Menikah Dengan Pria Yang Menodaiku

Menikah Dengan Pria Yang Menodaiku
part 5


__ADS_3

Agus menepati janjinya untuk menemui orangtuaku. Dengan begitu, di mataku ia adalah lelaki sejati. Berani memintaku meski seorang diri. Dan ... aku tidak meragukan ketulusannya karena sudi menikahiku meski sedang mengandung anak orang lain. Namun, kening Bapak mengkerut. Menggambarkan penolakan akan niat baik Agus.


"Bapak menghargai niat baikmu, Nak Agus. Tetapi, itu akan menimbulkan fitnah baru buat Maya dan keluarga kami." Dengan bijak Bapak menolak tawaran Agus. Tangan kanan Bapak menepuk pelan pundak Agus. Aku yang duduk bersebrangan dengan meja sesekali meliriknya, pria yang sedang meminta restu untuk menikahiku.


"Lagi pula, orangtuamu juga tidak menerima Maya dalam keadaan begini, kan? Maya akan tertekan batin hidup bersamamu. Kedua orangtuamu akan menghina dan mengungkit aib yang terlanjur tercipta ini," imbuh Bapak lagi. Bagitu peduli Bapak pada masa depanku.


Benar adanya kedua orangtua Agus tidak menerimaku masuk ke dalam keluarga mereka. Dan itu lumrah. Itu sebabnya Agus datang hanya seorang diri. Meminta baik-baik untuk menikahiku. Meski tidak mengantongi restu dari kedua orangtuanya.


Tetapi, selama Agus memperjuangkan aku, selama itu aku ingin bertahan. Marajut bahagia dengannya. Membesarkan anak ini dengannya. Melupakan masa lalu burukku dengan hidup bersamanya. Semoga tanpa meronta Bapak dan Ibu peka. Itu harapku.


"Alangkah baiknya kamu tinggalkan Maya, Nak." Ibu datang membawa sepiring pisang goreng, teman teh manis yang lebih dulu tersaji untuk disantap bersama. Masih panas karena baru diangkat dari penggorengan. Sama panasnya dengan hatiku saat Ibu meminta Agus untuk meninggalkanku. Ibu memilih duduk di sampingku.


Mengapa tidak ada yang mengerti perasaanku? Cukup sudah aku menjadi korban! Cukup sudah aku menderita menahan perihnya luka tanpa seorang pun yang tahu. salahkah jika seseorang hadir sebagai penawar untuk menyembuhkan luka? Tidak berhakkah aku bahagia dengan orang yang kucinta?


"Aku mencintainya, Bu. Akan kubawa Maya pergi jauh-jauh. Pergi dari masa lalu, pergi dari cibiran orangtuaku. Aku mohon, beri kami restu." Agus beringsut dari tempat duduknya lalu bersimpuh di depan Ibu. Membuatku terenyuh. Tetapi, tidak dengan Bapak dan Ibu.


Bapak bangkit dan merangkul bahu Agus. Membimbing pria yang kukuh menikahiku untuk berdiri. "Pulanglah, Nak. Masa depanmu masih panjang. Anggaplah Maya bukan jodohmu."


Bagai kaca pecah dan hancur berkeping-keping. Bapak mengusir Agus secara halus. Itu sama dengan Bapak telah mengusir harapan indahku.


Tak lagi menghiraukan Agus. Aku berlari ke kamar. Mengunci pintu lalu menagis di balik pintu dengan lutut kubekuk. Punah sudah harapanku. Kandas sudah anganku. Pasrah! Menjadi istri kedua dari pria tua. Pria yang menyebabkan aku berbadan dua. Pria yang usianya mendekati setengah abad.


Ibu memanggil namaku sambil mengetuk pintu kamar." Maya ... buka pintunya, Nak. Kamu nggak boleh begini. Nanti malam Juragan Handoko datang untuk melamarmu."


