Menikahi CEO Ian

Menikahi CEO Ian
Siapa yang dia suka?


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah Ian berangkat untuk bekerja. Anne bersiap siap untuk pergi mengunjungi adiknya yang hampir satu minggu tidak ia lihat.


"Pergilah mengunjungi adikmu, kau pasti kangen padanya. " ucap Ian sambil mengusap kepala Anne dengan tersenyum. "Oke, makasih suamiku. " Anne mencium pipi suaminya karena senang diberi izin untuk menemui adiknya.


Setelah selesai bersiap siap, ia mengambil tas kecil lalu berjalan ke bawah. "Selamat pagi pak, apa hari ini bapak bisa mengantar saya ke rumah ibu dan ayah? " tanya Anne setelah menyapa bapak supir.


"Baik nona, saya akan mengantar anda. " Sang bapak supir berdiri lalu mengambil kunci mobilnya, ia membukakan pintu mobil untuk nona mudanya.


"Terimakasih, pak. " ucap Anne setelahnya masuk ke dalam mobil.


Didalam mobil, terasa sunyi dan hening hingga Anne memulai pembicaraan. "Bapak bekerja sejak kapan? "


"Saya sudah bekerja sejak tuan muda berumur 12 tahun, nona. "


Anne mengangguk lalu kembali bertanya, "Hmm, jika begitu siapa nama bapak? Saya hanya ingin kita menjadi akrab, hehe. " ucap nona muda tersebut sembari tersengir sengir di akhir kata.


"Nama bapak Rusto nona. " jawab pak Rusto pada nona muda yang ia layani.


"Ohh, kalau begitu apa aku boleh memanggil bapak dengan sebutan om Rus saja? " tanya Anne kembali pada pak Rusto.


"Anda bisa memanggil saya sesuka anda, nona. " jawab si bapak dengan hormat.


Beberapa menit mereka berbicara, akhirnya kembali diam lalu beberapa menit kemudian akhirnya sampai dirumah ibu dan ayah mertua.


Begitu sampai, om Rus keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk nona mudanya. Kebetulan hari ini adalah hari minggu, jadi sang adik yaitu Loyce sedang dirumah.


Begitu turun dari mobil, Anne langsung memencet bel lalu tidak sampai lima menit kemudian akhirnya pintu dibuka. "Wah, Anne kamu datang kesini? " tanya ayah mertua pada menantunya.


"Hehe, iya ayah. " setelah menjawab itu Anne dipersilahkan untuk masuk. "Loyce sedang dikamar, kamu bisa naik ke lantai atas lalu carilah pintu yang ada gantungan berwarna merah. " ucap ayah ketika tau Anne mencari adiknya.


"Baik, terimakasih ayah. " Anne langsung berjalan naik ke atas dan mencari pintu yang disebutkan ayah. Kurang dari 5 menit berjalan, akhirnya ia melihat pintu yang dimaksud oleh ayah. Kamar adiknya Loyce berada disamping kamar adik sang suami yaitu Nehan.


Begitu melihat pintu yang dimaksud ayah, Anne mendekati pintu itu lalu mengetuk nya. Loyce yang sedang membaca buku pun berjalan dari meja belajarnya dengan malas ke arah pintu, ia mengira bahwa Nehan yang kembali menganggunya.


"Bisa tidak sih jangan, " ucapnya terhenti ketika melihat siapa yang berdiri didepan pintu kamarnya. "Loh, kakak? "

__ADS_1


"Hai, apa kabarmu belakangan ini? " tanya Anne setelah di izinkan untuk masuk ke kamar adiknya. "Aku baik baik saja. Bagaimana dengan kabarmu? "


"Syukurnya sehat. " jawab Anne sambil menarik kursi meja belajar adiknya untuk ia duduki. "Bagaimana, apa keponakanku sudah ada? " tanya Loyce langsung terang terangan ketika kakaknya sudah duduk.


"Ish, apasih baru duduk udh ditanya begituan. "


"Ya gapapa dong, kan aku mau cepat cepat punya keponakan. Jadi udh ada belum? "


"Gak tau, gak mau jawab. " Anne menolak menjawab pertanyaan dari sang adik yang menurutnya sangat memalukan untuk dipertanyakan.


