
Aku nyaris berteriak begitu menyadari siapa yang ada di depan mata. Kedua mataku membulat sempurna. Mulutku juga menganga. Segera wanita yang sudah lama tak terlihat itu membungkam mulutku dengan tangannya. "Jangan berisik. Ayo ...." Ia menarik tanganku.
Kini aku yang menarik tangannya. Membawanya masuk ke dalam kamar. Lalu, memeluknya erat. Sangat erat. Padanya air mataku tumpah. Dina, teman dekatku sejak sekolah menengah pertama itu menepuk-nepuk pelan bahuku. Setelah lulus dari SMA, Dina mengajakku untuk bekerja di kota. Tetapi aku menolak karena adikku Aini merengek tak mau jauh dariku.
Setelah tiba di kota, awalnya komunikasi kami lancar, namun setelah beberapa bulan nomornya tidak bisa dihubungi. Kutanyakan keluarganya. "Hape Dina hilang. Lagi ngumpulin duit buat beli lagi. Kami juga nggak bisa ngubungi dia kalau nggak dia duluan, itu pun pinjam punya temannya," jelas kakaknya saat itu.
Setelah sekian lama tak berjumpa, akhirnya dia datang tanpa kuminta. Tepat saat aku membutuhkan teman untuk berbagi rasa.
Dina menarik tubuhku dari pelukannya. "Kok, nangis?" Aku tak menjawab. Tak kuasa menyudahi airmata yang terus berderai. Lagi, aku menubruk tubuhnya. Menenggelamkan nestapaku di sana. Menemukan ketenangan yang selama ini berkelana.
"Aku ... aku ...." Isak tangisku menyulitkanku untuk berkata.
"Aku sudah tahu semuanya. Itu sebabnya aku pulang. Demi kamu."
Aku semakin merekatkan rengkuhanku pada tubuhnya. Hingga airmataku pun membasahi bajunya. Sedang tangan Dina terus mengelus punggungku. Mengalirkan kedamaian dalam hatiku.
Lega. Aku menarik diri dan menghapus airmata. Lalu, dengan bibir masih bergetar aku mengukir senyum tipis untuk sahabat yang ada di depan mata.
Kedua tangan Dina memegang bahuku. "Maya ...," ucapnya pelan. Matanya lurus menatap mataku. Sepasang bola mata itu menyelami hingga ke dasar hatiku. Aku menunduk tatkala melihat tatapan itu. "Ini langkah yang tepat," imbuhnya.
Aku mendongak. Menatap matanya dengan penuh tanya. Apa maksudnya?
"Aku yakin, kamu pasti bahagia." Bibirnya berusaha mengukir senyum. Namun, matanya tak bisa membohongi ada sesuatu yang ia tak ingin ungkapkan.
Aku menggeleng dan tangisku kembali pecah. "Agus bohong, Dina. Dia udah bohongi aku. Katanya mau bawa aku pergi bersamanya. Katanya akan merawat anak ini bersama. Dia yang mengawali semuanya. Tapi ... tiba-tiba dia menghilang begitu saja." Aku merengek bagai anak kecil yang dibohongi akan dibelikan mainan oleh orangtuanya.
"Lupakan dia, Maya. Kamu akan menjadi milik orang lain."
"Bagaimana bisa aku menikahi pria yang sudah menjamahku, Dina? Oke, masalah perbedaan usia aku kesampingkan. Tapi dia ...." Aku tercekat, kerongkonganku terasa ada yang menghambat. Kajadian itu masih sangat melekat.
"Aku terpaksa, Dina ...."
Mengerti dengan perasaanku, Dina kembali merengkuh tubuhku. "Aku mengerti. Menangislah jika kamu masih ingin menangis. Selama aku belum balik ke kota, bahuku akan selalu ada untukmu. Tapi janji, ini yang terakhir, ya."
*****
"Tolong ambilkan, Dina." Aku meminta tolong padanya untuk mengambilkan ponselku yang sedang berdering di atas nakas tak jauh dari tempat ia duduk. Aku tak bisa bangkit dari dudukku karena sedang di rias. Yah, hari ini aku akan di-sah-kan Juragan Handoko.
Dina meraih ponsel itu lalu memberikannya padaku. Sengaja aku memintanya untuk tidak pergi kemana pun. Aku ingin dia selalu denganku.
Nomor Bu Sri yang tertera di layar. Menyebabkan darahku mengalir deras hingga tubuh ini terasa hangat. Aku menoleh pada Dina, ia mengerutkan dahi. "Apa?" Begitulah kira-kira dalam pikirannya.
