
Sang dokter segera mengangkat telepon dari Nicky karena ia penasaran.
"Dok, segera ke rumahku sekarang juga aku butuh pertolonganmu."
Setelah mengucapkan sepatah kata tersebut dengan sangat lirih, Nicky segera menutup panggilan teleponnya. Dokter pun semakin dibuat bingung.
"Padahal aku belum mengatakan apapun dan ingin mengatakan sesuatu malah Nicky sudah menutup teleponnya terlebih dulu. Tetapi dari suaranya terdengar seperti sedang terluka parah."
"Kalau begitu sebaiknya aku ke rumahnya saja mungkin yang ia maksud rumah pribadinya. Tetapi bagaimana mungkin secepat itu Nicky sudah berada di rumahnya sendiri, padahal tadi aku sempat melihatnya ada di rumah, Renata?"
Dengan diliputi oleh rasa penasaran, sang dokter pun akhirnya melajukan mobilnya menuju ke rumah Nicky. Ia ingin melihat kepastiannya apakah memang benar Nicky saat ini sudah berada di rumahnya.
Hanya beberapa menit saja sang dokter telah sampai di rumah Nicky. Ia pun segera masuk dan memarkirkan mobilnya di pelataran rumah, karena kebetulan sang security sudah mengetahui akan kedatangan dari sang dokter.
Sang dokter langsung masuk saja ke dalam rumah Nicky, dengan diantar oleh sang sopir pribadi. Ia begitu kaget pada saat melihat Nicky terbaring lemah dengan penuh luka di sekujur wajah dan tubuhnya.
"Astaga, Nicky. Bagaimana bisa kondisi kamu seperti ini, sedangkan baru saja aku melihatmu baik-baik saja di rumah Renata?"
Nicky hanya diam saja seraya ia terus saja meringis kesakitan karena luka-luka yang saat ini dideritanya. Sedangkan sang dokter segera mengeluarkan alat medisnya untuk segera memeriksa dan mengobati luka-luka yang ada pada diri, Nicky.
Setelah dokter selesai mengobati semua luka yang ada di wajah dan tubuh Nicky. Ia pun segera menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya pada sang dokter tersebut.
"Astaga, jadi yang ada di rumah itu bukan dirimu melainkan saudara kembarmu? pantas saja sifatnya sangat jauh berbeda, ia arogant dan juga sangat galak," ucap sang dokter.
__ADS_1
"Iya, dok. Aku bingung harus dengan cara apa supaya aku bisa membebaskan Renata dan orang tuanya dari sekapan Niko. Apa lagi perusahaan aku juga di ambil alih olehnya. Aku sudah tak tahu lagi harus bagaimana?"
Dokter yang sudah kenal baik dengan Nicky bisa memahami apa yang saat ini sedang di rasakan olehnya. Sejenak dokter terdiam, ia sedang ingin membantu memecahkan permasalahan yang sedang di hadapi oleh Nicky saat ini.
"Nicky, aku ada satu saran untukmu. Bagaimana jika kamu melawan saudara kembarmu dengan cara halus."
Nicky memicingkan alisnya mendengar apa yang barusan disarankan oleh sang dokter," maksudnya aku harus melawannya dengan cara lembut itu bagaimana ya, Dok? tolong dijelaskan lebih lagi supaya supaya aku tidak bingung dan bisa mengerti apa yang dokter katakan barusan."
"Kamu harus menggunakan penyamaran supaya tidak di ketahui oleh Niko. Dan kamu dekati dirinya, buat dia percaya padamu sepenuhnya. Setelah itu kamu akan bisa ambil perlahan demi perlahan perusahaan milikmu itu. Juga bisa membebaskan Renata dan orang tuanya," ucap sang dokter.
"Apa aku harus mengoperasi plastik wajahku begitu, dok? supaya tidak di ketahui oleh Niko?"
