
Part 16
"Lalu?" Rasa penasaranku semakin membuncah.
"Dulu Handoko pernah menikahi gadis muda. Dia seorang mahasiswa ...."
"Terus, Nek?" Aku penasaran hingga mengangkat kepala dari pangkuan Nek Darti. Ternyata denganku adalah pernikahan yang ketiga. Dan Bu Sri bukanlah satu-satunya wanita di hatinya.
"Itu bukan kemauan Handoko. Dia dipaksa ibunya menikah dengan wanita muda itu untuk memiliki anak. Handoko juga nggak menerima begitu saja. Ia meminta restu dari Sri. Tapi, rasa cemburu Sri sangat berlebihan sampai seperti orang stres."
Oh, begitu. Aku sudah salah paham. Kenapa Bu Sri begitu bucin? Bukankah dia punya banyak uang sehingga bisa melupakan sakit hatinya dengan melakukan apapun yang ia mau. Seperti belanja, atau jalan-jalan seperti kebanyakan orang kaya yang kutahu ketika suaminya mendua.
"Apa ... istri mudanya tidak hamil, Nek?" Jika benar tidak hamil juga setelah menikah dengan wanita lain, pantas saja Bu Sri begitu kukueh mengatakan bayi yang kukandung bukanlah anak Juragan.
Nek Darti menggeleng. "Tidak," jawabnya singkat.
Aku tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutku pada Nek Darti. Jika pada istri keduanya saja Juragan Handoko juga tidak bisa memiliki anak, lalu bagaimana dengan anak yang kukandung?
Pantas saja Bu Sri begitu kuat keyakinannya bahwa ini bukanlah anak suaminya. Dan sudah pernah diduakan tetapi masih setia. Wajar saja jika Bu Sri seperti kerasukan setiap kali Juragan Handoko bersamaku. Ia merasa kesetiaannya tidak dihargai.
Tiba-tiba muncul perasaan iba dan salut menjadi satu dalam hatiku. Bu Sri wanita hebat. Aku sendiri belum tentu mampu menerima kenyataan itu.
"Kenapa aku tidak pernah mendengar berita ini, Nek?"
"Ya iyalah. Kan memang disembunyikan sampai benar-benar memiliki anak."
Oh, gumam hatiku sambil manggut-manggut.
*****
Makin hari perutku semakin membuncit. Mabukku pun sudah hilang. Makan tidak perlu lagi disuapin. Dan tidak butuh lagi kehadiran Juragan untuk menghilangkan rasa pusing dan mual.
Nek Darti juga sering menasihati, jika kandungan sudah mendekati persalinan, maka rajin dibawa bekerja agar tidak sulit saat melahirkan.
__ADS_1
Aku sering membantu meringankan pekerjaan Nek Darti, seperti menyapu halaman rumah, dalam rumah, mengepel sampai mencuci piring.
"Jangan diborong kerjaannya, Maya. Nanti Nek Darti ngerjain apa?" selorohnya. Aku pun tertawa.
Sejak mabukku hilang, aku menjadi lebih sering beraktifitas di rumah. Aku juga semakin akrab dengan Nek Darti. Nek Darti sosok yang penyayang, pantas saja dipertahankan bekerja di sini. Dan Nek Darti juga diperlukan dengan baik, keluarga Juragan juga royal, itu sebabnya betah bekerja di keluarga ini. Pantas saja Nek Darti kenal betul seluk-beluk keluarga ini.
Aku juga sudah jarang bertemu dan berkomunikasi dengan Juragan. Padahal rumah kami bersebelahan. Namun, dibatasi pagar dinding yang tinggi. Rumah Juragan tidak besar dan halamannya luas dan dipagari dinding yang menjadi penghalang rumahku dan rumah Juragan. Sehingga sekedar kelur masuk rumah saja tidak kelihatan.
Sesekali Juragan mengirim pesan padaku sekedar menanyakan keadaanku, tetapi tak pernah kubalas.
Tapi, Juragan selalu memantauku melalui Nek Darti. Apakah aku baik-baik saja? Memberikan uang lebih untuk dibelanjakan buah dan sayuran yang bergizi untuk aku dan janinku.
Herannya, buah dan sayuran yang dibelanjakan harus sesuai yang Juragan perintahkan. Katanya itu yang baik untuk janin dan Ibunya. Tahu dari mana dia? Apakah dia menelusuri di Google?
Ah, pasti Bu Sri merasa senang sekarang. Setelah mendengar cerita Nek Darti, aku menjadi iba padanya. Sosok wanita yang kuat dan tetap setia. Begitu bucinkah?
"Mau ikut ke pasar?" tanya Nek Darti dengan membawa keranjang belanjaan. Aku menggeleng.
"Yaudah, Nek Darti pergi dulu, ya."
Selama tinggal di rumah ini, belum pernah sekali pun aku keluar rumah. Sekedar olah raga jalan pagi pun aku di sekitaran halaman rumah saja.
