
Baru saja aku merasakan terbang melayang, namun saat itu juga jatuh terhempas hingga harapanku hancur berkeping-keping. Mendapati pria yang berada di luar bediri membelakangiku bukanlah Agus.
Dari mana pria itu tahu aku berada di sini kalau tidak karena membuntutiku. Rasa benci yang terlanjur tertanam semakin subur melihatnya ada di depan mata. Aku semakin muak melihatnya!
Menyadari kehadiranku, pria itu memutar badan. Sambil berjalan mendekat ia berkata, "Agus memintaku membawamu pulang,"
Mataku menatap lurus padanya. "Ternyata bukan hanya asusila, tapi juga pandai mengada-ada," desisku murka. Lalu berbalik badan meninggalkannya. Kembali duduk di tempat saat aku menunggu Agus.
Sambil berjalan mundur aku terus menggeleng dan mengucapkan kalimat yang sama berulang-ulang. "Nggak mungkin!"
Aku berlari masuk dan duduk dengan lutut di bekuk di sudut ruangan. Melipat kedua tangan di atas lutut lalu membenamkan wajahku di atasnya.
Seketika rasa mual mengganggu perut saat kurasakan aroma parfum yang merasuk indra penciumanku.
Aku mengangkat kepala. Ternyata Juragan sudah berdiri di hapadanku. Aroma parfum itu berasal darinya. Bersusah payah aku menahan agar tidak keluar, namun gagal. Mualku meledak.
Bergegas aku berlari mencari tempat yang aman untuk mengeluarkan isi perut yang sudah meronta ingin keluar.
"Jangan mendekat!" cegahku. Aku tahu niatnya hanya menolong melihatku muntah. Tetapi, tetap saja aku tidak suka.
Langkahnya berhenti. Tanpa menjawab, ia mengulurkan tangan yang berisikan air putih kemasan. Hanya kulirik, enggan untuk menerima pemberian darinya.
"Mungkin karena telat makan. Ini sudah siang. Aku bawakan nasi padang. Makanlah."
Tak kuhiraukan ajakannya. Pergi meninggalkannya dan duduk di tempat semula. Ia menyusul berjalan di belakangku. Namun, tidak ikut duduk. Keluar entah ke mana. Tak lama, ia kembali membawa bungkusan.
"Makanlah." Menyodorkan satu bungkus nasi padang untukku. Dan satu lagi untuknya.
"Habis makan kita pulang, ya," ucapnya lagi sambil membuka bungkusan nasinya.
"Nggak! Agus pasti datang menjemputku. Dia sudah berjanji, dan dia nggak pernah ingkar janji!" sahutku sambil melirik nasi bungkus yang sudah dibukanya. Aroma khasnya menggugah selera. Membuatku tergoda untuk menyantapnya juga. Apa daya, aku masih menjunjung tinggi rasa gengsi.
Juragan tak menghiraukan ucapanku. Ia asik menyantap nasi padangnya dengan lahap.
Perutku tidak bisa diajak kompromi, mengeluarkan bunyi keroncongan sehingga menarik perhatian juragan. Matanya melirik perutku. Membuat rona malu mewarnai wajahku.
__ADS_1
"Jangan egois. Di dalam sana ada nyawa yang juga butuh makan," ujarnya sebelum memasukkan nasi ke mulutnyauntuk yang kesekian.
Beruntung dia berpikir begitu. Jadi, tidak perlu malu karena mempertahankan gengsi untuk mengisi perutku.
Kulirik arloji yang menempel pada pergelangan tangannya. Ternyata sudah jam 13.00 wib. Pantas saja perut menuntut haknya. Apa lagi saat melihat makanan ada di depan mata. Dengan gaya kesal yang sedikit kudramakan, kuambil bungkusan nasi yang dari tadi sudah menggoda iman.
Makanan seenak ini, sayang juga kalau harus dianggurin. Bisik batinku setelah memasukkan satu suap ke dalam mulut.
Selama aku makan, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Juragan. Entah karena tidak ingin mengganggu atau karena tidak ada yang mau dibicarakan. Jika begitu, alangkah baiknya dia pergi.
Sesuap demi sesuap akhirnya habis juga kumakan. Tidak sengaja ekor mataku menangkap basah bibirnya yang senyum-senyum sendiri.
"Ini yang lapar Emaknya atau dedeknya? Sampe belepotan gitu," tanyanya sambil menahan tawa. Dia pikir itu lucu? Sama sekali tidak terpancing dengan leluconnya yang garing itu?
Kembali teringat kepada Agus. Sudah tiga jam menunggunya namun ia tak kunjung tiba. Resah dan gelisah mulai meracuni pikiranku. Kupandang Juragan dengan tatapan tidak suka.
"Kenapa memandangku begitu?"
"Apa ini ada hubungannya dengan Juragan?"
"Kenapa Agus tidak datang? Apakah ini ada hubungannya? Apakah dia diancam?" Suaraku sedikit meninggi.
