MENIKAHI SAUDARA ANGKAT

MENIKAHI SAUDARA ANGKAT
Sakit Yang Terbalaskan


__ADS_3

Entah kenapa Ethan terus kepikiran kemana perginya Bara. Ia yakin sekali, jika pria itu bukan pergi atas permintaan om nya.


Di atas tempat tidur, pria itu tampak sedang berpikir keras. Waktu sudah hampir jam dia akan tetapi ia belum bisa tidur juga.


Tiba-tiba saja ia teringat akan hotel Primdone yang sempat di datangi oleh pria itu beberapa waktu lalu. Ethan bangun dari tempat tidurnya.


"Apa sebenarnya dia pergi kesana, ya?"


Lantaran tidak mau di hantui oleh rasa penasaran, Ethan memutuskan untuk pergi ke hotel tersebut. Barangkali Bara memang pergi ke hotel tersebut untuk bertemu dengan seseorang.


Ethan menyambar jaket miliknya yang ia sampirkan sebelumnya di atas sandaran sofa kamar tersebut. Memakainya sembari keluar kamar.


Ia berjalan beberapa langkah dan berhenti tepat di depan pintu kamar Geya usai mendengar sesuatu dari dalam kamar. Ethan selangkah lebih maju dan sedikit menempelkan daun telinganya di pintu kamar tersebut.


"Oh my god, Bara. Kenapa jadi berubah tidak aktif, sih? Kenapa panggilan video call nya tiba-tiba di matikan. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu?"


Ethan mendengar apa yang Geya ucapkan dengan jelas. Ia kemudian menjauh dari sana. Rupanya memang ada sesuatu pada Bara. Ia harus segera pergi ke hotel tersebut. Berharap menemukan pria itu di sana.


Ethan menuruni anak tangga dengan langkah tergesa. Keluar dari rumah dan berjalan menuju mobilnya. Ethan meminta security yang bertugas bagian malam untuk menbukakan pintu gerbang, mobil pun keluar dari pelataran rumah.


Ethan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kebetulan jalanan cukup lenggang sehingga ia mudah sampai di tempat yang ia tuju.


Ia berjalan masuk ke hotel tersebut dan menghampiri meja resepsionis. Ia menanyakan apa ada seseorang bernama Bara yang check in di hotel tersebut. Namun, resepsionis itu mengatakan tidak ada. Kemudian ia berpura-pura ingin menemui keluarganya di sana. Dengan berbagai cara, akhirnya Ethan di perbolehkan untuk mencari kamar saudaranya tersebut.

__ADS_1


Hotel tersebut memiliki tinggi sebanyak lima lantai. Dan ia tidak tahu apakah Bara ada di salah satu kamar hotel tersebut. Ia berjalanim enyusuri setiap kamar di setiap lantai. Keadaan cukup hening dan sepi mengingat waktu sudah larut malam.


Ia tiba di di lantai tiga, berjalan menyusuri lorong setiap kamar. Berharap ada seseorang yang belum tidur. Namun ia tidak menemukan satupun orang di sana. Ia berniat untuk kembali dan memeriksa lantai ke empat. Begitu membalikan badan, ia melihat sosok wanita yang baru saja keluar kamar. Wanita itu berjarak kurang lebih lima meter dari tempat berdirinya. Dan begitu wanita itu menoleh, kedua mata Ethan membulat sempurna.


"Clarin," ucapnya membuat wanita dengan pakaian dan rambut yang tampak sedikit berantakan menoleh.


"Ethan? Kau di sini juga?" tanya wanita itu.


Clarin berjalan menghampirinya. Wanita itu melemparkan senyum penuh godaan.


"Kau booking seseorang juga di sini?" bisik wanita itu.


"Jaga bicaramu! Aku tidak sepertimu!"


"Bukan urusanmu!"


Ethan hendak melipir dari sana, namun langkahnya terhenti usai Clarin mengatakan sesuatu.


"Apa kau di minta Geya untuk mencari kekasihnya?"


Ethan membalikan badan dan meminta penjelasan apa maksud dari pertanyaan Clarin.


"Ternyata kau belum berubah, ya. Masih saja jadi babu pribadinya Geya."

__ADS_1


"Tolong katakan padaku apa maksud perkataanmu tadi?!"


Clarin meraih pergelangan tangan Ethan.


"Kemarilah, ikut denganku!"


Clarin membawa Ethan ke dalam kamar yang ia booking.


"Dia bersamaku," ucap Clarin seraya menunjuk pria yang tengah tertidur pulas dengan dada tellanjjang.


Iris mata Ethan melebar dia kali lipat, pria yang saat ini ia cari kini ada di depan matanya.


"Kau pasti di minta Geya untuk mencarinya bukan? Dia ada di sini, bersenang-senang denganku."


Pengakuan Clarin membuat Ethan seketika naik darah. Ternyata dugaannya benar, jika Bara bukan pria baik-baik. Dan Geya harus tahu hal ini.


"Sekarang kau beri tahu anak manja itu jika kekasihnya sedang bersenang-senang dengan putri pelayannya. Aku ingin melihat dia menangis di pojokan seperti halnya aku dulu menangis saat dia tidak mau meminjami ku mainan kesayangannya. Dan sekarang, pria kesayangannya lah yang aku jadikan mainan."


Kedua tangan Ethan mengepal, ingin rasanya ia mendaratkan tangan itu di pipi Clarin. Hanya saja ia masih bisa mengendalikan diri dari emosi. Ia memutuskan untuk pergi dari sana. Sekarang tugasnya sudah selesai untuk menyelidiki siapa Bara sebenarnya.


Clarin tersenyum menyeringai, ia sangat berterima kasih sekali pada pekerjaannya saat ini. Lantaran ia mampu dengan tidak sengaja membayar rasa sakit hati di masa kecilnya terhadap Geya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2