
Sengaja aku memilih warung bakso di desa sebelah yang sepi pengunjung untuk meminimalisir bertemu dengan orang yang kami kenal.
Jika kepergok pada satu orang saja kalau kami sedang duduk bersama, bahkan dari jauh akan terlihat akrab, maka satu kampung akan heboh.
Bu Sri hanya memesan jus mangga, sedang aku teh manis dingin. Itu karena pertemuan kami semata hanya untuk membahas yang telah ia rencanakan.
Duduk berdekatan dengannya sungguh tidak nyaman. Dulu karena sungkan, sekarang merasa aneh. Entahlah, aku sulit menggambarkannya.
"Mau nikah sama Agus, kan? Gampanglah. Bisa saya urus. Yang penting jalani saja seperti yang sudah saya bilang." Wanita berjilbab yang dililitkan di leher dan lipstik tebal itu melepas kacamatanya yang berwarna coklat bentuk segi empat. Tangannya mengelus pahaku.
"Bahkan aku kasih uang buat modal kalian untuk cari tempat tinggal baru. Mau, kan?" Menyunggingkan senyum yang dibuat-buat.
Aku masih diam.
"Takut orangtuamu marah? Eleh, cuma sebentar. Habis itu juga baik lagi, kok. Jamin, deh."
Aku menggeleng dengan kepala menunduk.
"Jadi, apa?" tanyanya prihatin. Kepalanya sedikit menunduk menelisik wajahku.
"Aku nggak bisa melakukan itu, Bu. Maaf."
"Maksud kamu?"
Aku mengangkat kepala. Menatapnya tegas. "Ini anak Juragan."
"Bisakah tidak berkata seperti itu lagi?"
"Bukankah tujuan kita bertemu untuk membahas ini?"
Ia tampak berusaha menyembunyikan emosinya dariku. Digenggam erat gelas di atas meja yang masih berisi jus pesanannya. Mungkin dalam hatinya ingin sekali menumpahkan isi gelas itu kewajahku. Tak lama, ia melemaskan jemarinya dari gelas itu. Tampak menata emosi dan masih ingin berusaha membujukku untuk melancarkan misinya.
"Benar. Tapi, tujuan utama kita adalah bagaimana agar pernikahan ini tidak terjadi. Apalagi belum tentu suamiku yang pertama kali menyentuhmu. Iya, kan?"
Aku mengernyitkan dahi. Jelas sudah Juragan mengakui perbuatannya saat terjadi keributan dengan Bapak. Mengapa wanita ini masih bisa meragukanku?
"Iya, memang suamiku melakukan hal tak senonoh itu, tapi bukan hanya dia pria yang menyentuhmu, kan? Bahkan mungkin kamu lupa siapa Bapak dalam kandunganmu itu."
__ADS_1
Hatiku memanas. Namun, kubiarkan dia berbicara sesuka hatinya.
"Suamiku salah satu pria yang menyentuhmu. Sayang, dia terjerat dalam jebakanmu. Maklum, dia kaya, masih tampan dan masih gagah meski tak lagi muda. Tetapi tidak juga tua. Itu makanya kamu memilih dia untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Aku tidak heran, banyak wanita muda yang menginginkan dirinya meski harus jadi simpanan."
"Oh, iya. Suamiku adalah pria setia. Dia tidak akan melakukan hal itu kalau bukan pengaruh minuman beralkohol. Jadi ... sebagai istri yang baik, aku akan melindungi suamiku."
Benar, mataku sempat menangkap penampakan botol minuman beralkohol di dalam kamar itu.
"Satu lagi, kamu salah sasaran. Karena sampai detik ini, suamiku belum juga memberikan anak."
"Atau Ibu yang belum bisa memberikannya anak?" Aku tak bisa diam lagi.
"Jaga mulutmu!"
"Karena dalam kasus ini, sebagian besar yang tidak bisa memberikan anak adalah wanita." Sebenarnya aku menolak ucapanku sendiri, namun kukatakan demikian untuk membela diri. Kemandulan tidak selamanya wanita, tapi pria juga. Hanya saja sesama wanita selalu memandang wanitalah yang bersalah tanpa mencari tahu informasi yang sebenarnya. Memvonis si wanita mandul.
"Jika tidak tahu, lebih baik diam!" Ada kobaran api di matanya yang berusaha ia tahan agar tak menyala dan melahapku.
"Begitu pun denganku. Jika tidak tahu, lebih baik diam. Jangan menuduhku sembarangan," balasku.
"Batalkan pernikahan ini!" titahnya dengan wajah garang.