Sang dokter terkekeh pada saat mendengar apa yang barusan di katakan oleh Nicky," hheeee... tidak perlu sampai mengoperasi plastik wajahmu. Nanti yang ada malah Renata dan orang tuanya tak mengenali dirimu. Masih banyak cara lain supaya Niko tidak tahu siapa dirimu."
Sang dokter pun memberikan cara yang jitu yakni penyamaran dengan memakai segala asesoris seperti rambut palsu atau wig, kaca mata, dan di buat seolah mempunyai tahi lalat.
Mendengar saran yang di berikan oleh sang dokter, Nicky sangat setuju. Ia akan mengikuti saran dari Dokter.
"Terima kasih ya, Dok. Telah memberikan saran yang terbaik untukku, memberikan sebuah ide yang sangat jitu. Aku yakin kali ini bisa mengalahkan kelicikan Niko," ucap Nicky sumringah.
"Sama-sama, Nicky. Pesanku jangan pernah kamu putus asa, yakinlah bahwa usahamu ini akan membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Percaya saja jika kejahatan pasti akan kalah oleh kebenaran," ucap Dokter memberikan support pada Nicky.
Dokter pun berpamitan pulang, setelah mengobati dan memberikan saran pada Nicky.
__ADS_1
Sementara saat ini di rumah Renata, ia masih tergolek lemas. Badannya juga masih demam, dan ia benar-benar sudah tidak bersemangat untuk hidup. Hingga ia tidak mau untuk meminum obatnya.
"Nak, minumlah obatnya. Biar kamu lekas sembuh dan sehat kembali. Jangan buat ayah dan ibu semakin bersedia karenamu. Jika kamu seperti ini, kamu akan sangat merasa bersalah," ucap Ibu Clara seraya terisak dalam tangis.
Renata tetap diam, dengan tak terasa menitikkan air matanya. Ia benar-benar sudah tidak ingin hidup lagi. Ia ingin cepat mati saja karena sudah tak tahan dengan sikap Niko yang selalu kasar padanya. Bahkan ia tak bisa mengatakan hal ini pada orang tuanya. Karena Niko juga yang telah mengancam dirinya.
"Renata, apakah Niko bersikap kasar padamu? hingga kamu seperti ini?" tanya Ayah Michel.
Renata hanya menggelengkan kepalanya, ia tak bicara apa pun sama sekali.
"Jika Niko tidak berbuat kasar padamu, seharusnya kamu tak sampai seperti ini," ucap Ayah Michel.
Renata tetap diam saja, dan tak berapa lama datanglah Niko mendengar kebisingan yang ada didalam kamar.
"Bagaimana? apa anak kalian yang manja ini tetap nggak mau minum obatnya? Renata, cepat minum obatnya atau kamu ingin aku melakukan hal keji pada orang tuanmu!" ancam Niko.
Renata langsung ketakutan dan ia meraih obat yang ada di tangan Ibu Clara. Dan langsung meminumnya. Karena ia takut dengan ancaman Niko, sebab ia tidak pernah main-main dengan ancamannya.
Orang tua Renata juga tidak bisa berkata apa-apa. Mereka juga takut jika berkata, Renata yang akan di sakitinya.
"Nah, seperti itu! makanya kalian ini jadi orang tua jangan terlalu memanjakan anak, jadi ngelunjak!" bentak Niko.
'Dan kamu, Renata. Aku nggak ingin melihat dirimu seperti ini, terlalu lemah!" bentak Niko melotot ke arah Renata.
__ADS_1
Tiba-tiba di dalam hati Renata, mendadak timbul ingin balas dendam pada, Niko.
"Hem, apa yang kamu katakan ada benarnya Niko. Aku tidak boleh lemah, karena jika aku lemah kamu akan semakin menginjak-injak harga diriku dan orang tuaku. Lihat saja Niko, aku tidak akan tinggal diam! aku akan bakss semua ysng telah kamu lakukan padaku dan orang tuaku," batin Renata.