Mendengar Juragan Handoko akan melamarku, duniaku terasa runtuh. Aku semakin tenggelam dalam Isak tangis yang entah kapan berakhir. Membayangkan Agus melangkah keluar dari rumah, rasanya ada yang hilang dari jiwa. Jika Agus berhenti berjuang, patah sudah sebelah sayapku. Tidak akan bisa terbang dengan hanya satu sayap. Jika sudah begitu, pasrah bertengger pada ranting nestapa.


"Tidak ada orangtua yang tidak ingin anaknya bahagia. Tetapi, inilah jalan terbaik, Nak. Kami sedang tidak menjerumuskanmu. Justru menyelamatkanmu." Bapak ikut menimpali.


Bukankah dengan membiarkan aku menikah dengan Agus dan pergi jauh dengannya adalah cara lain menyelamatkanku? Menyelamatkan dari luka nestapa. Menikah dengan pria seumuran, bukan pria tua beristri dan pelaku asusila! Mengapa di mata mereka, menikah dengan Juragan Handoko adalah cara yang benar? Hanya karena aku mengandung anaknya.

__ADS_1


Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaanku setiap kali bertatap muka dengan pria itu. Tragedi menjijikkan yang menimpaku itu selalu membayang. Karena tidak hanyak meninggalkan luka pada fisik, tetapi juga psikis. Luka yang ia timbulkan sangat membekas.


*****


"Kamu cantik sekali, Nak," ucap Ibu dengan senyum yang dipaksakan. Ibu sengaja mendandaniku karena malam ini Juragan Handoko akan bertamu. Kedua tangan Ibu membingkai wajahku. Matanya sembab, meski tak pernah kulihat, namun meninggalkan bekas kalau mata itu banyak menangis. Karena memikirkan nasib putrinya yang malang.


Aku berdiri untuk melihat diri di cermin yang menempel pada lemari tua. Benar kata Ibu. Aku cantik. Sangat cantik. Kecantikan Ibu menurun padaku. Meski tidak pernah terawat, cantik alami Ibu masih melekat di wajahnya yang tidak lagi muda.


Setelah puas memandangi diri, aku menoleh pada wanita yang mewariskan kecantikannya padaku. Kuulas senyum. Seiring dengan itu, air mataku pun menggenang. Entah mengapa, tiba-tiba Ibu menubruk tubuhku. Memelukku erat. Erat sekali! Berasa tubuhku bagai dicengkram dan diremas. Isak tangisnya sangat kentara. Berusaha Ibu menahan agar tangisnya tidak pecah.


Malam ini, aku benar-benar merasakan bahwa sebenarnya Ibu juga tidak rela putrinya menikah dengan Juragan Handoko. Meski tak terucap dari bibirnya, dengan caranya mengrengkuh erat tubuhku, aku bisa mengerti.


Kubalas pelukan Ibu dengan melingkarkan kedua tanganku pada tubuhnya. Air mata yang tadi menggenang tak dapat kucegah, kubiarkan ia tumpah.


"Semoga kamu bahagia, Nak," ucap Ibu sambil sesenggukan.


Bahagia dengan Juragan Handoko maksud Ibu? Bagaimana bisa? Namun, aku hanya menganggukkan kepala. Sangat kontras dengan hatiku yang memberontak. Sangat menolak!


"Iya ... sebentar lagi selesai, kok," sahut Ibu sambil memperhatikan penampilanku. Setelah itu, Ibu menggandengku keluar kamar.


Juragan Handoko datang tidak seorang diri. Ditemani sepasang orang tua mirip dengan juragan Handoko. Meski jauh dari kata muda, namun penampilan mereka menggambarkan orang berpunya. Apakah mereka berdua orangtua dari juragan? Aku belum pernah melihat mereka sebelumnya.


Semua duduk di atas tikar yang dibentang lebar. Beberapa cemilan yang sengaja Ibu beli telah disuguhkan Aini, juga minumannya.


