
Part 11
Wanita muda itu menjabat tangan Juragan dengan santun. Setelah itu memelukku dan berbisik dengan suara menahan isak. "Maafkan Abangku, Kak."
Aku langsung menarik tubuhnya dari tubuhku. Kedua tanganku membingkai wajahnya. Kutatap matanya yang basah. Wanita muda ini adalah Yanti, adik Agus.
"Dimana dia?" Masih peduli dengan Agus. Tak kuhiraukan perasaan Juragan. Yah, memang tidak ada yang perlu dijaga diantara aku dan dia.
"Kenapa dia nggak datang membawaku sesuai janjinya? Kemana dia?" desakku sambil menggenggam jemarinya.
Yanti menoleh pada Juragan sebentar, lalu kembali menatapku. "Dia baik-baik saja. Aku ke sini hanya menyampaikan pesannya buat kakak. Lupakan dia. Semoga kak Maya bahagia. Itu saja."
"Itu saja?" Aku tak percaya. Yanti mengangguk, lalu pamit meninggalkan aku. Ia tidak peduli meski aku berteriak memanggil namanya. Yanti tetap pergi meninggalkan aku yang terpaksa harus tetap bertahan di pelaminan.
Aku menoleh pada Juragan. "Apakah ada hubungannya dengan Juragan?" Ia memalingkan wajah.
"Kenapa selalu mengaitkannya denganku?" Wajahnya datar. Sulit menebak apa yang ada isi di kepalanya. Kutatap dia dengan tatapan benci.
"Bersikaplah biasa saja, Maya. Setelah acara ini selesai, silakan lakukan apapun sesukamu. Hina aku, caci maki atau pukul jika mau. Aku siap." Matanya lurus ke arah para undangan.
Aku termangu mendengar apa yang baru saja ia ucapkan. Kepalaku berusaha keras mencerna maksud kalimatnya. Ia memintaku menjaga sikap. Untuk harga diriku, atau menjaga harga dirinya di depan para tamu undangan?
Sadar tak mungkin berdebat, memilih diam dan berpura-pura tersenyum pada tamu yang sesekali melihat kami berdua.
Acara pesta selesai tak juga membuatku lega. Semakin berkecamuk. Membayangkan sekamar dengan pria yang bukan kudamba.
Kubuka lemari pakaian. Mataku menyisiri setiap isinya, memilah mana yang akan kupakai malam ini. Semua tampak asing. Tak kutemukan satu pun pakaianku. Semua baru. Apakah Juragan menyuruh Aini untuk mengganti semuanya?
Aku tak membongkar semua, hanya mengangkat sedikit lipatan kain dengan jemariku. Mengambil sepasang piyama lengan panjang dan celana panjang. Tidak seperti pengantin baru pada umumnya yang sengaja memakai pakaian terbuka dan menerawang.
Tapi, sepertinya Juragan mengerti, tak kutemukan satu pun lingerie atau sejenisnya di dalam lemari itu.
__ADS_1
Lelah seharian menjadi ratu dalam sehari, aku memilih tidur setelah membersihkan diri. Tak tahu dimana dia. Dan tidak mau tahu dimana dia. Bahkan berharap tidak perlu masuk ke kamar ini. Meski itu mustahil!
Aku terjaga. Mataku terbuka, tidurku tidak lelap sempurna. Seperti antara mimpi dengan nyata. Tak puas tidur kurasa.
Aku menoleh ke belakang. Kosong, tak kudapati Juragan. Kemana dia? Bukan mengkhawatirkannya, hanya heran dengan keberadaannya.
"Tidurlah, aku tidak akan menyentuhmu." Terdengar suara tanpa wujud. Suara yang sangat kukenal.
"Dimana?" tanyaku dalam hati. Tentu hanya dalam hati. Meski penasaran aku tidak akan menanyakannya.
"Aku di bawah," sahutnya. Seakan mendengar hatiku yang bertanya.
"Kulihat ada tikar di sudut pintu. Aku pikir sengaja disediakan untukku," sindirnya sambil meringkuk memeluk guling. Sengaja aku bangkit dan merangkak pelan-pelan untuk melihat keberadaannya.
Tikar itu sudah usang dan tipis. Pasti dia sangat kedinginan dan tidak nyaman. Aku harus bagaimana? Galau.
"Naiklah," ucapku meragu. Timbul secuil rasa peduli dalam hatiku.
Yasudah! Bisik hatiku. Kembali merebahkan diri di tempat semula. Mencoba memejamkan mata. Semoga bisa tidur nyenyak dan mimpi yang indah.
*****
Suara adzan membangunkanku. Seperti biasa, aku bangun lalu merapikan tempat tidur. Tersadar aku tak sendiri lagi ketika melihat tikar membentang di lantai yang digunakan Juragan tidur tadi malam. Namun, tak kutemukan dia di sana. Mungkin subuh di masjid. Segera aku bersuci untuk melaksanakan salat subuh.
