MENIKAHI SAUDARA ANGKAT

MENIKAHI SAUDARA ANGKAT
Mengikhlaskan


__ADS_3

Mama Elin dan papa Adnan memberi kesempatan pada Bara untuk menjelaskan yang sebenarnya pada putri mereka. Hanya saja dengan satu syarat, tidak boleh memaksa Geya jika Geya tidak mau bertemu.


"Geya, aku tahu kau marah dan kecewa padaku, tapi kau harus dengarkan penjelasanku dulu, Geya .. "


Tok tok tok ..


Bara berusaha untuk menjelaskan ini semua pada Geya. Terserah Geya mau percaya atau tidak nantinya, dan kecewa pasti ada. Yang terpenting ia sudah menjelaskan yang sebenarnya terjadi pada wanita itu agar tidak ada kesalah pahaman kedepannya.


Tangis Geya kian menderas, hanya saja kini tidak bersuara. Ia berusaha untuk menahan suaranya meski dadanya terasa sesak dengan cara membungkam mulutnya sendiri.


Di luar, Bara tidak juga menyerah. Ia harus menjelaskan semua ini dengan segera.


"Geya, kau pernah bertanya kenapa aku sering datang ke club dan aku tidak mau menceritakan masalahnya padamu, bukan?"

__ADS_1


Geya memandang ke arah pintu, suasana kini tampak hening dan hanya suara Bara yang terdengar dari luar.


"Semalam om ku meminta aku untuk segera pulang lantaran terjadi sebuah pertengkaran antara kedua orang tuanya untuk yang kesekian kali. Itulah alasan kenapa aku sering datang ke club dan aku tidak pernah menceritakan hal ini sebelumnya pada siapapun. Masalah dalam keluarga yang memaksa aku untuk sering datang ke tempat itu agar bisa melupakan masalah itu sejenak. Dan semalam, saat mereka bertengkar kembali, aku pergi ke club. Malangnya aku bertemu dengan wanita itu."


"Semalam aku minum terlalu banyak, hingga aku tidak sadar. Aku benar-benar tidak tahu apa saja yang terjadi semalam. Bahkan aku tidak tahu jika melakukan panggilan video call padaku. Aku benar-benar tidak tahu, Geya. Aku tidak tahu kenapa aku bisa berada di kamar hotel itu bersama wanita itu, aku tidak ingat apapun."


Bara berusaha menjelaskan sedetail mungkin. Air mata Geya kembali terjatuh, ia tidak sanggup membayangkan apa yang ada di dalam video yang di kirim oleh Clarin.


"Aku minta kau pergi dari sini, apapun yang katakan tidak akan merubah apapun. Aku terlanjur kecewa denganmu, Bara. Pergilah!" ucap Geya dengan bibir gemetar.


"Apapun itu, aku tidak ingin mendnegarnya lagi. Sudah cukup, Bara. Pergilah, aku mohon pergi."


"Geya-"

__ADS_1


"PERGIII ..!!"


Geya melempar sesuatu pada pintu hingga membuat Bara mundur selangkah karena kaget. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan, tapi yang terpenting ia sudah berusaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Mama Elin mengusap punggung Bara. Ia tidak tega juga melihat Bara seperti itu. Sepertinya Bara memang anak yang baik, hanya saja dia terlahir di keluarga yang membuat ia jadi seperti ini.


"Sudah, ya. Jangan di paksa. Mungkin Geya masih butuh waktu, dia butuh ruang untuk untuk sendiri. Geya pasti sangat terluka begitu tahu pria yang membuat ia menaruh harapan besar melakukan hal di luar dugaannya. Meski kau sendiri pun tidak tahu dan tidak sadar telah melakukan hal itu."


"Iya, tapi-"


"Biarkan Geya pulih dan merasa lebih baik dulu. Saat ini dia sedang kecewa padamu, tapi kita tidak tahu kedepannya seperti apa."


Dengan berat hati Bara mengangguk. Mungkin yang di katakan oleh mamanya Geya ada benarnya juga. Jika ia harus memberi waktu pada Geya untuk masalah ini. Tidak apa, ia akan menunggu sampai Geya pulih dan membaik dan siap untuk bertemu dengan dirinya lagi. Ia ikhlas jika sampai suatu hari Geya tetap membencinya.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2