
"Halo, kamu dengar aku, kan? Gus ... Dengar, kan?" Belum ada sahutan, kulirik sekali lagi ponsel, masih terhubung. Hatiku menjadi cemas.
Lagi, aku memanggilnya dan berkata bahwa aku masih menunggunya. Mengharapkannya. Memohon agar ia segera tiba.
"Maafkan aku, Maya." Tuuut. Telepon terputus. Mulutku telah menganga namun belum sempat berkata, Agus telah memutuskan telepon dari seberang sana. Tanpa memberikan alasan apapun dan tak memberi kesempatan padaku untuk bertanya mengapa.
Runtuh sudah harapanku. Lututku melemah tak mampu menopang tubuhku yang juga ikut melemah. Aku jatuh berlutut. Agus, dia yang memberi tali harapan, dia pula yang memutuskan. Sayapku telah patah sebelah. Tak bisa lagi terbang mengejar bahagia.
Marah! Ingin sekali marah padanya. Jika bukan karena dia, aku tidak akan berada di sini. Di rumah tua ini. Tempat yang ia janjikan. Yang akan menjadi titik awal perjalanan aku dan dia.
Juragan menghampiri dan duduk menyamaiku dengan lutut dibekuk satu. Kubiarkan ia meraih ponselnya dari tanganku. "Kita pulang, yuk," bujuknya lembut. Diusapnya air mataku dengan tisu. Tak berdaya menepis tangan itu.
"Bapak sama Ibu pasti khawatir."
Tak kuhiraukan ucapannya.
Tidak ada pilihan lain. Menyerah dan pasrah menjalani takdir yang ternyata tak bisa kurubah.
"Dia berkata apa?" Tatapanku kosong ke depan.
"Cuma bilang, titip kamu. Dia minta aku untuk menjagamu."
"Bagaimana mungkin dia menitipkanku pada manusia bejat sepertimu." Aku menoleh padanya. Seketika ia menundukkan kepala saat mataku menatap tajam matanya. Seakan malu akan perbuatannya.
"Maafkan aku, Maya. Izinkan aku bertanggung jawab atas perbuatanku. Aku bukan orang seperti itu."
"Lalu, orang seperti apa?"
"Aku khilaf."
"Khilaf?"
"Tolong. Izinkan aku bertanggung jawab sebagai Bapaknya."
"Bukankah Anda mandul?"
__ADS_1
Ia diam untuk sesaat. "Ayo kita pulang. Jangan biarkan orangtuamu khawatir." Segera ia berdiri dan mengambil tas berisikan pakainku, lalu membawanya ke mobil. Tanpa paksaan aku pun membuntutinya dari belakang.
*****
"Maaf, Pak, Bu. Saya membawa Maya keluar tanpa permisi," ucap Juraga santun setelah kami masuk rumah. Tak kusangka pria itu menyelamatkanku tanpa diminta. Seolah aku tidak kabur dari rumah.
"Saya melihatnya di luar rumah. Lalu mengajaknya keluar sekedar jalan-jalan dan ngobrol agar saling kenal satu sama lain. Untuk mengurangi kecanggungan diantara kami."
"Ini, Pak. Kata Maya ini kesukaan Bapak." Juragan menyodorkan martabak Mesir. Sengaja ia bertanya apa makanan kesukaan Bapak saat masih di jalan. Sepertinya dia tipe orang yang pandai mengambil hati.
"Terimakasih." Ibu mewakili Bapak mengambil martabak yang disodorkan Juragan.
"Lain kali jangan diulangi. Selama dia belum menjadi istrimu, dia adalah tanggung jawabku." Pesan Bapak.
Juragan menganggukkan kepala. "Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Sudah lancang membawanya tanpa permisi."
Ternyata, selain pandai merusak wanita dia juga pandai melindungi wanita. Melimpahkan kesalahanku padanya. Padahal bisa saja dia memanfaatkan keadaan ini memburukkanku. Tapi, dia tidak melakukan itu. Apa-apaan ini, mengapa aku memujinya? Tidak ... tidak!
Setelah sedikit berbincang, Juragan segera permisi. Sebenarnya aku nyaman dia tetap berada di sini. Bukan karena aku mulai menaruh hati, tapi aku takut akan ada luapan amarah yang berapi-api. Yang sudah ditahan sedari tadi. Dengan adanya Juragan, amukan itu tidak akan terjadi.
"Jaga harga dirimu," ucap Bapak sebelum memasuki kamar. Raut wajahnya menggambarkan kekesalan. Sudah kuduga, Bapak dan Ibu mengetahui yang sebenarnya.
"Beruntung kamu nggak jadi pergi dengan Agus. Kalau tidak kamu akan menyesal." Ibu berusaha meredam emosi dengan mengepalkan kedua tangannya.
