MENIKAHI SAUDARA ANGKAT

MENIKAHI SAUDARA ANGKAT
Akhir Yang Indah


__ADS_3

Akhir bulan telah tiba. Sekaligus hari yang di tunggu-tunggu telah tiba. Hari ini hari dimana pernikahan Geya dan Ethan berlangsung. Geya terlihat sangat cantik sekali dengan gaun putih khas pengantin yang melekat di tubuhnya. Serta mahkota yang tertanam di kepala. Polesan make yang tidak terlalu tebal membuat Geya terlihat cantik natural. Ethan sampai tidak mengedipkan mata begitu melihat pesona kecantikan calon istrinya saking terkesima.


Janji suci pun di kumandangkan dengan lantang oleh Ethan sehingga kini mereka sudah dah menjadi pasangan suami istri. Para tamu undangan yang hadir turut berbahagia. Tidak hanya itu, Ethan juga meminta beberapa pihak dari panti asuhan tempatnya dulu untuk turut hadir dan ikut serta dalam acara pernikahannya.


Kini mereka berdua berdiri di depan kursi pelaminan, menyambut siapa saja yang mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.


Mama Elin memeluk tubuh putrinya erat, tangis haru, tangis bahagia kini mengiringi pelukan tersebut.


Mama Elin melepaskan pelukannya, menangkup kedua pipi Geya lalu mengecup kening putrinya cukup lama dan dalam.


"Selamat ya putri mama, sekarang kau sudah menjadi seorang istri. Mama harap kau bisa lebih dewasa lagi dalam menyikapi berbagai hal. Sebab pernikahan bukanlah akhir dari kehidupan, tapi awal kehidupan baru yang penuh lika-liku. Mama berharap pernikahan kalian sampai til jannah."


Geya menitikan air mata haru mendengar ucapan selamat serta pesan-pesannya.


"Iya, ma. Terima kasih, ma."


Mama Elin kembali memeluk putrinya. Sementara papa Adnan memeluk Ethan. Anak yang iq adopsi itu kini resmi menjadi menantunya. Anak yang ia besarkan tanpa membeda-bedakan kasih sayangnya dengan putri kandungnya kini telah menjadi suami dari putrinya.


Papa Adnan menepuk pundak Ethan pelan dengan senyuman bangga, senyum bahagia.


"Selamat, ya. Papa tidak berpesan banyak, pesan papa masih tetap sama. Jaga Geya, lindungi Geya, dan bahagiakan Geya."


Ethan mengangguk tapi ia merasa ada yang aneh dari kalimat pria yang kini menjadi sosok mertuanya.


"Papa?" tanya Ethan di sambut senyuman oleh papa Adnan.


"Iya. Karena dari dulu kau tidak mau manggil dengan sebutan papa, sekarang kau harus menyebut panggilan papa. Sekarang kau sudah menjadi menantu papa, anak papa. Dan papa bukan hanya mertuamu, papa ini juga papamu."

__ADS_1


Sudut bibir Ethan terangkat membentuk sebuah senyum. "Iya, pa."


Papa Adnan kembali memeluk tubuh Ethan. Semburat kebahagiaan tergambar jelas di wajah mereka.


Bi Yayan pun turut mengucapkan selamat kepada mereka. Ikut bahagia menyaksikan putri majikannya menikau, lantaran ia sendiri tidak bisa menyaksikan Clarin menikah. Clarin memutuskan untuk pergi ke luar negeri karena malu, dia hamil namun tidak tahu harus meminta pertanggung jawaban pada siapa.


Seorang pria berdiri di tengah-tengah riuhnya acara pesta tersebut. Kedua matanya memandang ke arah sepasang pengantin yang tampak berbahagia. Ia merasa penantiannya selama ini terbuang sia-sia.


Tidak ingin menghancurkan pesat, ia memutuskan untuk membalikan badan berniat untuk pergi. Tapi panggilan seseorang menahan langkahnya.


"Bara!" teriak seorang wanita.


Suasana seketika berubah hening. Wanita yang tak lain adalah Geya kini turun dari pelaminan dan berjalan membelah para tamu undangan.


"Bara," panggil Geya lagi dan pria itupun membalikan badan, mereka berdiri saling berhadapan.


Geya melihat setitik air mata tertahan di pelupuk mata Bara. Ia tatap kedua mata yang berusaha menghindar dari tatapannya.


Bara berusaha menguatkan diri agar tidak terlihat rapuh di hadapan Geya. Pria itu memberanikan diri untuk mengulurkan tangan.


Geya menatap tangan Bara, kemudian beralih menatap wajah pria itu lagi.


"Selamat, ya." ucap Bara kemudian.


Geya diam untuk beberapa saat. Sebelum kemudian ia jabat uluran tangan Bara dan berlangsung lumayan lama.


Bara melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Aku harus pergi. Aku tidak pantas berada di acara kebahagiaan kalian."


"Tunggu, Bara!" cegah Geya sembari menarik pergelangan tangan pria itu. "Bara aku tahu kau pasti kecewa denganku. Tapi aku merasa jika ini adalah keputusan terbaikku. Aku justru sangat berterima kasih padamu, kau hadir untuk mempersatukan aku dengan Ethan meski dengan cara yang aku sendiri sulit untuk melewatinya."


Bara tersenyum getir. "Seharusnya saat itu kau langsung terima saja keputusan orang tuamu. Mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Kau dan aku tidak akan pernah bertemu di tempat itu, mungkin aku juga tidak akan mengalami kejadian di malam itu bersama wanita yang membalaskan dendamnya melalui aku."


Kalimat Bara sungguh membuat Geya merasa sangat bersalah. Tapi ia tidak menyesali hal itu. Mungkin memang dengan cara itu Tuhan mempersatukan dirinya dengan Ethan. Meskipun harus ada pihak lain yang tersakiti di sini.


"Bara, aku minta maaf-"


"Tidak ada yang perlu di maafkan. Kau sama sekali tidak membuat kesalahan. Keputusanmu sudah tepat, hanya saja aku yang terlalu berharap di sini. Sekali lagi, selamat ya. Semoga berbahagia."


Bara beralih menatap Ethan.


"Hanya kau yang bisa menjaga Geya. Jadi sudah sepantasnya kau yang menjaganya."


Bara kemudian pergi dari sana tanpa Geya tahan lagi. Setelah Bara pergi, Geya beralih menatap wajah Ethan, mama, dan papanya secara bergantian.


"Kalian tenang saja, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya. Seutuhnya, perasaan aku milik Ethan. Suamiku," ucap Geya menciptakan hembusan napas lega.


"Aku mencintaimu, Geya," ungkap Ethan.


"Aku juga. Mencintaimu, suamiku."


Ethan membawa Geya ke dalam pelukan. Tiba-tiba saja musik romance mengiringi kebahagiaan mereka. Para tamu undangan pun kini berdansa menikmati alunan musik.


Mama Elin dan papa Adnan saling memandang, wajah mereka di hiasi kebahagiaan. Semua berjalan dengan apa yang mereka inginkan.

__ADS_1


TAMAT ..


Jangan lupa ikuti akun author untuk mendapatkan notifikasi cerita novel baru selanjutnya❣️


__ADS_2