"Apa?" tanyaku tanpa berbasa-basi setelah menekan tombol berwarna hijau.
"Nekad juga kamu, ya?"
__ADS_1
"Nekad apa?" Aku melirik pada Dina. Ia masih sama. Wajahnya menunjukkan penasaran.
"Masih nekad menikah dengan suamiku?"
"Bukankah sudah kubilang. Aku akan menikah dengannya. Karena memang dia pelakunya." Sangat bertolak belakang dengan hatiku yang samasekali tidak menginginkan pernikahan ini terjadi.
"Awas saja. Jangan harap kamu bisa hidup tenang!"
"Jika tidak ada tanda tangan dari istri pertama, perikanan ini tidak akan disetujui KUA, dan kami sah secara hukum. Lantas, mengapa mengancam ku?" protesku.
Telepon dimatikan. Sepertinya wanita yang akan menjadi kakak maduku itu marah besar. Tak dapat menepis kata-kata yang kuucap.
"Siapa?" tanya Dina setelah menahan rasa penasarannya. Aku hanya menarik napas.
"Istrinya?" tebaknya. "Bilang apa dia?" imbuhnya begitu yakin kalau yang menelepon barusan adalah Bu Sri.
"Oh, Bu Sri istri Juragan ganteng itu, ya? Ih, itu, kan, judes." Tiba-tiba periasku menimpali dengan gaya kemayunya.
"Nggak takut jadi madunya?"
Aku dengan Dina saling melirik. Bisa-bisanya menanyai hal yang sangat pribadi pada orang yang bersangkutan.
"Tau nggak, Bu Sri bilang ke orang-orang kalau katanya Maya, tuh, bukan hamil sama Juragan. Masa, iya?" Pria yang menyerupai kak Soleh itu sedikit memiringkan tubuhnya untuk dapat melihat wajahku. Aku menjadi bingung harus memanggil dia dengan sebutan apa.
"Nggak usah didengerin,* ucap Dina. Lalu disambut tawa renyah pria gemulai yang aku pun belum menanyakan siapa namanya.
"Eh, berarti Bu Sri yang mandul, ya?" Tawanya melengking, sedang jemari lentiknya sangat telaten memoles wajahku.
"Sssst ...." Dina memberi isyarat agar tidak bersuara keras.
*****
Dina sangat hati-hati menuntunku menuju ruang ijab. Jantungku berdegup kencang saat akan duduk bersampingan dengan Juragan Handoko.
"Gila, May. Juragan ganteng!" serunya setengah berbisik di telingaku.
Tampak Juragan sudah duduk di kursi di mana itu tempat yang turut menyaksikan kalimat sakral yang akan diucapkan Juragan.
Benar, Juragan tampak gagah dan menawan mengenakan jas putih dan kopiah juga berwarna putih. Wajahnya sumringah, tampak tak ada beban di sana. Atau perasaan bersalah karena telah meduakan istrinya. Sesekali ia melempar senyum saat berbicara pada penghulu yang ada di depannya.
Pelan-pelan sekali aku menduduki kursi kosong di samping Juragan. Aku yang juga mengenakan kebaya berwarna putih membuat pemandangan ini menjadi sempurna. Duh, aku terlalu percaya diri!
"Baik, kita mulai," ucap Wali Hakim. Membuat hatiku kian tak menentu. Ada perasaan baru hadir mengganggu persaanku. Perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Perasaan menyesal dengan nasibku. Bukan nasib karena menikah dengan Juragan, Bukan!
Nasib, mengapa aku bukan darah daging Bapak? Mengapa aku tercipta bukan dari benih Bapak? Mengapa? Mengapa? Mengapa? Sehingga Bapak tidak bisa menikahkan aku.
__ADS_1
Ya Allah, andai aku boleh meminta, hapuskan hukum itu satu kali ini saja untukku. Aku ingin mendengar ijab itu keluar dari bibir Bapak. Sebagaimana Bapak selalu mengajarkan aku mengaji. Menyanyikan aku solawat pengantar tidur saat masih kecil.
Aku ingin, tangan Bapak yang menjabat tangan Juragan. Ingin sekali. Rasanya begitu sakit saat melihat Bapak duduk di belakang wali hakim. Hanya bisa menyaksikan anak yang telah dibesarkan seperti anak kandungnya sendiri tanpa bisa menikahkan.
Wajah Bapak tampak sendu. Ada airmata yang menggenang di sana. Apakah yang aku rasakan juga Bapak rasakan? Andai pekerjaan Bapak sebagai wali hakim, apakah Bapak bisa menikahkan aku walau sebagai wali pengganti?
