
Sang sopir yang melihat Nicky terkapar tak berdaya di depan pintu gerbang, segera berlari untuk menolongnya.
Dia memapahnya menuju ke mobil.
Sementara saat ini, Renata dan orang tuanya telah berada di kanar masing-masing. Niko pun melangkah ke kamar Renata dimana saat ini ia sedang menangis ketakutan seraya tertelungkup.
"Heh, sudah aku katakan padamu bukan? supaya jangan sesekali kabur dariku! apa kamu ingin aku menyiksamu lagi? apa aku harus membuktikan kebenarannya dengan menyakiti orang tuamu?"
Niko begitu kasarnya, ia menarik rambut Renata yang saat ini sedang tertelungkup, hingga Renata mendongak. Wanita cantik ini tidak mengatakan apapun sama sekali. Ia malah semakin ketakutan.
"Kenapa, kamu takut padaku? makanya jika ingin bertindak sesuatu butuh di pikirkan dulu sebab dan akibatnya. Jangan langsung bertindak, yang ada aku akan selalu kasar padamu!"
"Padahal aku sudah berniat akan merubah sifatku ini agar tidak menyakiti dirimu lagi. Tetapi malah kamu seperti ini! jangan salahkan aku jika aku bertindak sesuka hatiku, karena kamu juga bertindak sesuka hatimu!"
Begitu panjangnya, Niko berkata banysk hal. Akan tetapi Renata sama sekali tak menjawab. Hanya buliran air matanya yang selalu saja tertumpah.
Dia sama sekali tidak bisa mengatakan apapun lagi karena sudah terlalu cape dan lelah di perlakukan kasar oleh Niko. Walaupun baru beberapa hari saja rasanya seperti ribuan tahun lamanya.
Niko merasa lelah juga setelah mengatakan banyak hal tetapi Renata sama sekali tidak menyangkal ataupun mengatakan sepatah kata. Niko terus memperhatikan wajah Renata tang pandangannya ke arah lain. Ia sama sekali tidak memandang ke arahnya.
Di dalam hatinya kini merasa iba pada wanita cantik yang telah menjadi istrinya tersebut. Dan tiba-tiba ia merengkuh paksa tubuh Renata di dalam pelukannya.
"Sayang, aku minta maaf atas segala perlakuan kasarku padamu ya? aku akan berusaha untuk tidak berbuat seperti ini lagi, dan akan memperlakukan dirimu layaknya seorang istri."
__ADS_1
Niko terus saja memeluk Renata seraya menciumi pucuk rambutnya. Ia merasa sangat berdosa dan bersalah pada wanita cantik yang telah menjadi istrinya tersebut.
Sekali lagi Renata sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Karena ia benar-benar pikirannya kini kosong dan kalut. Hanya kesedihan dan ketakutan yang begitu mendalam.
Tak terasa malam menjelang, dibsaat makan malam tiba. Tetapi Renata sama sekali tak bergeming dari ranjangnya. Ia terpejam matanya sejak sore. Hal ini membuat Niko pun menjadi cemas.
Perlahan ia menghampiri tubuh istrinya, dan pada saat ia memegang lengannya untuk mengguncangnya, ia merasakan suhu tubuh istrinya begitu panas.
"Astaga... Renata. Kamu kenapa sayang, badanmu panas sekali seperti ini?"
Kepanikan kini menyerang diri Niko, san ia pun segera meminta kepada ayah mertuanya untuk segera menelpon dokter pribadi keluarganya.
"Apa yang telah kamu lakukan pada anakku, apa kamu telah menyakitinya lagi?" bentak Ayah Mickel yang cemas pada saat melihat Renata wajahnya pucat pasi dan matanya terpejam.
Hingga pada akhir, Ayah Michel memencet nomor ponsel dokter pribadi. Ia menelpon lewat sambungan telpon rumahnya. Karena telpon pribadinya juga di sita oleh, Niko.
Tak berapa lama, datanglah sang dokter pribadi keluarga Renata. Dan segera memeriksa kondisi dirinya.
