
Maya ini aku.
Kubaca ulang pesan dari seseorang itu. Hatiku bergemuruh lagi. Tidak ada nama lain dibenakku selain satu nama.
Nama yang pernah kusemat dalam doa kelak dia menjadi jodohku. Nyatanya dia sama sekali tak peduli dengan apa yang kuderita. Pergi menghilang setelah menyuruhku menunggunya.
"May, aku akan membawamu apapun yang terjadi. Setuju atau tidak orangtuaku, kamu satu-satunya orang yang kucintai, satu-satunya yang kelak bakal jadi istriku. Tunggu aku di pondok tempat kita biasa bertemu. Aku akan datang menjemputmu setelah semua kubereskan," ucapnya kala itu. Terngiang masih di telinga ini saat ia menyuruhku menunggu.
Ponsel tidak aktif, hari semakin pekat, mendung dan desau angin membuat suasana semakin mencekam ketika aku menunggu dia yang tak datang-datang. Hatiku kacau. Ingin menangis dan berteriak satu waktu.
Sampai Juragan tiba-tiba muncul di depanku. Saat itu aku masih percaya dia ditekan, diancam atau ada hal lain dilakukan juragan padanya.
Setelah semua kulalui sepertinya aku harus mengubah pikiran. Andai dia memang mencintaiku mengapa tidak serta menerjang badai. Bukankah dia yang mengatakan apapun yang terjadi akan membawaku demi cinta kami.
Ancaman dan tekanan bukan suatu yang berarti jika memang Agus mencintaiku. Kami bisa kabur entah ke mana. Ke luar negeri jadi TKI, misal. Atau merantau ke kota lain dengan bekal seadanya. Demi cinta. Harusnya dia berjuang bersamaku.
Bukan malah meninggalkan aku dengan lelaki tua di pondok itu. Kemudian menghilang tanpa kabar berita. Persetan dengan cinta. Semua yang Agus sampaikan bohong! Dia tidak benar-benar mencintaiku. Terbukti ketika dia membiarkan aku jatuh dalam sangkar emas berbalut Duri di istana juragan Handoko. Sama sekali tak berniat menolongku.
Agus.
Nama itu … Setelah perutku membesar, baru kemudian lelaki itu datang memberi kabar. Ah, aku tak peduli lagi padanya.
Blokir.
Cara gampang tidak berbicara pada orang.
Baru beberapa menit kutaruh ponsel di atas nakas.
Tirrt.
Nomor tak dikenal memanggil.
Huh. Kuhempas napas kasar. Siapa lagi ini?
Aku yakin pasti dia lagi. Memang si Agus ini pantang menyerah. Angkat. Tidak. Angkat. Tidak. Lebih baik diangkat saja. Akan kumaki dia dengan makian yang paling indah. Biar lelaki itu tau bagaimana sakitnya luka yang pernah ia torehkan itu.
"Hallo, ngapain kamu nelpon-nelpon aku? Sori ya, Gus. Aku gak sudi menerima kamu lagi! aku sudah bahagia, jangan ganggu rumahtangga aku dan Juragan Handoko, dengar! Mau seratus kali ganti nomor aku tau ini pasti kamu. Biar bagaimanapun juragan Handoko selalu ada untuk aku. Kamu harus tau, aku tidak lagi mencintai kamu! Sejak kamu meninggalkan aku, membiarkan noda yang melekat padaku kutanggung sendirian, kau bukan siapa-siapa bagiku!" teriakku panjang lebar, sampai menahan napas jengkel. Aku ngos-ngosan dibuatnya.
"Jadi kamu mencintai siapa?" tanya dari seberang, pelan. Saking kesalnya dengan Agus. Aku menjawab dengan keras, "Juragan Handoko!"
Sebentar!
__ADS_1
Aku menutup mulut. Perasaanku mendadak tidak nyaman. Suara itu? Astaga! Itu suara Juragan bukan suara Agus.
Klik.
Kumatikan ponsel tanpa pamitan. Muka ini rasanya ingin kusimpan di dasar Bumi paling jauh.
Malunya!!! Mengapa aku tidak membiarkan penelpon menyapa duluan atau menyebutkan nama. Gara-gara kesal, aku keceplosan. Niatku hanya ingin membuat Agus cemburu, Agus kesal, dan Agus kecewa. Kalau begini …
Duh pusing. Pasti juragan Handoko salah paham. Lagian mengapa juragan menelpon pakai nomor tak dikenal.
Aku menutup muka dengan bantal. Entah berapa lama rasanya aku menutup muka saking malunya, padahal tak ada juragan di kamar. Tiba-tiba sebuah tangan mengelus kepalaku.
"Kenapa kamu harus malu? Emang bocah itu sering nelpon kamu ya?"
Astaga. Juragan nongol sembarangan. Andai saja Doraemon ada di sini, bakal kupinjam baling-baling bambu miliknya. Sekalian pintu ajaib untuk masuk ke mana saja.