Setelah itu aku segera ke dapur membantu Ibu menyiapkan sarapan. "Kamu belum mandi, Nak?" tanya Ibu sambil mengupas bawang, sedang matanya meneliti tiap lekuk tubuhku. Khususnya rambutku yang kuikatbtinggi namun kering. Itu artinya tidak ada kegiatan ritual suami istri tadi malam.
"Belum. Nanti aja."
"Tadi malam tidur nyenyak?" Pancing Ibu.
"He'em," sahutku sambil sibuk memetik bayam yang akan disayur bening untuk teman sambal ayam. Bagi kami, menu ini sudah mewah, dan biasanya menu ayam ini akan hadir jika ada tamu di rumah.
__ADS_1
"Kamu sudah menjadi istri, Nak."
ISTRI! Sebutan baru yang tidak kusukai. Risih, Ibu terus memberi nasehat tentang kewajiban istri kepada suami, maka aku terus menyibukkan diri dengan pekerjaan yang ada di dapur. Mencuci piring adalah pilihan yang tepat, karena berisiknya suara denting piring dan sendok saling beradu saat ditumpuk akan memaklumi jika aku tak mendengar petuah Ibu.
Sialnya, Ibu sengaja berdiri di depan pintu tempat aku mencuci untuk menyampaikan nasehatnya. "Tugas istri itu melayani, Maya. Tak hanya mencuci baju, memasak, membuatkan kopi ...."
"Masih ada piring kotornya, Bu? Biar dicuci sekalian." Paham kemana arah pembicaraan Ibu, sengaja aku memotong kalimat wanita yang telah melahirkan aku itu agar tak sampai kesana.
Sungguh sulit dimengerti. Ibu masih saja tak memikirkan perasaanku. Sekarang, setelah semalam saja menjadi istri Juragan, Ibu seolah menuntutku menjadi istri yang baik karena rambutku tidak basah. Tidakkah Ibu bayangkan bagaimana traumanya diriku? Masih teringat jelas bagaimana buasnya Juragan memperlakukanku saat itu. Bagaimana mungkin aku bisa rela melayani atas nama seorang istri?
Bukan nasehat pernikahan yang kubutuhkan saat ini. Rangkulan, perhatian dan pengertian itu saja. Jika semua itu sudah kudapatkan, dan sudah ada penyembuhan, perlahan masuk ketahap wejangan.
Ibu datang kembali dengan membawa sisa piring kotor untuk dicuci juga dan meletakkannya dengan dihentakkan. "Jangan pura-pura nggak dengar atau mengalihkan pembicaraan. Itu sama aja melawan namanya!"
Entahlah. Sejak kejadian itu Ibu sering sensitif terhadapku. Seperti iklim yang tak menentu. Sebentar hangat, sebentar dingin.
Diam-diam aku menitikkan airmata. Berusaha menutupi hatiku yang terluka. Apa yang Ibu ucapkan aku tidak akan membantah. Takut pembelaanku akan membuat hati Ibu akan terluka. Aku tidak mau menjadi anak duraka. Aku takut, aku takut jika Ibu murka maka Allah juga.
Hidangan sarapan telah ditata di atas tikar yang sudah dibentangkan Aini. Biasanya kami sarapan masing-masing dengan ngambil sendiri di atas meja yang ditutup tudung saji. Kecuali Bapak, Ibu tidak akan membiarkan kepala rumah tangga itu mengambil sendiri. Jika Ibu repot, maka aku atau Aini yang menyajikan untuk Bapak.
Hari ini berbeda. Karena ada anggota keluarga baru maka Bapak mengajak untuk sarapan bersama. Aku duduk bersampingan dengan Juragan amat sangat terpaksa. Saat sarapan Bapak tidak banyak berkata. Sikap sopan Bapak terhadap Juragan masih terbawa. Mungkin karena sungkan dan belum terbiasa. Karena Juragan baru saja menjadi menantunya.
Usai sarapan aku membantu Aini membereskan piring. Karena terdengar ponselku di kamar berdering, Aini memintaku untuk meninggalkan pekerjaan ini. Saat berjalan menuju kamar, sudut mataku sempat menangkap Juragan juga melirikku. Apakah Juragan juga menduga bahwa yang menelepon itu adalah Agus?
Belum sempat aku meraih benda pipih yang tergeletak di atas ranjang, aku dikejutkan dengan suara Juragan yang ternyata mengekoriku.
"Siapa?" Ia bertanya dengan nada mengawasi. Merasa apapun yang berhubungan denganku ia wajib tahu.
Melihat nomor yang tertera pada layar datar itu aku tercengang, namun kupasang wajah datar untuk menyembunyikan ekspresi di wajahku.
"Nah, angkat!" Aku menyodorkan ponselku padanya. Ia juga terperangah melihat nama yang tertera di sana. Buru-buru ia membuang ekspresi itu. Sayang, aku sudah dulu menangkapnya.
__ADS_1