"Bagaimana kondisinya, dok?" tanya Niko pada saat melihat sang dokter sudah selesai memeriksa Renata.
"Kondisi jiwanya sangat terguncang dan ini baru pertama kalinya, saya memeriksa Nona Renata alami hal sebegitu tragis. Ia sepertinya sudah putus asa dan enggan untuk hidup. Apakah anda sebagai seorang suami selalu bertindak kasar padanya? karena ini juga bisa berpengaruh pada psikisnya atau kejiwaannya. Jika seperti ini, Non Renata bisa akan terus seperti ini. Seperti mayat hidup."
Niko langsung mencengkram kemeja sang dokter. Hal ini membuat sang dokter merasa kaget.
__ADS_1
"Jadi anda mengira, Renata seperti ini karena saya? awas saja ya jika anda berani mengatakan gak seperti ini lagi, aku tidak akan segan-segan berbuat kasar pada, anda!' bentak Niko mengancam sang dokter.
Tetapi dokter sana sekali tidak takut dengan ancamannya, justru ia tersenyum sinis pada Niko.
"Aku tidak takut sama sekali dengan ancaman anda, karena aku memeriksa sesuai dengan kondisi, Non Renata. Ini sudah jelas sekali bahwa anda tidak bisa menjadi suami yang baik. Dari sikap anda padaku saja sudah bisa untuk penilaian. Sangat di sayangkan jika anda menyia-nyiakan istri sepintar dan sebaik, Non Renata," ucap sang dokter.
Niko melepaskan cengkeramannya pada kerah baju sang dokter. Dan ia segera meminta sang dokter pergi setelah menuliskan resep obat untuk Renata.
Dokter sempat heran dengan sifat Niko, karena ia tidak tahu jari dari Niko yang ia anggap adalah Nicky. Karena pada saat terjadinya pernikahan, sang dokter kebetulan tidak hadir badan sedamg berada di luar kota, hingga ia tidak tahu tragedi yang telah menimpa keluarga, Ayah Michel.
Pada saat dokter akan pulang, sebenarnya Ayah Mickel ingin mengatakan sesuatu hal. Tetapi ia tidak berani karena Niko terus saja mengawasi dirinya.
"Bagaimana caraku mengatakan pada dokter tentang apa yang sedang menimpa keluarga ini? aku juga sebenarnya ingin meminta dokter untuk datang ke rumah Nicky. Pasti saat ini Nicky juga butuh pemeriksaan, apa lagi ia sempat di hajar habis-habisan oleh anak buah, Niko."
Ayah Mickel terus saja mentapa ke arah dokter dengan tatapan sendu. Hingga sampai ke pintu gerbang pun, ia terus menatap ke arah dokter. Lidahnya tercekat kala ingin mengatakan banyak hal, tertutup oleh rasa ketakutannya pada, Niko.
Dokter sempat melihat wajah cemas yang ada pada diri, Ayah Mickel. Ia pun di dalam hatinya juga sedang berpikir banyak hal.
"Kenapa, Tuan Mickel terlihat cemas sekali dan pandangan matanya seperti ingin mengatakan sesuatu padaku, tetapi ada rasa ketakutan yang begitu mendera? apa yang sebenarnya sedang terjadi pada keluarga ini ya?" batin sang dokter.
"Coba saja ia mau bercerita walau sejenak saja, pasti akan aku bantu jika aku tahu permasalahan yang sedang ia hadapi saat ini. Aku juga heran dengan sikap Nicky. Setahuku dia itu pemuda yang sangat ramah dan sopan. Tetapi tadi seperti bukan, Nicky?"
Pada saat dirinya baru masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba telpon berdering. Dan ada satu panggilan telepon yang ternyata dari nomor ponsel milik Nicky.
__ADS_1
"Bukannya ini nomor ponsel milik, Nicky? kenapa dia menelpon diriku? apakah ada hal yang terjadi pada, Non Renata?" batinnya.