Juragan menunduk. Kecurigaanku semakin menguat. Kedatangan pria yang saat ini bersamaku pasti ada kaitannya dengan Agus.
Pasti Agus di bawah tekanannya. Lumrah, karena dia salah satu orang yang berpengaruh di desa ini. Apapun bisa dilakukan jika dia mau. Makanya sampai saat ini dia belum juga datang.
"Agus yang memintaku menenuimu di sini dan ...."
"Bohong!" sanggahku. Aku semakin gerang ia masih berkilah. Darahku rasanya mendidih mengalir panas sampai ke ujung kepala.
"Dia tidak rela aku menikah denganmu! Dia yang mengajakku pergi jauh dari sini! Dia akan menikahiku! Mana mungkin dia menyuruhmu menjemputku!" amukku meledak tanpa bisa kuredam.
"Bagaimana jika itu faktanya?"
Segera aku berlari untuk menemui Agus. Khawatir terjadi sesuatu padanya. Naas! Juragan begitu sigap menangkap tubuhku. Ia merangkulku dari belakang. Aku meronta minta dilepaskan.
__ADS_1
"Jangan berisik. Tenanglah! Kalau orang di luar dengar, mereka bisa salah paham," pintanya sambil terus merangkul dan sebelah tangannya membekap mulutku. Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku berhasil melepaskan tangannya yang membekab mulutku.
"Biar! Biar orang-orang pada dengar dan melihat tingkah orang yang selama ini disegani ternyata begini! Tidak bermoral!" pekikku.
"Kuhomon tenanglah! Kasihan anak kita yang ada dalam janinmu."
Mendengar ia menyebut 'anak kita' yang ada dalam janinku, seketika aku termangu. Itu artinya ia mengakui ini sebagai anaknya. Tak kusangka kalimat itu akan menggema di telinga. Tiba-tiba timbul perasaan aneh menelusup dalam sukma. Darahku mengalir hangat hingga kepala.
Melihat aku mendadak diam, perlahan juragan melepaskan tangannya. Lalu, memutar tubuhku hingga kami saling berhadapan dan berkata, "Aku akan menikahimu. Sama-sama kita besarkan anak ini."
Kalimat itu, mirip dengan yang Agus ucapkan padaku. Tapi, juragan lebih pantas mengatakannya. Kerena memang dialah Bapaknya. Dan memang sudah jadi tanggung jawabnya. Walau begitu, aku lebih suka mendengar kalimat itu dari Agus. Bagai syair yang bisa melenakan.
Aku menggeleng dan menjawab, "Nggak. Aku nggak mau. Akan kubesarkan anak ini dengan Agus."
"Jangan keras kepala, Maya!"
"Siapa yang keras kepala?" bantahku. Bukankah dia yang keras kepala? Tidak sadar diri bahwa aku tidak mau dinikahi olehnya. Sudah merebut mahkotaku, mau memiliki seutuhnya juga. Dengan dalih membesarkan anak bersama. Egois!
Ponselnya berbunyi. Ia merogoh kantong celananya untuk meraih benda pipih itu. Setelah melihat nama yang ada di layar ponsel, ia segera keluar meninggalkanku untuk mengangkat telepon.
'Pasti dari istrinya.' bisik hatiku.
Sayup-sayup aku mendengar nama Agus disebut. Rasa penasaranku terpancing. Untuk memastikan tidak salah dengar, perlahan aku mendekati juragan. Setelah cukup dekat, aku mendengarkan dengan seksama. Semakin jelas di pendengaran dan ... itu suara Agus.
"Tenanglah. Dia akan baik-baik saja bersamaku," ucap Juragan pada orang di seberang sana. Darahku bergemuruh. Bagai ombak yang siap menghantam karang. Bergegas aku menarik baju pria yang membelakangiku dan berusaha menarik ponsel dari tangannya.
" Gus ...," teriakku sambil berusaha meraih ponsel yang masih tersambung. Berharap dia mendengar suaraku. Juragan mengangkat tinggi tangannya membuatku melompat-lompat untuk meraihnya.
"Jemput aku, Gus. Aku tunggu di sini." Setelah berjuang meraih ponsel itu, entah mengapa pemiliknya luluh. Membiarkan ponsel itu kurebut. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, segera aku berbicara pada Agus.
"Gus, jemput aku. Ayo kita pergi dari sini. Bilang sama Juragan kalau kamu cinta sama aku. Kamu yang akan menjadi Ayah anak ini." Buru-buru aku mengoceh hingga tidak memberi kesempatan di seberang sana untuk menyahut.
"Kamu udah janji akan menjemputku di sini. Aku akan menunggumu. Gus ... Gus ...." Menyadari tidak ada sahutan. Kulihat layar ponsel, masih terhubung. "Gus ...," panggilki lagi.
"Halo, kamu dengar aku, kan? Gus ... Dengar, kan?" Belum ada sahutan, kulirik sekali lagi ponsel, masih terhubung. Hatiku menjadi cemas.
__ADS_1