Menikah Dengan Pria Yang Menodaiku

Menikah Dengan Pria Yang Menodaiku
Part 14


__ADS_3

Part 14


"Apa-apaan ini? Pegangan tangan, tangis-tangisan. Ha?" Bu Sri menatapku dan Juragan secara bergantian. Hingga tatapannya berhenti padaku. Sorot matanya mengintimidasi. Seolah aku yang telah menggoda suaminya. Tidak pernah terima bahwa Juragan suamiku juga.


"Sri, ayolah. Kamu sudah berjanji tidak akan berkata apa pun yang akan melukai perasaannya."


Juragan seakan paham Bu Sri akan melontarkan kata kasar seperti yang biasa istrinya ucapkan padaku.


"Perasaan?" Seakan Bu Sri protes. "Siapa yang tidak menjaga perasaan siapa?"


"Aku sudah berusaha berlapang dada untuk sudi menemanimu menjaga gundikmu, ya, Han. Tapi apa? Apa?" imbuhnya, Bu Sri tidak terima melihat kenyataan di depan mata.


"Jangan sebut dia gundik!"


Ok


Bukan salah kami. Andai kata kami sedang bermesraan, toh bukan sengaja di hadapannya. Salah sendiri masuk tanpa permisi.


Apa tadi? Menjagaku? Bu Sri ikut menjagaku? Tidak mungkin! Pasti ada niat terselubung.


"Aku nggak mengajakmu. Kamu yang memaksa minta ikut." Juragan membantah.


"Ditinggal sebentar aja kalian sudah mesra-mesraan. Apa lagi kalau aku benar-benar tidak ikut? Oh, sulit kubayangkan apa yang akan terjadi."


"Sri, tolong jangan pancing keributan."


"Aku? Mancing keributan?" Bu Sri menunjuk dirinya sendiri. Tidak terima dituduh sebagai penyebabnya.


"Sri ...!"


"Han ...!"


Hampir saja tangan kanan Juragan mendarat di pipi istri pertamanya itu. Dengan cepat Bu Sri melindungi wajahnya dengan tangan. Tanpa sadar, aku dan Bu Sri berteriak bersamaan. Sehingga Juragan menoleh padaku seiring dengan menurunkan tangannya yang hampir melayang.


Melihat Juragan terdiam, Bu Sri malah sengaja menyalakan api yang berusaha Juragan padamkan.


"Kenapa? Ayo tampar aku. Ayo!"


Juragan berusaha keras meredam amarahnya. Tampak dari tangannya yang mengepal.


"Lihat! Kamu lihat, kan? Tidak pernah dia sekasar ini padaku sebelumnya. Ini semua gara-gara kamu. Gara-gara kamu mengaku-ngaku anak yang kamu kandung adalah anak suamiku hanya karena dia juga pernah menyentuhmu. Kelakuanmu sungguh mencerminkan dirimu. Murahan!"


Juragan langsung merengkuh tubuh wanita yang tengah berkobar dan membawanya keluar kamar inap.


"Lepaskan aku, Han!"


Hingga teriakkan itu tak lagi terdengar ketika pintu tertutup rapat.


*****


"Dipaksa makannya, Nak," ucap Nek Darti sambil menyuapiku. Sambil menelan, aku berusaha agar yang masuk ke perut tidak keluar karena mual yang luar biasa.


Ternyata aku pingsan setelah muntah-muntah sampai dibawa ke rumah sakit. Tak ada secuil makanan pun yang masuk ke dalam perutku. Bukan tak berusaha memaksa memasukkan makanan. Tapi, perut yang langsung menolak dan mengeluarkan semua isinya. Hingga menyisakan rasa pahit di kerongkongan.


"Mana Juragan, Nek?"


Eh, mengapa aku menanyakannya? Harusnya aku tidak perlu tahu dan tidak mau tahu dimana dia.

__ADS_1


"Huss, masa sama suami sendiri manggil Juragan. Hehehe."


Iya juga. Seketika aku tersipu.


"Harusnya apa, Nek?" Iseng bertanya.


Nek Darti malah gemes dan mencubit pipiku. "Nih, makan lagi," katanya sambil menyodorkan sesendok nasi lengkap dengan lauknya.


Kali ini aku menyerah. Kudorong dengan telapak tangan. Sudah masuk tiga sendok saja sudah cukup bagiku. Daripada dipaksa malah jadi keluar semua. Toh, aku sudah merasa segar dengan nutrisi yang masuk melalui selang infus.


Ingin sekali menanyakan apakah Juragan dan Bu Sri baik-baik saja? Baru membuka mulut setengah menganga, niatku terhenti ketika Juragan masuk. 'panjang umur', bisik batinku.


