
Setelah bi Yayan pelayan rumah tersebut pergi, tidak berapa lama Geya kembali bersama dua orang yang ia kira itu adalah orang tuanya. Bara bangkit berdiri begitu tuan rumah datang.
"Oh jadi ini yang namanya Bara," ujar mama Elin.
Bara mengangguk dan segera menyalami kedua orang tua Geya. Geya sendiri senang sekali melihatnya.
"Bara, ini mama dan papaku," kata Geya memperkenalkan mereka.
"Iya, aku Bara paman, bibi," sahut Bara.
"Iya, iya. Silahkan duduk!"
Adnan mempersilahkan Bara untuk duduk kembali. Mama Elin duduk di sofa panjang bersama Geya sementara Adnan duduk di sofa single yang satunya lagi, yang saling berhadapan dengan Bara.
"Jadi pertama kali bertemu dengan putri saya dimana?" tanya papa Adnan memulai pembicaraan.
Bara melirik ke arah Geya sekilas. Wanita itu mengangguk memberi kode untuk Bara agar memberi jawaban jujur saja.
"Mm .. Di club, paman," jawab Bara sedikit grogi.
"Owh .. Suka main ke club? Sering?" tanya papa Adnan lagi membuat Geya merasa tidak nyaman dengan pertanyaan sang papa.
__ADS_1
"Tidak begitu suka dan tidak sering juga, paman. Hanya sesekali."
"Untuk menghilangkan masalah?"
Bara kembali menoleh ke arah Geya, wanita itu tidak tahu harus berbuat apa. Sepertinya Bara benar-benar tidak nyaman di tanya-tanya seperti itu oleh papa nya.
Bara menganggukan kepalanya sekali.
"Masalah itu bukan di hilangkan. Melainkan di selesaikan. Dan memangnya tidak ada cara lain selain pergi ke club?"
Geya merasa papanya sudah merusak suasana dengan membuat Bara menjadi tegang berada di sana.
"Iya, aku tahu paman. Tapi terkadang setiap permasalahan seseorang itu juga berbeda-beda, dan setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengatasi masalahnya itu. Seperti halnya Geya, dia juga berpikir dengan pergi ke tempat itu, dia akan merasa lebih tenang." jawab Bara sedikit tegas.
"Memangnya sekarang kau kerja apa? Orang tuamu kerja apa?" tanya papa Adnan lagi.
Bara hendak memberi jawaban, namun terpotong oleh kalimat mama Elin.
"Ah ya, Bara kau sudah makan malam?"
Mama Elin berusaha mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang. Lagipula ini adalah pertama kalinya Bara datang ke rumah, jangan sampai Geya marah-marah nanti hanya karena Bara tidak mau lagi datang ke rumah tersebut.
__ADS_1
Bara menggeleng. "Belum."
"Kalau begitu bagaimana kalau kita makam malam bersama?"
Lagi-lagi Bara menoleh ke arah Geya, pria itu menganggukan kepalanya.
Bara pun mengangguk menerima tawaran mama Elin.
"Ya sudah, ayo!"
Belum sempat menanyakan hal yang lain, tapi istrinya dengan sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Papa Adnan akan melanjutkan interogasi pada Bara nanti setelah makan malam selesai.
Mama Elin, papa Adnan, Geya dan juga Bara bangkit berdiri hendak menuju ruang makan. Akan tetapi langkah mereka terhenti ketika seseorang datang.
"Assalamu'alaikum .. "
Mereka berempat menoleh melihat siapa yang datang.
"Ethan .. Kebetulan datang ke sini, kita makan malam bersama ya!" ajak papa Adnan.
"Iya, paman." sahut Ethan.
__ADS_1
Kini pandangan pria itu beralih pada pria yang berdiri di samping Geya. Ternyata benar dugaannya, postingan Geya tadi memang di tujukan untuk Bara.
_Bersambung_