"Tidak!" Aku berubah pikiran. Yah, aku telah memutuskan untuk bersedia menikahi Juragan sejak Bu Sri mengajak menjalankan misi yang menurutnya sangat menguntungkan bagiku. Memang, awalnya aku tertarik. Sebelum menyadari bahwa itu benar-benar merugikanku.
Apalagi, Agus sudah mematahkan harapanku. Dia telah menyerahkanku pada Juragan. Tidak ada lagi yang kuharapkan selain menerima niat baik pemilik janin ini bertanggung jawab.
"Apa yang membuatmu berubah pikiran?"
"Rencana busukmu."
"Maksudmu?"
"Rencana ini semata demi menyelamatkan rumah tanggamu saja. Seenaknya menyuruhku mengklarifikasi bahwa ini bukan anak juragan yang akan menggiring opini orang bahwa aku bukan wanita baik-baik."
Bu Sri menatapku nanar. Memberi ancaman dengan suara bergetar. "Awas saja kalau pernikahan ini terjadi!"
Tak kuhiraukan. Aku berdiri untuk meninggalkan tempat ini. "Oh, iya," kataku teringat sesuatu. "Bujuk saja suami Ibu untuk membatalkan pernikahan ini." Aku begitu percaya diri bahwa itu mustahil. Bu Sri tidak akan mampu mencegah suaminya.
__ADS_1
Juragan sungguh teguh pendirian dan penuh tanggung jawab. Dapat kunilai saat Juragan menjemputku saat menunggu Agus. Sepertinya Juragan benar-benar orang baik. Apa? Mengapa aku jadi memujinya? Apanya yang baik? Orang baik tidak akan melakukan asusila. Bantah batinku sendiri setelah sempat mengagumi.
*****
Persiapan pernikahan semakin matang. Undangan juga sudah disebarkan. Acara ini layaknya gadis yang bertemu lajang. Saling menjalin cinta lalu melanjutkan ke pernikahan. Bukan seperti pada kebanyakan, setelah berbadan dua, pernikahan akan dilakukan seadanya. Terkesan mendadak.
Begitu banyak orang di rumah. Para tetangga rewang untuk membantu persiapan pesta. Aku tak boleh melakukan apa-apa. Namun, beberapa kali terdengar Ibu-ibu yang sedang berkumpul membiarkanku. Begitulah para Ibu kalau sudah rewang, mereka tidak hanya mengupas bawang, tapi juga mengupas aib orang. Seperti yang saat ini aku dengar. Begitu sadar namaku disebut, aku sengaja untuk menguping.
"Beruntung, ya, Maya dinikahi Juragan. Udah kaya, baik lagi," kata Ibu berbadan agak besar. Perkiraan ukuran pakaiannya extra lebar.
Ada pula yang membantah kebaikan Juragan. "Baik apanya? Kalau baik masa begitu."
Mewakili kata hatiku.
"Mungkin selama ini pura-pura baik," timpal Ibu baju berwarna biru.
"Eh, belum dengar, ya? Kata Bu Sri, bukan Juragan yang menghamili Maya."
"Masa'?"
Ibu-ibu disekitarnya pada terkejut. Aku pun tak kalah terkejutnya mendengar berita itu. Aku pasang telinga tajam-tajam. Beruntung mereka tidak menyadari keberadaanku yang tak jauh dari mereka.
Tak kusangka Bu Sri nekad menyebarkan berita bohong itu.
"Terus, kenapa Juragan mau nikahin Maya?"
"Kata Bu Sri, sih, karena kasihan," sahut Ibu yang menyampaikan berita itu.
"Bukan cuma kasihan. Lumayan dapat daun muda. Hahahaa ...," sambung Ibu berbadan kurus. Yang lain pun ikut tertawa membenarkan hal itu.
"Kok, Bu Sri nggak keberatan kalau suaminya menikah lagi? Mana hamil anak orang." Pertanyaan Ibu yang mengenakan daster batik warna bata mewakili perasaan kepo yang lain.
Begitu pun denganku. Meski itu hanya berita bohong, namun tetap membuatku penasaran. Alasan apa untuk menjadi alibi.
Sayang, saat aku sedang mendengarkan dengan seksama perbincangan mereka, aku dikejutkan dengan tangan yang menepuk bahuku. Beruntung aku tak bersuara, sehingga tidak diketahui bahwa aku sedang menguping. Hanya detak jantung yang berdegup sangat kencang dengan tiba-tiba. Hingga aliran darahku meningkat dan napasku menjadi cepat. Membuatku ngos-ngosan.
Aku menoleh ke belakang. Mataku menyipit melihat sosok wanita yang membungkuk di belakangku dengan menempelkan telunjuk di bibirnya. Isyarat agar aku tidak bersuara.
__ADS_1