Tarnyata tidak sendirian. Di belakangnya menyusul Ibu, Bapak, dan mertua. Mereka sepertinya sudah janjian untuk menjengukku. Ini sungguh kejutan. Aku sangat senang.


Dengan senyum semringah Ibu langsung memelukku, tubuhnya membungkuk untuk bisa menyamaiku. Beberapa kali pipiku diciuminya. Bersamaan dengan itu, Bapak mendekat dan mengusap kepalaku yang telah tertutup hijab kurung.


"Kamu apakah putriku sampai begini?" ucap Bapak pada Juragan. Suasana berubah menjadi tegang. Namun, akhirnya tertawa saat semua menoleh pada Bapak dan menyadari raut wajahnya yang menggambarkan gurauan.


Juragan ikut tertawa kecil sambil menundukkan kepala untuk menyembunyikan rona wajah tersipunya.


Ibu mertua mengambil posisi duduk di ranjang. Lalu, menempelkan tangannya pada perutku. Senyumnya mengembang. "Kayaknya ngidam kamu ini kayak Ibu saat hamil Handoko. Anak ini mau makan jika disuapin ayahnya," jelas Ibu mertua.


'Lebay', pikirku. Ini memang hamil pertamaku. Tapi, lumayan sering aku melihat orang mengidam. Yah, memang bawaannya susah makan.


Ibu mertua begitu kukuh dengan keyakinan berdasarkan pengalamannya. Akhirnya ia memaksa anak lelakinya itu untuk menyuapiku.


Pasrah. Hanya itu yang bisa kami lakukan. Mata kami sempat saling bertemu. Tatapan matanya seakan mengisyaratkan kata 'Maaf'. Karena ia sadar betul bahwa aku tidak akan menyukai ini.


Sesendok telah masuk ke mulutku. Ajaib! Aku bahkan tidak bisa menyembunyikan ketakjuban ini. Terdiam beberapa detik untuk meresapi apa yang kurasa. Benar saja, tidak ada mual yang kurasa. Mataku terpana pada Juragan. Ia pun menatapku, penasaran dengan ekspresi wajahku. Ia mengangkat kedua alisnya. Seakan bertanya, "Gimana?". Aku mengangguk pelan.


"Tuh, kaaaan ...." Ibu mertua tersenyum puas.


Sedang kedua orangtuaku dan Mertua saling bergurau karena keunikan mengidam ini, bahkan saling tukar cerita pengalaman masing-masing saat mengidam, aku masih terus makan dengan disuapi suami. Eh, Juragan. Anehnya, aku tidak sungkan untuk minta nambah lagi.


"Oalah, tahu begini ya nggak bakal masuk rumah sakit, loh, Nak," ucap Nek Darti riang. Yang lain pun tertawa mendengar celotehan Nek Darti.


*****


Seperti ini rasanya mengandung. Pantaslah Allah meletakkan surga di bawah telapak kaki Ibu. Dan, Rasul ketika ditanya sahabat kepada siapa terlebih dulu harus berbakti, Rasul menjawab Ibumu. Dan itu terulang sampai tiga kali. Setelah itu Ayahmu.


Ini baru mengandung. Bagaimana dengan proses persalinan yang katanya sosok Ibu akan bertaruh nyawa untuk menghantarkan sang buah hati ke dunia. Sungguh pengorbanan yang tiada bandingnya.


Tiba-tiba aku rindu Ibu. Dibalik sosoknya yang tampak galak, sesungguhnya ia penuh kasih. Tak terasa air mataku jatuh membasahi pipi.


"Kamu nggak mau makan lagi?" Tiba-tiba Juragan masuk ke kamarku tanpa permisi. Aku yang sedang berbaring lemah dengan cepat mengusap air mata dan bangkit untuk menyandarkan tubuh pada bantal yang ditumpuk tinggi.


Pasti Nek Darti laporan.


Nek Darti masuk mengantar makanan, setelah itu pamit untuk pekerjaan lain.


"Aku suapin, ya."


Aku tak menjawab, namun tak juga menolak. Teringat kata Ibu mertua bahwa ini adalah permintaan si jabang bayi. Hanya saja untuk meminta Juragan agar menyuapiku rasanya gengsi. Aku ingin dia yang mengerti.


Tapi ... Juragan tidak salah. Dia hanya berusaha menjaga jarak sesuai yang kuminta. Karena paham aku tidak menyukainya.


"Harusnya seperti ini, ya?" tanyanya setelah aku melahap banyak nasi tanpa mual. Bahkan terasa enak. Ini benar aneh.

