MENIKAHI SAUDARA ANGKAT

MENIKAHI SAUDARA ANGKAT
Permintaan Adnan


__ADS_3

Malam ini Adnan dan mama Elin meminta Ethan untuk makan malam bersama di rumahnya. Adnan, mama Elin, Ethan dan juga Geya sudah berkumpul di meja makan berukuran persegi panjang. Geya duduk di samping mamanya, sementara Ethan duduk di sebrang. Sementara Adnan sendiri yang memimpin makan tersebut.


Keluarga mereka bukan keluarga yang formal. Mereka bebas bicara pada saat makan tanpa larangan apapun. Justru saat tengah berkumpul seperti itu, harus memanfaatkan momen untuk lebih dekat lagi dengan keluarga. Seperti itu pemikiran keluarga mereka di sini.


"Ah ya, sayang. Bagaimana pertemuan nya tadi dengan Bara?"


Pertanyaan mama Elin tentu saja mengundang perhatian Ethan dan juga Adnan. Ethan berusaha untuk bersikap biasa saja.


Geya melirik ke arah Ethan, sepertinya itu momen yang pas ia menceritakan Bara di depan pria itu.


"Aku senang sekali, ma. Bara itu orangnya sangat baik. Dan menurut aku, Bara itu tipekal pria aku."


"Oh yah?"


"Iya, ma. Aku jadi ingin kenal lebih jauh lagi dengan dia."


Mama Elin mengulas senyum mendengarkan cerita Geya. Sekarang ia tidak khawatir lagi Geya bepergian dengan Bara, sebab Ethan sendiri sudah mengatakan jika Bara sepertinya pria baik-baik.


"Lain kali ajak Bara main ke sini. Mama juga mau kenal dengan dia."

__ADS_1


"Serius, ma?"


"Iya. Itupun kalau Bara nya mau."


"Iya, ma. Nanti aku coba ajak Bara buat main ke sini, ya. Tapi ini mama tidak sedang bercanda kan?"


"Mama serius, sayang."


Geya bersorak seraya memeluk mamanya. Ia senang jika mamanya tidak melarang ia untuk dekat dengan Bara.


Adnan menoleh ke arah Ethan. Sepertinya Ethan merasa tidak nyaman mendengar obrolan mereka. Sebab sedari tadi pria itu diam dan menunduk. Ia jadi merasa tidak enak dengan Ethan, bagaimanapun sebelumnya Ethan sudah bersedia menikah dengan Geya, putrinya.


Usai makan malam itu selesai, Adnan mengajak Ethan ke balkon lantai atas. Keduanya berdiri di dekat pagar pembatas seraya memandang langit malam yang membentang hitam pekat.


"Iya, paman. Aku akan cari tahu siapa pria itu sebenarnya. Karena memang, saat dia sedang bersama Geya, aku lihat dia sepertinya baik. Tapi begitu dia sudah sendiri dan pergi dari kafe itu, sebelumnya dia sempat terima telepon dan pergi ke sebuah hotel."


Adnan mengerutkan keningnya. "Bara ke hotel? Untuk apa?"


Ethan menggeleng. "Aku juga tidak tahu, paman. Aku mempunyai feeling yang buruk tapi ini mungkin hanya perasaan aku saja. Aku tidak sempat mengikuti dia sampai dalam karena Geya telepon aku karena mobilnya mogok."

__ADS_1


Adnan terdengar menghela napas panjang. Ia menepuk bahu Ethan dan menatap kedua mata Ethan cukup serius.


"Paman masih berharap kau yang menjaga Geya. Paman maupun bibi akan merasa aman jika Geya bersamamu. Tapi, paman minta maaf, paman juga tidak bisa paksa Geya untuk menuruti keinginan paman ini."


"Iya, paman. Aku juga tidak mau jika paman sampai paksa Geya."


"Syukurlah jika kau bisa mengerti. Tapi paman sangat berharap kau cari tahu siapa Bara sebenarnya, sebelum Geya memiliki perasaan yang terlalu jauh untuk dia."


"Iya, paman. Aku akan cari tahu siapa pria itu sebenarnya."


"Bagus. Terima kasih, ya. Kau memang selalu bisa paman andalkan."


"Sama-sama, paman."


"Ah ya, besok meeting jam berapa?" Adnan mengalihkan topik pembicaraan.


"Jam sembilan lagi, paman."


"Ajak Michi juga, ya. Dia yang akan menemanimu besok meeting dengan klien."

__ADS_1


"Iya, paman." jawab Ethan patuh.


_Bersambung_


__ADS_2