Menikah Dengan Pria Yang Menodaiku

Menikah Dengan Pria Yang Menodaiku
Part 6


__ADS_3

Jangan sungkan untuk minta ini dan itu pada anaknya? Memangnya aku dengan Juragan Handoko sepasang kekasih yang sedang menjalin cinta, lalu terjerumus dalam nikmat dosa yang sebentar lagi akan disahkan?


Atau jangan-jangan ... Juragan tidak mengatakan yang sebenarnya? Merubah cerita bahwa kami mau sama mau? Bukan unsur paksaan melainkan pacaran?


Jika benar demikian, apakah Ibunya tidak marah karena Juragan telah mengkhianati sebuah pernikahan? Atau marah dan menudingku seorang pelakor? Keluarga aneh!


Setelah semua sesuai dengan kesepakatan bersama, tentunya kedua orangtua kami. Mereka pun pamit untuk pulang.


Aini memunguti gelas-gelas dan piring-piring. Cemilan yang masih tersisa dimasukkannya ke dalam toples. Ibu memanaskan sayur agar tidak basi dan bisa dimakan besok pagi. Aku pun menggulung kembali tikar untuk disimpan kembali.


Tampak Bapak hendak masuk kamar, buru-buru aku memanggil Bapak sebelum hilang dari balik daun pintu kamar.


"Pak ...," panggilku ragu-ragu. Bapak berbalik badan menoleh padaku.


"Maya nggak mau menikah dengan Juragan." Kukatupkan kedua tangan di depan dada dan kepala menunduk. Dengan menitikkan air mata aku mengiba. Berharap pernikahan ini bisa dibatalkan. Sebelum semuanya terlanjur.


"Ini semua salahmu!" jawab Bapak dingin.


"Kenapa Maya yang salah, Pak? Maya korban!" Tidak terima jika aku masih disalahkan. Padahal Bapak sudah tahu siapa yang bersalah.


"Kalau saja kamu nurut kata Bapak untuk menutup aurat, maka setan tidak akan merasuki pikiran kotornya."


Jleb! Rasanya, baru saja Bapak melempar batu dan mengenai tepat di dadaku.


"Kalau saja saat itu Bapak tidak sakit," protesku dalam hati. Ya, hanya dalam hati. Biar bagaimanapun, ucapan Bapak benar.


Beberapa kali Bapak mengingatkan untuk menutup aurat. Tetapi, aku masih berkilah dengan alasan belum siap. Belum siap karena masih banyak melakukan dosa. Belum siap karena belum bisa menjaga tutur kata. Padahal, dengan menutup auratlah perlahan semua akan terjaga.


Lalu, sekarang aku harus bagaimana? Menjalani takdir? Atau Mengingkarinya?


"Jika tidak ada lagi yang mau dibicarakan, istirahatlah. Bapak juga mau tidur."


Aku hanya mematung. Tidak menjawab sepatah kata pun. Membiarkan Bapak masuk kamar hingga raganya tak lagi terlihat.


*****


Ponselku kembali menyala. Kuangkat wajah yang tadi kubenamkan di bantal dan meraih ponsel yang sedang berisik.

__ADS_1


Nama Agus yang tertera. Setiap membaca namanya di layar ponsel, bagai menemukan setitik cahaya dalam gelap gulita. Aguslah cahayaku. Aguslah harapanku. Aguslah satu-satunya yang bisa melepaskan aku dari tali yang menjerat masa depanku.


"Halo, Gus ...," kataku setelah memencet tombol berwarna hijau.


"Tadi orang tua itu ke rumahmu, ya?" sahutnya tergesa-gesa. Aku mengerti siapa yang dia maksud. Ternyata Agus mengintai perkembanganku.


Belum sempat aku menjawab, ia sudah berkata, "Pergilah bersamaku. Kita akan menikah. Besok kutunggu jam sepuluh di rumah tua. Mengerti? Halo ... halo ... Maya? Suaraku nggak kedengaran, ya?"


Kuletakkan ponsel di dada tanpa menjawabnya. Dadaku kembang kempis mendengar ajakannya. Sebulat itu niatnya untuk membawaku pergi bersamanya.


Besok, jam sepuluh. Tempat yang dia maksud adalah rumah tua tak bertuan yang terletak di pinggir jalan. Dia akan menungguku di sana. Begitu pentingkah aku baginya? Sehingga ia tidak memperdulikan orangtua yang tidak merestuinya.


"Halo ... Maya? Bisa dengar aku?"


Tersadar Agus masih berbicara, bergegas kuangkat ponsel yang menempel di dada lalu memindahkannya di telinga dan menjawabnya, "I-iya, aku dengar."


"Besok jam sepuluh. Jangan terlambat!"


