Menikah Dengan Pria Yang Menodaiku

Menikah Dengan Pria Yang Menodaiku
Part 15


__ADS_3

Abaikan! Kugeser ponsel agak menjauh dariku. Lalu menikmati tidur yang dapat melupakan rasa pusing yang masih melanda.


Sesuatu membangunkanku. Bunyi alarm. Kuraih ponsel untuk mematikannya. Jam tiga dini hari. Sengaja memasang agar terbangun untuk salat tahajud, meski telah terbangun namun masih belum pernah terwujud.


"Sudah bangun?"


Terkejut, tiba-tiba Juragan sudah duduk di tepi ranjang.


"Kapan pulang?" Aku balik bertanya. Bukankah kata Nek Darti sampai seminggu? Padahal baru kemarin pagi ia pergi.


Diam-diam aku meraba tubuhku yang dibalut selimut. Apakah aku aman? Adakah pakaianku yang terlepas? Lega, semua baik-baik saja.


"Baru saja," jawabnya.


"Kenapa? Kata Nek Darti sampai seminggu."


"Karenamu." Lagi ia menjawab dengan singkat. Wajahnya tampak kusut. Terlihat jelas lelah di wajahnya.


Aku mengernyitkan dahi. "Karenaku?"


"Kamu nggak mau makan. Gimana aku bisa tenang," katanya sambil mengambil sebuah kotak yang bergambar kue yang bertuliskan brownies. "Mau ini?"


Tanpa malu-malu aku mengangguk. Bahkan sangat bersemangat ingin segera memakannya. Satu gigitan pertama membuatku jatuh cinta pada rasanya. Jadi begini rasa brownies buatan bakery kelas atas? Dari kemasannya saja sudah mewah.


Hmm, selama ini hanya bisa makan brownies kelas receh. Itu saja sudah lezat bagiku. Jadi teringat Aini, adikku. Dia pasti sangat riang jika kuberikan brownies ini. Kasihan, aku hanya bisa menikmatinya sendirian.


"Lagi?"


Dan, aku mengguk lagi. Keanehan yang terus terjadi. Tidak ada rasa pusing atau pun mual. Bahkan aku ingin melahap semua makanan jika itu dari tangannya.


"Dari mana?" tanyaku disela-sela memgunyah. Memberanikan diri bertanya sekedar memecah kebisuan antara aku dan dia.


"Ada urusan," jawabnya singkat.


"Urusan apa?" Penasaran, apakah ia akan mengatakan yang sebenarnya.


"Masih ada, loh. Mau lagi?" Mengalihkan pembicaraan dengan menawarkan brownies yang belum dibuka.


Aku menghargai sikapnya yang berusaha menjaga perasaan dua wanita. Ah, ada apa dengan diriku? Perasaanku tidak perlu dijaga. Mau bagaimana pun dia dengan Bu Sri, aku tidak peduli.

__ADS_1


Setelah kenyang, Juragan meletakkan kotak brownies dan botol air mineral di atas meja.


"Mau aku temani?" Ia menawarkan diri untuk tetap menemaniku. Mau, tapi ... bimbang dengannya meski nyaman di dekatnya.


"Kita tidak akan seranjang." Seakan ia mengerti keraguanku. Ia bangkit dari duduknya dan menggeser kursi santai kedekatku. "Walau di sini tapi masih dekat. Biar dedeknya bisa merasakan keberadaanku. Sekarang tidurlah. Jangan pedulikan aku."


"Siapa yang peduli padamu?" ucapku hanya dalam hati. Lalu, memiringkan badan membelakanginya. Dalam hati terus berdoa agar pikiran leleki itu tidak kemana-mana.


Astaga, aku memang sudah menjadi isterinya. Tapi, aku tidak menyukainya. Apalagi sampai disentuhnya. Cukup sebatas menyuapi. Dan kehadirannya hanya untuk kenyamanan bayi dalam perut ini.


Baru saja mau menutup mata untuk melanjutkan tidur, ponselku menyala tanpa suara. Hanya getaran dan cahaya yang menyilaukan mata. Kuraih ponsel yang tadi kugeser menjauh. Tampak notifikasi dari aplikasi berwarna hijau.


[Belum cukup bagimu merebut suamiku?] Dari Bu Sri.


[Maksudnya?] Aku benar-benar tidak paham.


[Belagak lugu. Memanfaatkan kehamilanmu untuk mengganggu momen bahagia kami. Lihatlah, aku tidak akan membiarkanmu bahagia!]


Aku mengernyitkan dahi. Jariku pun tak sabar untuk membalas. Segera mengetik rangkaian tombol yang tersusun huruf demi huruf yang akan kurangkai menjadi kalimat.


[Jangan salahkan aku! Dia pulang karena merindukan bayi yang belum lahir ini. Ikatan batin mereka begitu erat hingga itu melibatkan aku yang tak ingin dekat dengan Pria yang sangat anda cintai.]