Padahal ingin sekali aku keluar walau hanya ikut belanja ke pasar. Tapi ... aku belum siap bertemu dengan tetangga.
Aku masih malu. Apalagi denga perut yang sudah membucit, akan menambah bahan gosipan para tetangga. Biarkan mereka penasaran dengan kabarku karena tidak pernah melihat diriku.
Sudah lama aku tidak membuka akun Facebook. Jika diingat-ingat, sejak kejadian pelecehan itu menimpaku. Sejak itu aku tak punya semangat apapun. Menjadi pendiam. Dan semua aplikasi yang menghubungkan percakapan aku hapus.
Tapi, Ibu tidak pernah peka dengan perubahanku. Sekedar bertanya ada apa atau mengapa saja tidak pernah. Ibu hanya menuntut kami sebagai anak harus bangun pagi, kerjakan itu dan ini. "Anak gadis nggak boleh malas." Begitu kata Ibu jika aku dan Aini terlambat bangun pagi.
"Sakit itu jangan dimanjain. Dibawa gerak biar keringatnya keluar," ujar Ibu jika kami mengeluh kurang enak badan. Padahal setiap berobat bidan pasti bilang, "Istirahat yang cukup, ya." Dan bila beli obat warung juga sering ada tulisan 'istirahat'. Entah dapat teori dari mana Ibu.
Tapi, itu semua berdampak baik bagi kami kedua anak gadisnya. Kami bukan gadis pemalas yang bangun di siang hari meskipun musim libur sekolah. Mau masak apa pun kami bisa. Bahkan harus resep baru pun itu sangat mudah. Karena sudah mengenal dasar rasa dari aneka bumbu dapur.
__ADS_1
Tidak ada lagi yang bisa aku kerjakan. Semua pekerjaan rumah sudah beres. Nek Darti sedang ke pasar. Aku mengambil ponsel lalu rebahan di sofa sambil memainkannya.
Ada satu pesan WhatsApp masuk. Dahiku mengernyit begitu tahu dari Juragan. Kuklik pesan darinya agar terbaca semua.
[Meski kamu tidak membutuhkan aku? Apakah boleh aku menemanimu lagi?]
Aku abaikan pesan itu. Pindah ke aplikasi lain yang lebih menyenangkan bagiku. Facebook! Sudah lama aku tidak aktif lagi di sosmed.
Kuscroll laman berandaku. Melihat foto-foto kebersamaan teman semasa sekolah dulu. Tiba-tiba rasa rindu menjalar di hatiku. Indahnya masa itu, pikirku.
Masuk lagi pesan dari Juragan. [Apa kamu masih membenciku sampai terus mengabaikan aku? Setelah kebersamaan kita apakah kamu masih belum mengenalku?]
Aku menarik napas panjang. Lalu mengetik huruf demi huruf untuk membalas pesan darinya untuk yang pertama kali. [Bukankah sudah pernah kukatakan, jangan berlebihan memperlakukanku. Meskipun ruang hatiku sedang kosong, tidak akan ada tempat untukmu.] Terkirim.
Langsung centang dua berwarna biru. Sepertinya dia siap menunggu balasan dariku.
[Tidak bisakah kebaikan dan perhatianku jadi bahan pertimbangan buatmu?]
[Bukankah Juragan pernah bilang, semua yang kamu lakukan semata-mata untuk anakmu yang ada di kandunganku. Bukan untukku?]
[Begitu keraskah hatimu?]
[Iya] jawabku singkat.
Tampak di kolom chatnya mengetik, lalu hilang. Mengetik lagi lalu hilang lagi sampai beberapa kali. Apakah dia sedang mencari alibi? Sampai akhirnya tampak ia tidak aktif lagi.
Masih menjelang siang. Rasa kantuk sudah menyerang. Akibat hanya rebahan. Tak tahan akhirnya memejamkan mata.
Baru saja terpejam, ponselku berbunyi lagi. Suara khas aplikasi berwarna hijau memaksaku membuka mata. Pasti Juragan, tebal hatiku. Entah mengapa hatiku begitu menggebu-gebu. Penasaran dengan isi pesannya yang tadi sempat kutunggu. Kalimat apa yang susah payah ia rangkai untuk menggoyahkan aku.
Tanpa berpikir panjang, segera kubuka ponsel dan menuju aplikasi yang menghubungkan perangkat kami.
Aku mengernyitkan dahi. Sepertinya bukan Juragan. Satu pesan dari no yang belum kukenal. Tanpa foto. Langsung aku klik.
__ADS_1
[Maya, ini aku]
Jantungku berdebar hebat membaca pesan baru yang aku tidak tahu dari siapa. Satu nama begitu kuat dalam benakku. Hanya saja aku tidak berani menyebut nama itu. 'Apakah itu kamu'? tanyaku dalam hati.