"Gus, boleh aku bertanya sesuatu?"


"Mengapa kamu sangat peduli denganku?"


"Perlukah lagi itu kujawab?"


"Tapi ... aku kotor!" Mencoba meyakinkannya.


"Aku tidak peduli.Cinta tidak memandang siapa yang dicinta," jawabnya meyakinkan.


"Sungguh kamu juga akan menyayangi anak ini?" Sedikit meragu. Tangan ini meraba perut yang tidak lama lagi akan membuncit.


"Anak itu tidak bersalah. Jadi tidak ada alasan untuk memebencinya. Sudahlah, jangan buang waktu! Kemasi yang mau dibawa besok!"


Sepertinya dia sangat terburu-buru. Mematikan sambungan tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu.


Yah, ini kesempatanku. Lari dengannya agar aku tidak terbelenggu pada hubungan yang akan terus menyiksa batin. Mengejar bahagia bersama cintaku. Membesarkan calon bayi yang kini bersemayam di rahimku.


Meski kehadirannya tak pernah kuinginkan, namun kini senyum polosnya mendadak kurindukan. Aku rindu suaranya memanggilku. Rindu tangan mungilnya membelai pipiku. Rindu mendengar celotehnya. Kini, aku rindu semua tingkah lucunya. Aku merindukan yang belum pernah kurasakan.

__ADS_1


*****


Sebelum kabur meninggalkan rumah, diam-diam kutatapi wajah Ibu, Bapak dan Aini. Orang-orang yang kusayang.


Di dapur, tampak Ibu sedang menyiapkan sarapan. Dengan dasternya yang lusuh sesekali Ibu menyeka keringat yang mengucur di wajahnya.


Sedang di belakang rumah, kudapati Bapak sedang mengasah parang yang biasa dipakai untuk bekerja. Tampak Bapak tengah mengadu. Ternyata Bapak kurang hati-hati, sehingga parang yang diasahnya melukai tangan sendiri.


Melihat mereka semua akan kutinggalkan, ada perasaan bersalah menjalar dalam hati. Bagaimana tidak? Aku menciptakan masalah di hari tua mereka. Belum rampung masalah yang menimpaku, kini aku akan menghadirkan masalah baru.


Tak terasa air mataku merembes. Kuseka dengan ujung jari. Sedih rasa hati. Sadar diri ini egois. Lebih mengutamakan keinginan hati. Tetapi, biarlah. Hanya untuk kali ini! Janjiku dalam hati.


Setelah sarapan bersama, aku ijin keluar untuk mencari angin segar. Lalu, dengan mengendap-endap aku ke samping rumah menjemput tas berisikan pakaian yang sudah kukeluarkan dari jendela kamar.


Tidak boleh gegabah. Memastikan tidak ada seorang pun yang tahu aku keluar rumah dengan membawa tas. Sambil berjalan cepat kepalaku terus menoleh ke kiri dan ke kanan.


Kini aku sudah tiba di rumah tua yang Agus janjikan. Katanya dia akan menjemputku di sini, lalu membawaku pergi. Entah ke mana aku pun belum tahu. Yang pasti, asal bersamanya aku pasti bahagia. Begitulah kata hatiku.


Sudah pukul 11:00. Agus belum juga menunjukkan batang hidungnya. Barangkali dia belum punya kesempatan untuk kabur.


Aku sudah tidak bisa lagi menghubungi untuk menanyakan keberadaannya. Sebelum berangkat, kartu sudah kubuang agar tidak ada yang bisa menghubungi atau mencariku. Kini, aku hanya bisa menanti. Agus sudah berjanji akan menungguku di sini. Kenyataannya, akulah yang menunggunya.


Agus tidak pernah ingkar janji. Begitulah caraku menghibur hati. Namun, rasa was-was lebih merajai. Meracuni pikiranku yang mulai meragu. Walau begitu, di sini aku menunggunya, masih berharap dia akan membawaku pergi bersamanya.


"Maya ... kamu di dalam sana?"


Terdengar suara seorang pria memanggil namaku. Aku yang sedang menunggu di dalam segera keluar dan berlari kecil untuk menemui pemilik suara itu.


Perasaan bahagia mengiringi langkahku. Lunas sudah penantianku. Ternyata bukan harapan palsu. Sudah kubilang, Agusku tidak akan menipu. Dia bukan tipe orang seperti itu.


Baru saja aku merasakan terbang melayang, seketika jatuh terhempas hingga harapanku hancur berkeping-keping! Mendapati pria yang ada di luar bediri membelakangiku bukanlah Agus.


*****


Setelah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Dengan cara like dan komen. Bantu subscribe juga, ya😊


Singgah juga di cerbungku yang berjudul Dikhianati Suami dan Mertua

__ADS_1


__ADS_2