Nyesak, aku pun menitikkan airmata. Tak sempat kuseka, ia jatuh membasahi pipi.
Bapak juga menatapku. Sorot matanya mengisyaratkan agar aku tidak menangis. Kuusap sudut mataku dengan tisu di tangan yang sudah kuowgang dari tadi.
"Ngapusnya ditepuk-tepuk pelan aja, ya. Bukan diusap kayak pantat kuali." Begitu kata pria gemulai yang katanya dia suka dipanggil Kak Saleh saat menyodorkan tisu ke tanganku. Ternyata bukan hanya mirip penampilan saja, tapi panggilan juga sama. Entah mungkin terinspirasi dari sana.
Ijab kabul berjalan lancar. Para saksi dengan serentak mengatakan 'Sah'. Juragan mengucapkan 'Alhamdulillah' dan mengusap kedua tangannya pada wajah. Lalu, mengulurkan tangannya padaku. Entah mengapa aku menurut. Bagai terhipnotis kusambut tangan itu lalu kucium takzim. Aku terkejut dengan tingkahku sendiri. Mengapa begini Maya?
Sialnya, aku harus bertahan lama dalam keadaan wajahku menempel di tangan Juragan atas permintaan photograper. "Tahan, ya. Tahan, ya." Begitu pintanya. Terpaksa aku pun menurut. Jika menolak, akan mempermalukan diriku sendir. Dan akhirnya viral dengan judul menikah karena dijodohkan seperti video yang beredar luas di medsos.
"Tunggu, ya, Maya." Dina pun tak ingin kalah mengabadikan momen langka ini. Ia ikut memotret poseku yang sangat bertolak belakang dengan suasana hatiku. Ingis sekali aku menjambak rambutnya yang sudah disasak Kak Saleh. Dia, kan tahu bagaimana perasaanku.
"Awas kamu, ya, Dina," ucapku hanya dalam hati. Paham dengan lirikan mataku, ia tersenyum seakan sengaja mempermainkanku. Lalu, mengacungkan jempol memuji penampilanku.
Tak hanya sampai di sini sesi pemotretan masih berlanjut. Menunjukkan buku nikah juga cincin kawin. Bahkan saling bergandengan tangan. "Ciee ... ciee ...," bisik Dina saat minta ikut berfoto denganku. Dina sedikit mengerang kesakitan saat aku mencubit pahanya.
*****
Kini aku telah berganti pakaian dengan menggunakan gaun nan indah bak Putri Cinderella. Pun dengan Juragan, ia mengenakan kostum yang serasi dengan apa yang kukenakan.
Duduk di pelaminan ternyata rasanya bagai Putri dan Raja. Dengan dikawal kiri dan kanan dengan orang tua. Namun, ada yang aneh dipandang mata. Orangtua dari Juragan samasekali tidak pernah menunjukkan perasaan malu atau kecewa. Justru kebalikannya. Mereka tampak ramah dan bahagia.
Perasaan bahagia itu belum juga menghampiriku. Apalagi, masih saja ada tamu yang nyinyir dengan pernikahanku. Khususnya teman-temanku.
"Nggak nyangka, ya. Doyan sama yang tuwir," ledek Viona saat datang ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat padaku. Aku paham maksud Viona bercanda, tapi aku tak nyaman dengan perkataan itu.
Belum lagi sepasang kekasih yang dikenal selalu bersama saat di sekolah. "Uang emang paling bisa, ya. Yang tua bisa nyingkirin yang muda," sindir Lina dengan tangan menggandeng lengan Tio. Mereka mengira aku meninggalkan Agus hanya karena Juragan orang beruang.
"Sampai-sampai jadi istri kedua pun rela," sahut Tino kekasihnya.
Inilah yang tidak aku inginkan mengadakan pesta besar-besaran. Hal seperti ini sudah bisa kubayangkan sebelumnya. Akan ada kalimat yang menambah luka hati.
Juragan seakan mengerti perasaanku. Tangannya merangkul bahuku. "Jangan dengarkan mereka yang hanya melihat dari sisi luarmu saja. Fokuslah pada dirimu sendiri," ucapnya dengan pandangan tetap ke depan.
"Mereka yang berkata seperti itu belum tentu lebih baik darimu. Dan, bisa jadi mereka iri melihatmu," imbuhnya lagi.
"Iri? Apa yang merek irikan dariku menikah dengan Pria beristri dan berumur sepertimu?" Protesku, namun hanya dalam hati.
Jantungku berdegup kencang saat seorang wanita muda naik ke atas pelaminan. Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Wanita itu sangat kukenal. Matanya basah. Sangat kentara bahwa ia baru saja menangis.
__ADS_1