"Ehh, kakak ini masa gitu doang gak mau jawab sih! " Loyce yang merasa sangat penasaran dengan kabar keponakannya. "Apa keponakanku sudah ada? Hmm, kira kira dia perempuan atau laki laki ya? " pikir Loyce dengan serius dan melupakan buku yang ia baca tadi.


Ketika Anne hendak kembali berucap, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Loyce yang mengenali suara ketukan itu pun tidak peduli dan tidak mau membuka pintu.


Karena tidak sabar pemuda yang mengetuk pintu itu pun langsung berkata, "Heh Loyce buka pintunya. "


"Ogah! " jawabnya dari dalam. Karena tidak sabar pemuda tersebut langsung membuka pintu kamar tersebut. Lalu, terlihat wajah sok cuek dari laki laki tersebut.


"Pinjam buku. "


"Kalau kau itu kaya beli lah buku sendiri. Bilang doang kaya, beli buku gak bisa. " jawab gadis tersebut sambil melihat sang pemuda dengan tatapan menantang. Sementara pemuda tersebut juga tak kalah melihat dengan tatapan tak senang.


"Dih, daripada beli buku mending aku simpan biar bisa nikah sama cewek yang aku suka. "


Nehan langsung terkaget kaget ketika mendengar suara kakak iparnya. "Kamu suka sama siapa tuh? Kenalin dong, siapa tau bisa akrab sama kami. "


"Gak perlu dikenalin juga udh kenal. " jawabnya dengan melirik Loyce, lalu berjalan ke meja belajar dan langsung mengambil buku tanpa meminta izin.


"Heh pencuri buku! "


"Berisik, pinjam satu hari doang pelit amat sih! "


Nehan langsung keluar dari kamar Loyce setelah mendapat buku yang ia ambil.


Ia kembali berjalan ke kamarnya lalu membaca buku yang ia pinjam.

__ADS_1


Gadis yang ku suka ya? Apa dia tau aku suka dengannya? Ia berpikir sambil membayangkan wajah gadis yang membuatnya tertarik. Gadis yang dulu sering ia bully saat belum memiliki hubungan keluarga dengannya.


Dikamar satu lagi, tempat seorang gadis dan seorang wanita sedang berbincang disana.


Disaat sedang berbicara, pikiran Loyce tiba tiba kembali terpikir dengan kata kata Nehan tadi.


Siapa gadis yang dia suka? Kenapa dia bilang tanpa mengenalkannya aku sudah kenal dengannya? Aku tidak ingat dia pernah mendekati gadis lain di sekolah. Pikir nya dengan keras.


Di tempat lainnya, di sebuah perusahaan.


Ren bergidik ngeri ketika melihat CEO yang ia layani tersenyum sedari berangkat hingga saat ini.


Dia ini kenapa sih? Sudah sinting kah, senyum mulu daritadi. Tunggu, jangan bilang dia lagi stres atau depresi sampai dia senyum senyum gak jelas? Tunggu Ian, jangan mati dulu. Aku akan membantu pekerjaanmu.


"Ian, apa kau mau pulang untuk beristirahat? Aku melihat wajahmu sepertinya kelelahan. "


"Aku masih ada pekerjaan yang belum selesai. "


"Aku akan mengerjakannya. Kau pulang dan beristirahat lah, pasti istrimu rindu denganmu. " Tanpa sadar ucapannya membuat senyum Ian semakin melebar.


Apasih sinting ya? Senyum mulu.


"Okelah, antar aku kerumah ibu dan ayah. Aku mau menemui istriku disana dan mengajaknya pulang. "


Tanpa basa basi Ren dan Ian bergerak lalu menuju ke tempat yang diminta oleh Ian.


Ketika Anne dan Loyce sedang berbicara, pintu kamar langsung terbuka lebar, begitu menoleh mereka melihat kaki yang menendang pintu kamarnya.


"Anne, ayo pulang. " anaknya langsung tanpa merasa bersalah sudah menendang pintu kamar adik iparnya.


"Tapi, "


"Sudahlah ayo pulang sana, ingat ya berikan aku keponakan secepat cepatnya. " ucap Loyce mendorong kakaknya ke tempat suami si kakak berdiri.


"Apasih, keponakan mulu yang diminta. "

__ADS_1


__ADS_2