
Tak juga diraih ponsel yang kusodorkan, aku memutuskan untuk menerima sendiri panggilan Bu Sri dan memencet tombol pengeras suara agar Juragan ikut mendengarkan.
"Mana suamiku. Kenapa ponselnya mati?" Suara dari seberang langsung menyerang.
"Maaf, Bu. Sekarang Juragan juga suamiku. Alangkah baiknya diganti dengan suami kita." Kulirik Juragan dengan ekor mataku. Ia menundukkan kepala. Seperti ada perasaan serba salah.
Jujur, kalimat yang baru saja kuucapkan adalah hal yang tidak ingin aku katakan. Namun, harus jika Bu Sri masih saja merendahkanku.
"Aku nggak peduli. Sampai kapanpun Handoko hanya milikku. Mana dia. Kenapa dari kemarin ponselnya mati. Aku mau bicara."
"Bisa sopan sedikit, Bu? Saat bersamaku Juragan adalah milikku. Tidak ada yang bisa menggangu termasuk Ibu." Bersandiwara seperti ini rasanya aku mual.
"Jangan kurang ajar kamu!" Amuknya. Seperti orang yang sedang naik tensi. Selanjutnya berderet kalimat tak sedap didengar yang ia cecar untuk melampiaskan amarahnya padaku.
Bosan meladeni, kuberikan benda pipih yang kugenggam pada Juragan agar dia yang membereskan istri yang tidak beretika.
Meski ragu-ragu, Juragan akhirnya berbicara pada istri pertamanya. "Halo, Sri?" tanya Juragan pelan.
"Han, kenapa ponsel dimatikan? Ngapain aja tadi malam? Kamu dirayu-rayu dia, ya? Kamu nyentuh dia. Ha?"
Aku malu mendengar ucapan Bu Sri. Pun juga dengan Juragan. Ia menatapku dengan perasaan tidak enak hati. Karena itu menyangkut hubungan kami berdua yang sebenarnya tidak terjadi apa-apa.
"Dengar, Han! Aku nggak pernah rela kamu tidur sama perempuan kotor itu, ya!"
"Sri, kamu ini bicara apa?"
"Kurang jelas? Aku nggak rela kamu tidur sama dia. Jangan kamu sentuh dia. Dengar? Atau jangan-jangan ... kamu sudah ...."
"Jaga ucapanmu, Sri." Juragan berusaha menghentikan kalimat yang sudah bisa ditebak kemana arahnya. Selanjutnya ia meminta Bu Sri untuk tidak meneleponnya jika hanya membicarakan hal seperti ini.
"Kamu jahat, Han. Kamu tega!" Terdengar emosi Bu Sri membuncah. Suaranya terdengar seperti meraung-raung. Bagaimana jika dia sendiri sana? Tiba-tiba saja aku mengkhawatirkan dirinya.
"Maafkan istriku," ucapnya pelan sambil menyodorkan ponselku. Ia telah memutuskan telepon secara sepihak.
Aku hanya diam. Bingung harus berkata apa. Ucapan Bu Sri sudah keterlaluan, disisi lain aku mengerti betapa sakit perasaannya membayangkan suami tercinta bersama wanita lain.
Saat ini aku berharap ia cepat keluar dari kamarku. Bagiku dia tetaplah orang asing yang membuatku tidak nyaman hanya berdua dengan dirinya. Mengusirnya itu tidak mungkin, maka aku yang pergi.
__ADS_1
"Aku mau bicara," ucap Juragan saat aku hendak keluar. Langkahku terhenti.
"Duduklah," pintanya. Melihatku hanya mematung, ia mendahului duduk di tepi ranjang. Aku pun menyusul duduk di sisinya namun agak berjauhan.
"Aku akan menyewakanmu rumah. Kebetulan sebelah rumahku sedang dikontrakkan. Maaf, rumah sederhana. Ini hanya sementara sebelum aku membangunkan rumah untukmu."
Rumah di samping Juragan? Sederhana katanya. Bagiku itu sangat bagus dan besar meski tak sebanding dengan rumah Juragan yang dikelilingi pagar. Apalagi hanya seorang diri. Aku akan merasa sepi.
"Aku hanya mau di sini," protesku tanpa menatapnya.
