
"Berikan aku buku ceritaaa!!!! " ucap Ian semakin berteriak tidak sabar.
Pagi harinya, Ian bangun dari tidurnya di jam 7 pagi. Begitu terbangun ia sudah duduk di meja belajarnya dengan sebuah buku yang ia timpa.
Karena merasa perutnya kosong, ia pun membersihkan diri lalu memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh bibi. Ia turun setelah menggunakan pakaian ala ala pekerja kantoran.
"Ish, baju apa ini. Tidak fashionable sama sekali, aku jadi terlihat seperti kakek kakek pekerja! " gerutu Ian sembari turun dari tangga dan berjalan ke meja makan.
"Cepat habiskan makanan mu. Hari ini kau akan ikut ke perusahaan dan lihat bagaimana cara ku bekerja. Kau harus bisa menguasai semua itu agar bisa mengelola perusahaan ku dimasa depan. " ucap ayah panjang lebar saat putra sulungnya duduk di meja makan.
"Ish, aku tidak suka baju ini. Aku mau baju superman! "
Ayah yang di tuntut oleh Ian tidak bersuara dan melanjutkan makannya. Melihat itu putra sulung dari pasutri tersebut pun makan dengan rasa tidak senang. Saat sedang makan terdengar suara dari tangga yang berasal dari putra bungsu di keluarga tersebut.
"Awas, spiderman mau loncat. " katanya yang tiba tiba saja melompat ke kursi meja makan. Ya, benar saja Nehan putra bungsu dari pasutri tersebut memakai pakaian yang di inginkan oleh putra sulungnya. Jujur saja, putra bungsu di keluarga tersebut selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan dengan sangat mudah.
"Hati hati Nehan,untung saja kau tidak terjatuh. " ayah yang khawatir jika putra bungsunya akan terjatuh. Sementara putra sulung yang tak lain adalah Ian sedang melihat dengan tatapan yang tidak senang sama sekali. Tatapan yang diberikan Ian untuk kedua makhluk di depannya ini terlihat sangat dingin dan tajam.
"Ian, kamu jangan kesal ya. Ibu akan membelikan baju itu nanti jika kamu benar benar menginginkannya. " ucap Ibu pada putra sulungnya yang terlihat tidak senang dari tadi.
"Benarkah? Jika begitu, aku ingin semua baju superhero. " ucap Ian dengan penuh semangat pada ibunya, tapi tiba tiba semangat itu hilang ketika ayahnya mengeluarkan kata kata dari mulutnya.
"Tidak perlu membelikannya, dia sudah besar. Ian jangan menyamakan dirimu dengan adikmu, kau itu jauh lebih tua darinya jadi bersikaplah dewasa. " ucap ayah yang membuat Ian kembali merasa kesal.
"Sudahlah, aku malas dengan ayah. Aku tidak mau pergi ke perusahaan. Aku mau diam dirumah dengan buku buku saja! Buku pun jauh lebih menyenangkan daripada ayah. " ucap Ian pergi menjauhi meja makan yang dimana sarapannya belum habis, bahkan makanan tersebut terlihat seperti baru dimakan beberapa suap.
Flashback off...
"Jadi begitu, jujur saja aku selalu merasa tidak suka dengan ayah karena ia selalu memberikan apapun yang Nehan inginkan sementara aku tidak! " ucap Ian memejamkan matanya karena sedang menahan kesal yang benar benar memuncak.
__ADS_1
"Tidak apa, sekarangkan kamu sudah mempunyai uang sendiri, kamu kan bisa membeli apapun yang kamu inginkan di masa kecil. " ucap Anne sambil menyenderkan kepalanya dibahu suaminya Ian.
"Aku sudah tidak punya waktu lagi untuk itu semua. Aku sibuk dengan pekerjaanku. " ucap Ian masih setia memejamkan matanya.
"Tapi, ayah pasti ada alasan tersendiri kenapa ia begitu ketat mendidik mu. " balas Anne memberi pengertian pada suaminya.
"Ia tidak punya alasan tersendiri. Sudah jelas jika ia menyayangi Nehan lebih dari segalanya! Sudahlah, aku tidak mau membahas itu. Seharusnya kita sekarang membuat cucu untuk ibu kan? "
Eh, kenapa tiba tiba malah jadi bahas cucu sih. Aku kan masih mau mendengar cerita masa kecilmu! pikir Anne.
