Menikah Dengan Pria Yang Menodaiku

Menikah Dengan Pria Yang Menodaiku
part 2


__ADS_3

Kutatap pria itu dengan tatapan benci. Pria yang pandai bersandiwara dan membuatku menderita. Pria itu tahu, siapa yang menyebabkan aku berbadan dua.


"Jangan berpura-pura, Pak. Mengakulah!" Suaraku parau. Bibirku bergetar. Mataku nanar menatapnya tidak sabar. Berharap ia mengakuinya.


"Apa maksudmu, Maya?" Ibu mengernyitkan dahi. Merubah posisi bersandar menjadi duduk tegak.


"Tanyakan saja pada suami Ibu!" Netraku menatap lurus pada lelaki tua itu.


"Lancang mulutmu! Dia Bapakmu. Bukan orang lain! Dari keringatnya kau dibesarkan, Maya. Dari umurmu empat tahun!" Suara Ibu meninggi. Bringsut dari duduknya dan menunjuk wajahku. Tak terima jika pria yang selama ini membesarkanku kusebut dengan panggilan suami Ibu. Itu artinya, aku tidak menghormatinya sebagai Bapakku.


"Tapi aku sudah dijual, Bu! Aku dijual pada juragan Handoko untuk melunasi hutang yang dipakai untuk biaya rumah sakit selama aku dirawat! Aku memgandung anak juragan!" Suaraku meninggi. Aku tak kalah marahnya saat Ibu tidak mencoba memahamiku.


Bukan maksudku melawan Ibu. Aku hanya ingin dimengerti. Bukan dihakimi.


Aini menatapku dengan bercucuran air mata. Ia menggelengkan kepala. Entah apa maksudnya. Tidak percaya? Atau tidak menduga? Entahlah...


"Maya! Jangan fitnah orang sembarangan!" hardik Ibu.


Pria yang tak sudi lagi kupanggil Bapak itu tiba-tiba memegang dada. Bibirnya hendak berkata tapi tak bisa. Seperti sedang menahan sakit. Wajahnya pucat pasi. Mungkin, dia sangat terkejut kelakuan bejatnya terungkap.


Ibu panik. segera Ibu merengkuh Bahu pria tua itu. Pun dengan Aini. Ia segera menghampiri Bapak. Namun, tidak dengan diriku. Rasa sakit yang dideritanya saat ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang kuterima.


"Apa Juragan Handoko berkata begitu?" tanya Bapak sambil menahan sakit.


Aku acuh dan memalingkan wajah. Buat apa bertanya. Sedang dia terlibat di dalamnya. Tak kusangka, pria yang sudah belasan tahun menjadi Bapak sambungku ternyata unggul dalam bersandiwara.


Seketika, aku mampu melupakan segala kasih sayangnya. Rasa sayang dan hormatku padanya pun luntur sudah.


"Keterlaluan kamu, Maya! Melemparkan kelakuan busukmu pada orang. Bahkan Bapakmu sendiri. Jangan memfitnah orang!" pekik Ibu lagi.

__ADS_1


Tidak pernah berusaha sedikit pun mempercayaiku. Lebih percaya kepada suaminya. Tidak memahami bagaimana hancurnya perasaan dan masa depanku sebagai anak gadisnya. Malah menuding akulah yang bersalah. Akulah yang telah berzina. Bahkan aku dianggap telah menuduh dua lelaki itu sebagai pelakunya.


"Aku nggak fitnah siapa-siapa, Bu. Aku berkata apa adanya. Percayalah ...." Aku mengiba. Berharap Ibu mempercayaiku.


"Bagaimana mau percaya? Juragan Handoko mandul. Kamu tau sendiri dia nggak punya anak. Jelas kamu sudah menuduhnya!"


Aku bungkam. Tak mampu membela diri. Ibu benar. Juragan tidak memiliki anak. Mengapa selama ini aku tidak terpikir ke sana? Lalu, bagaimana dengan nasibku? Hal ini akan memperkuat bahwa aku sedang memfitnah mereka.