"Kamu istriku sekarang. Segala kebutuhanmu dan apa pun yang terjadi padamu itu adalah tanggung jawabku. Kamu harus menurut apa kataku."
Aku menatapnya tidak suka. Seakan dia akan bersikap semena-mena. "Aku nggak butuh rumah. Jangan berlebihan memperlakukan aku. Hatiku tidak akan bisa menerimamu, Juragan." Berusaha menyadarkannya. Agar ia tidak melakukan hal yang akan sia-sia.
"Aku lakukan bukan untukmu, tapi anakku."
Dug!
Seketika seperti ada yang menghujam jantungku. Ucapannya membuatku termangu. Mataku sempat menagkapnya melirik perutku sebelum akhirnya aku memalingkan wajah.
Sial! Aku terjebak dengan keangkuhanku sendiri. Sengaja atau tidak, jawaban Juragan membuatku merasa terpojokkan. Namun aku tak mau kalah, masih berkilah dengan alasan yang kupunya.
Juragan menyanggupi, ia akan mengawasi istrinya agar tidak lagi mengusikku. Dan, akan mengirimkan satu asisten rumah tangga untuk menemaniku agar tidak kesepian. Lebih tepatnya, menjaga calon bayinya. Begitu katanya.
Setiap kali Juragan sebut 'bayiku' pada janin yang kukandung, rasanya aliran darahku mengalir lebih cepat dan merambat kewajah hingga berasa hangat. Dia begitu yakin anak yang kukandung adalah janinnya, meski istrinya telah mengingatkan bahwa itu mustahil!
Benar, hanya Juraganlah yang menyentuhku sehingga keyakinanku tidak akan goyah. Sekali pun badai yang menepis fakta. Pun sebaliknya, Juragan tahu betul dia yang telah merenggut mahkotaku. Bisa ia rasakan betapa aku merintih kesakitan saat itu, dan bercak darah yang menempel di sprei menjadi bukti dan saksi atas perbuatan biadabnya. Itu sebabnya ia tidak pernah membantah.
*****
Setelah kenyang dengan wejangan yang Bapak dan Ibu suguhkan, Juragan pamit akan membawaku pulang. Ia berdiri dan menyalami tangan kedua orangtuaku dengan takzim. Lalu, dari belakangnya aku menyusul.
Tangan Bapak begitu dingin. Lama keningku menempel di tangannya. "Jangan menangis," ucap Bapak. Mungkin Bapak merasakan tetesan bening yang membasahi tangannya. Mendengar itu, bukan mereda, tangisku semakin pecah. Aku terisak hingga tubuhku berguncang.
Bapakku pahlawanku, itu berlaku dalam hidupku meski tak setetes pun darahnya mengalir dalam tubuhku. Namun, telah banyak peluh mengucur berjatuhan dari tubuhnya. Ia rela berjemur di bawah terik matahari dan membanting tulang untuk mengihupiku. Meski tidak mewah, tetapi Bapak selalu berusaha dan tidak pernah mengeluh.
Begitu Aini lahir, kasih sayang Bapak tidak berkurang. Kami diperlukan sama. Hingga aku tidak tahu bagaimana rasanya menjadi anak tiri. Karena ketulusan Bapak, aku lupa dengan Bapak kandungku.
__ADS_1
Tangan kiri Bapak mengusap kepalaku. "Ingat pesan Bapak, ya." Suaranya terdengar parau.
Aku mengangkat kepala lalu mengangguk. Benar saja, tampak matanya juga basah. Bapak berusaha tampak kuat. Namun, air mata yang berusah ia tahan agar tidak tumpah telah menyampaikan bagaimana perasaannya.
Ibu. Belum sempat aku meraih tangannya, Ibu sudah lebih dulu menubruk tubuhku. Tangannya memelukku begitu erat. Seakan tak ingin aku pergi.
Terkadang Ibu bagai macan yang selalu meraung keras hingga membuat mangsanya bergetar. Terkadang, Ibu bagai peri baik penuh kasih sayang. Apa pun perannya, Ibu adalah sosok yang ingin terbaik untuk anaknya.
"Sering-sering pulang, ya, Kak," ucap Aini setelah ia melepaskan pelukannya. Aku tersenyum dan mengusap pipinya.