"Ehm, aku sedang tidak bisa melakukan itu sekarang. " bilang Anne secara perlahan.
"Kenapa? " tanya Ian yang seketika langsung menghadap kearah istrinya, melupakan segala rasa kesal pada ayahnya.
"Aku sedang ada tamu bulanan. " ucap Anne dengan menutup mukanya. "Maksudmu? "
"Kau mengundang siapa ke rumah ini? Kenapa aku tidak melihatnya sama sekali tadi? " tanya Ian dengan begitu bodonya.
"Aku tidak mengundang siapapun kerumah ini, suamiku. Tamu bulanan yang aku maksud itu aku sedang datang bulan. "
"Oh, datang bulan. " jawabnya dengan santai setelah tau tamu bulanan yang dimaksud oleh istrinya.
"Kok kamu biasa aja? " heran Anne melihat suaminya.
Dia ini sudah berpengalaman atau bagaimana? pikir sang istri tentang suaminya.
"Aku tau karena ibuku juga mengalaminya. "
Mengetahui alasannya Anne hanya mengatakan oh saja.
__ADS_1
"Kita tidak bisa melakukan itu sekarang, jadi ayo tidur saja. Kalau kau tidak tidur sekarang mungkin aku akan memakan mu saat ini juga. "
Mendengar itu si istri langsung memejamkan matanya dan segera tertidur tanpa berniat mengucapkan sesuatu pada suaminya.
Ehm, Ian berdehem ketika melihat istrinya begitu cepat tertidur setelah dirinya mengatakan itu. Karena merasa masih terlalu awal untuk tidur, ia akhirnya berjalan kearah sofa yang berada di kamar tersebut.
Ia langsung mendudukkan dirinya disitu lalu membuka laptopnya dan menyelesaikan laporan laporan yang masih belum selesai.
~•~•~•~•~
Sementara itu, ditempat lain yang terdengar suara berisik di malam hari tersebut.
"Heh. Kembalikan buku ku! " ucap seorang gadis berlari mengejar bukunya yang dibawa lari oleh seorang pemuda yang tampan.
"Bodo, ambil aja sendiri kalau bisa. " ucap pemuda tersebut sambil mengangkat tinggi buku yang ia ambil dari adik kakak iparnya.
Ia tahu jika tinggi gadis tersebut tidak tinggi alias pendek. Sehingga ia berniat untuk menjahili nya dengan cara membawa lari bukunya.
"Kembalikan! " ucap gadis tersebut sambil memukul tangan pemuda tersebut. Karena merasa kesal, akhirnya gadis tersebut langsung menggigit lengan pemuda yang mengusili dirinya.
"Agh! Eh kau udah gila ya main gigit gigit kayak vampir aja. " ucap pemuda tersebut kesakitan sampai menjatuhkan buku yang ia ambil dari gadis tersebut.
"Biarin aku kayak vampir. Kamu juga toh kayak serigala rabies! " ucap gadis itu sambil mengejek si pemuda tersebut.
Setelah itu, terjadilah perdebatan diantara keduanya yang saling mengejek satu sama lain. Ayah yang melihat itu hanya bisa menghela napasnya saja dan ibu juga menunjukkan senyumnya.
"Sudah lama ya, tidak merasakan suasana ini. " ucap Ibu menyenderkan kepala di dada bidang milik suaminya.
"Bukan lama lagi, tapi memang tidak pernah. " ucap ayah mengingat masa lalu putra sulungnya yang selalu ia perlakukan dengan tegas berbeda dengan putra bungsunya yang selalu ia manjakan.
__ADS_1
Syukurlah kau sudah menemukan kebahagiaanmu sendiri, Ian. Maaf jika ayah tidak pernah membuatmu bahagia dulu. Sebenarnya itu untuk membuatmu menjadi pribadi yang tegas dan tidak loyo loyo.
Sambil melihat putra bungsu dan gadis yang merupakan adik dari menantunya itu berdebat. Ia memikirkan sikap tegasnya pada putra sulungnya dimasa kecil putranya tersebut.