Kuurungkan niatku bertanya mengenai Agus. Percuma. Alasannya tidak jauh karena Juragan pelakunya dan siap bertanggung jawab.
"Diluar sana banyak yang menuntut tanggung jawab. Kok, kamu malah mau lari menghindar. Bodoh!"
"Kenapa nggak dilaporkan saja, Bu?"
"Lha, dulu kenapa kamu nggak laporin." tanya Ibu balik, pertanyaan yang membuatku merasa tersudut. Aku menundukkan kepala. Timbul perasaan malu dalam hatiku.
"Nggak ada saksi, Bu," jawabku pelan sambil berusaha menahan air mata yang siap tumpah.
Benar tidak ada saksi. Tapi, bukan itu alasannya. Selain itu aib, aku dijual untuk melunasi hutang yang dipakai untuk biaya rumah sakit saat aku dirawat karena asam lambungku kambuh. Aku berpikir, biarlah jika biaya rumah sakit itu memberatkan orangtuaku. Maka, dengan cara inilah aku menanggungnya meski batin tak terima. Dan ternyata, itu semua adalah fitnah Juragan untuk Bapak.
__ADS_1
"Jadi, kok bilang mau laporin? Pakai ini ...." Ibu mengetuk-ngetuk keningnya dengan jari telunjuk, sedang tangan yang satunya berkacak pinggang.
"Jika dilaporkan, bisa-bisa kita yang jadi terlapor. Dia menuntut balik karena telah difitnah. Huh ... bodoh!" umpat Ibu. Memandangku sebagai musuh. Setelah itu menyusul Bapak memasuki kamar.
Sikap Ibu kembali dingin. Tak hanya itu, kata-kata yang keluar pun bagai belati. Selalu menyayat hati. Sungguh, perasaanku tak berarti. Tentang keinginanku, tidak ada yang mau mengerti. Semua memaksaku menjalani takdir ini.
*****
Di pagi buta Bu Sri menelepon, mengajak kerjasama dengan imbalan yang bagiku sangat menggiurkan.
"Aku akan menuruti semua yang kamu mau. Akan kubantu melancarkan hubunganmu dengan Agus. Bagaimana?"
Aku yang masih berbaring sontak bangkit menyibak selimut dan duduk di tepi ranjang. Lelahku karena kurang tidur seketika berubah menjadi semangat. Tiba-tiba Bu Sri menjelma menjadi teman kerjasama yang baik. Bu Sri akan membantu meloloskanku dari tali jerat yang membelengguku. Dan dia, tidak akan berbagi suami denganku. Sama-sama menguntungkan.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanyaku antusias. Aku memasang telinga baik-baik. Menempatkan erat handphone pada telinga sebelah kanan. Mendengarkan dengan seksama agar tidak ada kalimat yang terlewatkan.
"Kamu buat pengakuan bahwa bukan suamiku pelakunya. Selama ini kamu sengaja menuduh suamiku karena orang yang menghamilimu lari. Setuju?"
Apa? Pekik batinku. Semangatku menyurut. Tubuhku membungkuk lesu. Luletakkan tangan yang masih memegang handphone di sebelah kananku.
Duniaku seketika berhenti berputar. Jantungku berhenti berdetak. Pandanganku kosong. Untuk sesaat aku lupa bernapas. Hingga kusadari gawaiku kembali berdering. Kulirik, masih nomor yang sama. Nomor yang belum tersimpan namun aku sudah mengenalnya sekali melihat saja.
Pelan kuraih benda pipih itu. Memencet tombol berwarna hijau. Lalu, menempelkan kembali pada telinga.
Bu Sri sudah mendesak jawaban. "Gimana? Bukan hal yang sulit, kan?"
Otakku sulit bekerja untuk mencerna apa yang ditangkap indra pendengaranku. Pertanyaan itu hanya berputar-putar di kepala. Sedang suara Bu Sri masih berisik di telinga. Seiring dengan itu, ada sesuatu yang menyelusup dalam dada. Rongga pernapasanku tak dapat menghirup udara dengan sempurna.
Lagi, aku tersadar saat Bu Sri memanggil namaku. Menuntut persetujuan dariku. "Baiklah. Nanti siang aku tunggu kamu, ya."
Aku tak menjawab sepatah kata pun. Bu Sri begitu antusias. Ia mendoktrin bahwa ini sangat baik untukku.
Setelah obrolan berakhir. Aku menarik napas dalam. Lalu menghembuskan kembali dengan kasar.
Bagaimana mungkin aku mengakui ini bukan perbuatan Juragan? Aku bukan artis jebolan akademi, yang sudah memberi laporan lalu mencabut kembali laporan itu. Kerja sama yang ditawarkan Bu Sri, sebenarnya siapa yang paling diuntungkan?
__ADS_1