Mereka bertiga mengantarku sampai depan pintu. Di depan rumah sudah menanti seorang supir dengan mobil gagah berwarna hitam. Juragan membukakan pintu untukku. Aku masuk lalu disusul olehnya. Perlahan supir mengendarai mobil dan membawaku meninggalkan halaman itu.
*****
Perlahan kakiku memasuki rumah baru. Di dalam, ternyata Ibu mertua sudah menyambutku. Sambutan hangat dengan suara yang riuh. Gerakannya masih lincah meski usianya sudah sepuh.
Ibu mertua menggandengku menuju ruang tengah. Ternyata sudah ada beberapa kerabat berkumpul di sana. Menyambut kehadiranku dengan memecahkan balon yang menggantung di atas hingga berjatuhan potongan kecil kertas berwarna-warni. Meniupkan terompet kecil membuat kemeriahan semakin berasa. Semua itu persis seperti yang kulihat di televisi. Apakah begini tradisi orang kaya?
Satu persatu memelukku dan mengucapkan selamat. Aku tidak tahu apakah semua tulus atau hanya bersandiwara. Sebab, aku merasa sebagai orang ketiga dalam rumah tangga Juragan. Meski aku bukanlah pelakor.
Bergantian mereka memperkenalkan diri. Ada yang sebagai keponakan, sepupu, Bibi, Paman, Adik. Semuanya tampak ramah, namun belum bisa menetralkan tubuhku yang kaku. Aku canggung berada di tengah-tengah mereka yang sangat terlihat orang berpunya.
"Ayo kita mulai," ucap Ibu mertua. Dibelakangnya ada dua orang wanita cantik mendorong meja beroda. Di atas meja itu bersisi penuh makanan dengan menu utama nasi tumpeng yang berdiri di tengah-tengah menu lainnya.
Setelah Bapak mertua memimpin doa, kami berdua diminta memegang pisau bersamaan untuk potongan pertama. Hal yang paling membuatku kesal saat ada drama saling suap. Mereka kompak meminta Juragan untuk menyuapiku, pun sebaliknya. Suara tepuk tangan dan sorak gembira saat permintaan mereka terlaksana. Sedang aku memasang senyum terpaksa.
Semua tampak bahagia. Saling berebut makanan yang ada di meja. Bahkan ada yang tidak segan menyomot ayam yang sudah di piring saudaranya. Keseruan yang kulihat tidak seperti yang kuduga. Aku pikir mereka akan saling menjaga image, selalu menampakkan keanggunan dalam keadaan apa pun. Ternyata tidak.
Sesekali mereka menggodaku, mengajak bercanda sampai foto bareng. Aku berusaha mengimbangi meski merasa canggung, namun sikap ramah mereka membuatku nyaman. Aku merasa diterima di keluarga besar mereka.
Sesekali aku memergoki Juragan curi pandang padaku. Senyum tipisnya menggambarkan ketenangan. Ia seperti merasa lega melihat aku nyaman di tengah keluarganya.
"Han!" pekik seorang wanita. Semua yang sedang bercanda dan tertawa ria terdiam mendengar suara itu. Kemudian bersamaan menoleh ke arah suara berasal. Sampai seorang pria yang katanya adalah sepupu Juragan tidak sadar mulutnya sedang menganga karena akan memasukkan makanan ke dalamnya.
"Tega kamu, Han!" Bu Sri sudah berdiri di depan pintu dengan tangan berkacak pinggang.
"Kalian semua tega. Kalian anggap apa aku?" Kini Bu Sri menyalahkan semua orang. Matanya tampak nanar. Wajahnya tidak segar seperti biasanya. Sepertinya ia benar-benar depresi dengan pernikahan suaminya.
__ADS_1
Ia protes dengan acara kecil yang diadakan keluarga Juragan. Menurutnya, ini keterlaluan. Tidak menghargai perasannya sebagai istri pertama. Berbahagia diatas penderitaan orang lain.
Juragan menghampiri Bu Sri. Disusul dengan Ibu mertua. Entah mengapa ada perasaan tidak rela. Karena aku juga istri Juragan yang harus dijaga perasaannya. Apa? Ada apa denganku?