"Apa itu anak Agus? Apakah dia lari hingga kamu terpaksa menyusun skenario ini?" Ibu bertanya dengan tatapan tajam.


Aku menggeleng kasar. Agus tidak pernah menyentuhku. Tidak!


"Ibu akan temui dia untuk segera menikahimu! Buat malu saja. Pantas saja dia nggak pernah nongol lagi. Rupanya begini kejadiannya."


Segera aku bersimpuh di kaki Ibu. Memohon agar tidak melakukannya. Karena memang bukan dia pelakunya.


"Aku mohon, Bu. Bukan dia orangnya. Ini benar-benar perbuatan juragan Handoko." Aku tersedu dalam keadaan bersimpuh.


"Mau kemana, Pak?" tanya Ibu sambil berlari kecil mengejar langkah Bapak. Hingga aku yang masih bersimpuh terjengkang. Sepertinya Ibu khawatir akan terjadi sesuatu kepada Bapak. Mengingat kesehatan Bapak sedang bermasalah.


Jangan-jangan pria tua itu akan menemui Agus. Dia akan memanfaatkan hubungan kami untuk memaksa Agus agar menikahiku. Ini tidak boleh dibiarkan.


"Diam di sini!" bentak Ibu saat aku berdiri.


Terpaksa aku menurut. Aku takut Ibu akan lebih murka jika aku membangkang. Bisa-bisa suaranya menggelegar hingga satu desa mendengar.


'Kasihan sekali kamu. Maafkan aku, Agus!' batinku.


Tak lama, Aini pun ikut menyusul. Tinggallah aku sendiri di rumah. Kini, hidupku terasa hampa. Tidak ada seorang pun yang akan percaya. Rasanya ingin nyawa ini dicabut saja. Agar hilang beban yang kurasa.

__ADS_1


Rasanya jarum jam tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya. Berasa waktu terhenti begitu saja. Menunggu kepulangan mereka dan kabar apa selanjutnya.


"Kak ... kak ...." Terdengar dari luar Aini berteriak memanggil namaku. Aku yang sedang meratapi diri yang malang ini di cermin tua segera membuka pintu.


Adikku tampak tersengal-sengal setelah berlari. Hingga ia kesulitan untuk mengatakan sesuatu. Ia mengatur napas sambil membungkukkan badan dengan tangan menempel di paha untuk penyanggah tubuhnya.


"Ada apa, Dek?" tanyaku tidak sabar.


Ia masih kesulitan untuk berbicara karena napasnya terasa sesak. Namun, tangannya melambai-lambai menyuruhku untuk mendekat. Apakah terjadi sesuatu? Bagaimana dengan Agus? Itu kabar pertama yang ingin aku dengar.


"Kemana?" Aku menautkan kedua alis.


"Bapak ke rumah juragan Handoko," jawabanya setelah napasnya tenang.


"Ngapain?" Jantungku berdetak hebat mendengar Bapak mengunjungi rumah Juragan Handoko. Aini hanya menggelengkan kepala.


Apakah pria tua itu sedang meminta perlindungan? Atau, akan merencanakan sesuatu yang akan menyudutkanku?


Aini menarik tanganku agar aku ikut dengannya. Anehnya, tidak ada penolakan dariku.


Setibanya di sana. Aku diperlihatkan adegan menegangkan. Bapak menghajar Juragan Handoko hingga tersungkur. Sedang Ibu tampak berusaha melerai. Begitu pula dengan istri Juragan.


Oh, rupanya Bapak murka karena Juragan tidak merahasiakan bahwa dirinyalah dalang di balik kelakuan bejat mereka.


Aku memutar badan hendak meninggalkan hal yang menurutku tak penting. Keadaanku tidak akan bisa dirubah seperti semula.


Ada sesuatu yang menghentikan langkahku. Kalimat yang Bapak lontarkan menggelegar bak petir yang menyambarku.


*****

__ADS_1


Setelah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Dengan cara like dan komen. Bantu subscribe juga, ya😊


Singgah juga di cerbungku yang berjudul Dikhianati Suami dan Mertua


__ADS_2