__ADS_1


"Mau aku temenin terus?" Ia mulai bergurau untuk menghangatkan suasana yang dari tadi terasa dingin. Aku menutupi senyumku dengan pura-pura menutup mulut.


"Nggak mau masuk rumah sakit lagi, kan?"


Aku menggeleng. Persis seperti anak kecil yang sedang ditanyai orangtuanya.


"Anaknya suka cari perhatian, ya." Senyumnya mengembang. Sepertinya ia benar-benar menikmati momen seperti ini. Dan, kerinduannya memiliki seorang anak terbukti dari kesigapannya. Selalu ada saat dibutuhkan.


"Kamu tahu? Aku bahkan sudah bermimpi menimangnya." Ia tertawa kecil. Merasa lucu sendiri dengan mimpinya. Muncul rasa iba di benakku. Begitu merindunya dia.


"Gimana mimpinya?" Sekedar mengimbangi agar ia tidak merasa diacuhkan. Walaupun itu bukan hal baru.


"Dia tertawa saat kutimang. Matanya, hidungnya, senyumnya. Semuanya kamu turunkan ke dia." Matanya menerawang.


"Laki-laki atau perempuan?"


"Iya, ya?" Tersadar. Pikirannya kembali pada kenyataan. "Nggak tau apa." Seketika tawanya pecah. Aku mengunci bibir rapat menahan agar tidak ikut tertawa walau rasanya ingin.


Aku mulai terbiasa dengan kehadirannya. Setiap waktu makan Juragan akan datang untuk menyuapiku. Setelah itu ia akan pergi. Entah itu pulang ke rumahnya atau urusan pekerjaan.


Berhubung Juragan tidak terikat kontrak dengan perusahaan. Hanya fokus mengelola kebun sawit, kebun karet, ladang padi, atau yang lainnya. Yah, bahasa awamnya dia adalah petani. Petani sukses hingga masyarakat menjulukinya Juragan. Karena itu, ia punya waktu luang ketika dibutuhkan. Sebab, lahan yang luas itu ia pekerjaan orang-orang yang memang sangat membutuhkan pekerjaan.


Kini, tak hanya saat hendak makan, di sisinya aku akan merasa nyaman. Jika tak ada, akan pusing dan mual. Sangat kontras dengan hatiku padanya yang selalu ingin berjauhan.


"Juragan kok' belum datang, Nek?" Sudah Waktunya makan siang. Aku telah menunggunya di sofa. Perut sudah terasa lapar.


"Juragan pergi sama Sri, Nak."


"Kemana?"


"Nggak tahu. Yang pastinya merayakan hari pernikahan mereka. Rutin setiap tahun."


Dug!


Terasa ada benda yang menghantam jantungku. "Kapan pulang, Nek?"


"Biasanya seminggu."


Seminggu?


Marah! Ingin sekali aku marah! Bukankah dia tahu aku tidak bisa makan tanpa disuapinya? Bahkan aku ingin selalu di dekatnya. Hanya saja aku gengsi untuk bercerita. Ah, bukan mauku. Tapi, anaknya yang ada dalam kandunganku.


Dengan kesal aku masuk kamar. Menutup pintu dengan kasar. Lalu, menjatuhkan tubuhku pada kasur empuk yang tidak tidak pernah kurasakan di rumahku.


"Nak, makan dulu, ya," panggil Nek Darti dari luar kamar. Ia berusaha membujukku. Tak lama terdengar suara pintu di buka.


"Nek Darti yang suapin, ya?"


Bukan tidak mau. aku tak bisa. Perut terasa mengisap, tapi setelah dimakan malah mual dan balik keluar. Jika tidak, aku juga tidak akan mau disuapin Juragan yang terpaksa harus duduk berdekatan.


"Makan sendiri aja, Nek."


Nek Darti meletakkan piring di atas meja yang terletak di samping ranjang. Sebelum keluar ia mengingatkan kembali agar nasinya dimakan.


Setelah Nek Darti pergi, aku duduk dan memaksa untuk makan. Seperti biasa, baru satu sendok perutku sudah menyala. Segera aku ke kamar mandi untuk mengeluarkan isinya.


Badan mulai terasa tak berdaya. Sekedar mengangkat kepala pun tak bisa. Hanya berbaring di atas kasur sampai makan malam pun tiba.

__ADS_1


Begitu lagi, mual dan muntah. Nek Darti begitu sabar dan telaten merawatku. Memijit kepalaku hingga akhirnya aku terlelap.


Tiba-tiba aku terjaga ketika ponselku berdering. Aku terkejut begitu melihat nama yang tertera di layar ponsel. Bu Sri. Ada apa?


__ADS_2