"Yang mana ini calon mantu Bunda?" tanya wanita yang aku taksir Ibunya Juragan itu ramah. Matanya bergantian melirikku, lalu Aini yang duduk di samping Ibu. Ya, Ibu duduk di tengah antara aku dan Aini.


Melihat dari banyaknya keriput yang menghiasi wajahnya, rasanya aku lebih pantas menyebutnya dengan panggilan Nenek. Tetapi, jika memang harus menikah dengan anaknya, mau tidak mau aku harus memanggilnya Bunda. Sama seperti Juragan memanggilnya.


Ibu kalah cepat menjawabnya. Masih merangkul bahuku, Juragan sudah lebih dulu menunjukku, "Yang baju biru muda, Bun." Dengan kepala masih menunduk.

__ADS_1


Seperti seorang lajang saja. Malu-malu. Padahal sudah menjamahku. Apakah dia tidak punya nyali sampai membawa orangtua segala? Rasanya lucu saja.


Aku sedikit menunduk dan tersenyum tipis saat calon Ibu mertua menatapku ramah. Ha ... Aku mengakuinya sebagai Ibu mertua?


Aneh, mengapa wanita yang dipanggil Bunda itu bersikap hangat? Bukankah seharusnya ia meremehkanku? Atau meremehkan status sosial keluargaku yang sangat jauh berbeda dari mereka.


Perbincangan antara Bapak dan calon Bapak mertua berjalan mulus. Pesta akan diadakan besar-besaran layaknya pernikahan gadis dan lajang.


Jujur, aku tidak suka! Aku malu jika harus bersanding dengan pria berumur di pelaminan. Apa kata teman-temanku nanti? Mereka akan mengejekku pelakor karena jadi istri kedua. Atau ... akan mengklaim bahwa aku rela menjadi yang kedua hanya karena harta.


Menikah diam-diam. Tanpa ada tamu undangan. Cukup saksi dan kerabat dekat saja itu lebih baik bagiku.


"Kalian sudah mau menikah, jangan keluyuran lagi, ya , Nduk." Wanita itu mengelus pahaku sambil tersenyum. Sungguh, aku heran. Mereka memperlakukanku layaknya gadis baik-baik yang sedang dipinang. Lah, memang aku gadis baik-baik, kan?


"Apa lagi kamu sedang hamil muda, banyak yang harus dijaga," imbuhnya lagi.


Ini bentuk perhatian atau sedang menyudutkan? Rona malu menjalari wajahku. Meski hanya di hadapan mereka, rasanya tidak pantas ia berkata begitu. Seakan sengaja menyindir bahwa aku wanita yang tidak bisa menjaga diri. Masih gadis tapi perutnya sudah berisi.


Padahal, baru saja aku merasakan begitu dihargai. Ternyata, aku diangkat untuk dijatuhkan! Belum bergabung dalam keluarganya saja aku sudah mencium aroma kepura-puraan. Pura-pura baik! Kata-katanya manis namun nyelekit! Rasanya aku ingin kabur saja.


"Meski belum sah menikah, jangan sungkan meminta sesuatu pada Handoko. Biasanya kalau ngidam itu banyak kepinginnya."


Lagi, aku merasa dipermalukan. Meski mungkin bukan bermaksud begitu.


Jangan sungkan untuk minta ini dan itu pada anaknya? Memangnya aku dengan Juragan Handoko sepasang kekasih yang sedang menjalin cinta, lalu terjerumus dalam nikmat dosa yang sebentar lagi akan disahkan?


Atau jangan-jangan ... juragan tidak mengatakan yang sebenarnya? Apakah dia mengaku kami mau sama mau? Bukan unsur paksaan melainkan pacaran?


*****

__ADS_1


Setelah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Dengan cara like dan komen. Bantu subscribe juga, ya😊


Singgah juga di cerbungku yang berjudul Dikhianati Suami dan Mertua


__ADS_2