[Sepertinya kamu udah baper, ya? Dia pulang bukan karena rindu. Tapi mertua yang menelepon agar kami pulang. Nek Darti bilang kamu nggak mau makan. Paham!]


Benar kata Bu Sri. Aku sudah Baper. Juragan pulang bukan karena aku dan bayiku. Tapi karena Ibunya yang memintanya. Ibunya yang peduli dengan keadaanku. Dan dia pulang karena perintah Ibunya.


Entah bagaimana akhirnya aku terlelap. Dan tiba-tiba terjaga ketika mendengar suara pintu digedor sangat kuat diiringi dengan seruan suara yang tidak asing lagi di telingaku. Suaranya tidak kalah keras dengan pintu yang ia pukul bertubi.


Kuraih ponsel untuk melihat jam. Astaga! Jam 5 dini hari wanita itu sudah membuat kegaduhan.


"Buka pintunya!" Suaranya semakin tak terkontrol ketika pintu belum juga dibuka.


Aku mengguncang tubuh Juragan yang masih lelap di kursi. Apa dia begitu lelah hingga tak mendengar suara yang sangat memekakkan telinga?


"Kenapa? Mual? Atau mau makan lagi?" tanyanya seperti orang kebingungan. Matanya merah seperti ikan yang dijual di pasar.


Kami berdua menoleh pada pintu ketika digedor yang kesekian kali. Juragan segera bangkit dan membuka pintu.


"Ngapain kalian?" tanya Bu Sri dengan tangan berkacak pinggang.

__ADS_1


"Sri ...," tampak Juragan berusaha menerangkan.


"Ngapain?"


Kulihat Nek Darti dibalik tubuh Bu Sri sedang mengepalkan tangan di dada. Ia tampak panik. Perasaan was-was sangat kentara di wajahnya. Sepertinya Nek Darti merasa bersalah karena tidak bisa mencegah Bu Sri. Aku memberi kode dengan menggerakkan wajah agar Nek Darti pergi.


"Katanya cuma sebentar." Bu Sri menatap nanar pada Juragan. Lalu, berganti menatapku. "Kamu merayunya, kan? Iya, kan?" Sorot matanya seakan siap menerkamku.


Wanita yang tak pernah tenang dengan kehadiranku tak memberiku kesempatan untuk menjawab. Ia menyerang dengan menarik rambutku sambil berkata, " Ngapain kalian tadi malam?"


Akhirnya terjadilah saling menjambak rambut. Juragan berusaha melerai dua wanita yang sama-sama ia jaga hingga ikut bergumul menjadi tiga orang. Entah bagaimana kami bisa berada dalam kamar. Akhirnya aku dan Bu Sri berhasil dipisahkan dengan Nek Darti merengkuhku dari belakang dan Bu Sri direngkuh oleh Juragan.


Ada rasa iri di hatiku. Mengapa bukan aku yang Juragan rengkuh? Meski aku hanya orang baru, tapi ada nyawa yang harus ia lindungi di perutku. Nyawa yang sudah ia rindukan sejak dulu.


Napas kami tersengal-sengal. Naik turun tak beraturan. Rambut pun berantakan seperti singa.


"Jika terjadi apa-apa dengan kandungannya, aku tidak akan memaafkan mu, Sri!" ucap Juragan pada Bu Sri dengan tatapan penuh amarah.


Ada rasa tenang di hatiku saat Juragan peduli pada kandunganku.


Bu Sri hanya diam. Matanya menatapku tajam. Tak lama setelah itu, entah sengaja atau tidak matanya melirik kasurku. Sprei masih rapi karena hanya aku yang tidur di sana. Hanya selimut yang berserak karena kugunakan. Perlahan napasnya mulai normal. Seakan lega karena tidak terjadi apa-apa antara aku dan Juragan seperti yang ia tuduhkan.


"Pergilah!" Juragan mengusir Bu Sri.


"Kamu sudah berubah, Han," kata Bu Sri lirih.


"Kamu yang sudah keterlaluan." Juragan pun membantah tudingan istri pertamanya itu.


"Aku tunggu kamu," lanjut Bu Sri sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan rumah ini.


*****


"Nggak nyangka kok Sri jadi seperti ini," kata Nek Darti sambil meletakkan segelas susu ibu hamil di atas meja. Lalu ia ikut duduk di sampingku. Ia menepuk-nepuk pahanya. Kode agar aku meletakkan kepala di paha itu.


Tangannya yang tidak halus ternyata enak untuk memijit kepala.


"Sebenarnya Sri itu orangnya baik dan lembut. Tapi mulai berubah seperti orang depresi sejak Handoko kawin lagi."


"Gara-gara aku, Nek?" Entah harus meras bersalah atau tidak. Karena aku tidak pernah merebut suaminya.

__ADS_1


Nek Darti menggelengkan kepala. "Bukan."


Aku mengernyitkan dahi. Kalau bukan aku, lalu siapa? Apakah Juragan pernah menikahi wanita lain sebelum aku?


__ADS_2