Malu.
"Ulangi lagi donk kalimat yang tadi! Terdengar menyenangkan. Emang si Agus udah balik dari Papua?"
Papua! Jauh amat.
"Maaf, aku tidak mungkin jatuh cinta sama orang jahat seperti juragan, juragan merenggut masa depanku."
"Dengar, Maya! Harus berapa kali aku jelaskan padamu. Aku sama sekali tidak berniat memperko .... ah, aku pusing dengan Sri yang terlalu manja, aku pusing mendengar tuntutan keluargaku meminta cucu. Saat itu aku minum sedikit hanya untuk menenangkan diri. Kau datang disaat aku tidak bisa mengendalikan diri. Aku khilaf."
Ia keceplosan mengeluh mengenai Bu Sri.
"Semudah itu orang mengatakan Khilaf." Air mataku berkaca-kaca. Terbayang lagi jahatnya Juragan padaku. Sebenarnya aku masih trauma dengan semua. Tapi perlakuan baik yang ditujukan juragan membuat aku memudarkan rasa benci itu sedikit demi sedikit.
Aku menangkap bungkusan plastik abu-abu berlogo merah di tangannya.
"Kamu bersiap, kita mau pergi ke sebuah desa membuka farm baru. Kebun berisi sapi, palawija dan beberapa pohon jagung. Pertanian itu aku beri nama 'Maya Farm' hadiah untuk kamu." Mataku membulat.
"Ini juga!" Juragan memberiku sebuah map.
"Apa ini juragan?" tanyaku takut-takut.
"Sebagai permintaan maafku pada ayah dan ibumu. Aku menyuruh mereka untuk mengelola farm itu. Semua keuntungan penjualan sapi tidak boleh disetor ke aku. Tapi buat kamu dan orangtua kamu," jelas juragan lagi-lagi membuat mataku terkejut.
"Gak usah kaget, kamu juga istriku. Wajar mendapatkan hak yang sama seperti Sri. Sekarang, kamu bersiap ya."
__ADS_1
Aku tiba-tiba ingin muntah.
Huek. Hueks.
Tanpa malu aku muntah di depan Juragan. Tanpa segan pula ia menampung tangannya di bawah mulutku. Seolah sama sekali tidak jijik dengan muntah dariku, padahal aku sendiri merasa muntahan itu sangat bau.
Setelah puas muntah, juragan mengambil plastik yang ia bawa tadi, mengeluarkan isinya dengan kaki karena dua tangannya berisi muntah. Aku berinsiatif membantunya.
Ia menaruh muntahku ke dalam plastik. Mataku membulat melihat beberapa pakaian berserakan karena dikeluarkan dari bingkisannya. Ia tersenyum meletakkan tangannya di bahuku, setelah lebih dulu meraih tisu yang memang sudah disediakan.
"Cobalah! aku yakin kamu cantik memakai itu, Maya!" tunjuk juragan merangkul bahuku sambil mengambil sehelai pakaian.
Sebenarnya dia tidak terlalu buruk. Hanya sedikit dingin. Ia bahkan masih terlihat tampan meski tak lagi muda. Hanya saja aku membencinya karena ulahnya yang begitu mudah merenggut kesucianku yang kujaga dan akan kupersembahkan di malam pertama. Tentu bukan dengan dirinya.
"Baiklah, Juragan! Aku akan memakainya. Bisakah Juragan keluar sebentar," ucapku langsung disetujui juragan.
Baru saja kututup pintu. Aku langsung melihat ponselku di atas nakas.
Apa nomor yang pertama tadi punya juragan juga. Caranya mengirim pesan aku yakin itu Agus.
Tirrt.
Ponselku bervibrasi pertanda ada pesan masuk. Lagi, nomor tak dikenal.
{May, kau memblokirku? Padahal aku membeli nomor yang hampir mirip dengan tanggal hari jadi kita, tapi tak apa, aku bisa membeli seribu kartu nomor asal bisa terhubung denganmu, aku ingin bertemu denganmu, May. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Ini sangat penting, tentang Bu Sri dan Juragan. Juga tentang alasan aku tidak datang waktu itu.}
{Mau apa kamu? Aku tidak punya waktu} balasku kesal.
{Aku tau kamu marah, May, tolong kasih aku kesempatan menjelaskan}
Blokir.
Baru saja aku selesai memasang satu baju berwarna hijau lumut berrenda di pinggang. Aku dikejutkan suara vibrasi pesan lagi.
Astaga. Si Agus ini memang tidak mudah putus asa. Dasar! Kubuka layar pesan dengan santai.
{ May, aku tidak datang waktu itu karena disekap oleh Juragan. Dia juga mengancam akan melaporkanku ke polisi jika membawamu kabur, percaya padaku, Maya!}
Tulis Agus menghentikan gerakan tanganku, Kaget.
Benarkah juragan sekejam itu.
__ADS_1