodai pernikahan kami. Aku telah mengkhianatinya." Ia terisak. Tak kusangka pria berwibawa seperti dia bisa menangis juga.


Pelan kutolehkan kepala menghadapnya. Juragan tengah menyandarkan kepalanya di besi pagar ranjangku dengan tangan menjadi bantal keningnya. Sebelum Juragan menyadarinya, segera aku memutar wajah ke arah semula.


Tangisnya terdengar pilu. Namun, lebih pilu hatiku. Perasaan bersalahnya terhadapku tak lebih besar dari perasaan bersalahnya kepada Bu Sri, istrinya.


Jemariku bergetar meremas kasur karena menahan rasa sakit. Ternyata, perih yang kurasa saat mahkotaku direnggut paksa tak lebih perih dibandingkan dengan perasaan ini.


Semakin bertambah rasa muakku padanya. Baginya, aku tidak lebih dari sekedar Ibu dari bayinya. Benar, perhatian dan pedulinya hanya untuk bayinya. Tidak untukku.


Aku menarik napas berat. Air mataku tak terbendung lagi, membanjiri kasur di bawah pipi.


"Aku telah melukai dua wanita," imbuhnya lagi masih terisak.


Tiba-tiba ia menarik tanganku membuatku cepat memutar kepala. Kedua tangannya meremas, menggenggam erat lalu menciumnya sehingga tanganku pun basa terkena air matanya. "Maafkan aku, Maya. Aku mohon maafkan aku. Aku tidak aka menyakitimu."


Mata kami saling menatap. Mata yang sama basahnya. Dua pasang bola mata yang saling menggambarkan perasaan.


"Maafkan aku, Maya." Ia mengulangi kalimat yang sama.


Terdengar suara pintu dibuka. Bersama kami menoleh kearah suara. Bu Sri. Ia telah berdiri di depan pintu. Matanya nanar menatap tangan kami saling bersatu.

__ADS_1


"Sri ...," ucap Juragan sambil melepaskan genggamannya.


__ADS_2