MENIKAHI SAUDARA ANGKAT

MENIKAHI SAUDARA ANGKAT
Kebenaran


__ADS_3

Geya menuruni anak tangga dengan pandangan fokus pada layar ponsel di genggaman tangannya. Semenjak video call nya di matikan secara tiba-tiba semalam, Bara tidak lagi memberinya kabar.


Langkahnya kini terhenti saat ia mendengar ketiga orang yang sudah lebih dulu ada di ruang makan tengah bicara serius. Wajah mereka juga terlihat sangat serius sekali. Ia memutuskan untuk mendengarkan apa yang sebenarnya mereka bicarakan tanpa menghampiri.


"Kau yakin pria itu Bara?" tanya mama Elin dan di angguki oleh Ethan.


Mendengar nama Bara di sebut-sebut, Geya semakin penasaran sebenarnya apa yang tengah mereka bahas.


"Iya, bibi. Begitu aku tahu jika Bara pergi terburu-buru usai dari sini, aku merasa sedikit curiga padanya. Dia bilang pada Geya akan pulang usai di telepon oleh om nya. Tapi aku jadi teringat beberapa hari lalu dia sempat pergi ke hotel tapi aku tidak tahu apa yang dia lakukan di sana karena Geya keburu telepon meminta bantuan mobilnya mogok. Oleh karena itu aku memutuskan untuk pergi ke hotel tersebut untuk memastikan apa Bara benar-benar pulang atau justru datang kembali ke hotel itu. Beruntung nya aku di perbolehkan masuk dengan berbagai alasan. Awalnya aku terkejut begitu bertemu dengan Clarin, putri bi Yayan. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Clarin di sana bersama Bara. Pria itu tengah tertidur dengan keadaan tellanjang dada. Aku tidak tahu apa yang telah mereka lakukan di sana. Yang pasti, aku merasa jika Bara bukan pria yang baik," jelas Ethan panjang lebar.


Adnan percaya penuh dengan apa yang Ethan ceritakan barusan. Tapi tidak mama Elin, ia masuk merasa ragu. Apalagi Bara bisa bersama dengan Clarin, putri dari pelayan di rumah ini.


Sementara Geya tentu saja sangat marah begitu Ethan menjelekkan Bara di hadapan kedua orang tuanya. Sedikitpun ia tidak percaya dengan cerita Ethan. Ia merasa jika pria itu sedang memanipulasi agar dia bisa menikah dengannya dan menghancurkan kedekatannya dengan Bara.


"STOP MENJELEKKAN BARA!!"


Seruan Geya membuat ketiga orang yang duduk di kursi makan menoleh. Mereka juga kaget lantaran Geya ada di sana.


Papa Adnan dan mama Elin bangkit berdiri, sementara Ethan masih tetap duduk. Ia sama sekali tidak takut dengan kemarahan Geya, lantaran ia bicara apa adanya.


Papa Adnan dan mama Elin bergegas menghampiri putrinya untuk memberi penjelasan jika mereka tidak sedang menjelekkan Bara.

__ADS_1


"Geya, sejak kapan kau berdiri di sini, nak?" tanya mama Elin seraya mengusap lengan atas putrinya, namun di tepis kasar.


"Jangan berpura-pura baik, ma, pa. Aku tahu kalian pasti sekarang sudah terpengaruh oleh perkataan anak pungut kalian itu kan?"


"Geya, cukup!" sergah papa Adnan membuat Geya sendiri terlonjak kaget mendapati papanya baru kali ini bicara dengan nada yang tinggi.


"Kenapa, pa? Memang benar kan sekarang papa lebih percaya dengan anak pungut papa daripada anak kandung papa sendiri. Iya kan, pa?" balas Geya dengan air mata tertahan.


"Apa yang membuat papa mempercayai perkataan dia?" Geya menunjuk ke arah Ethan. "Apa dia memberikan bukti? Tidak, bukan?"


"Tapi Ethan tidak akan pernah berbohong, Geya. Papa bisa pastikan apa yang di katakan oleh Ethan itu benar."


"Sebegitu percayanya papa sama dia sampai-sampai papa tidak mempercayai putrinya sendiri jika Bara itu pria yang baik."


"Dia melakukan semua ini agar aku menjauh dari Bara agar papa sama mama paksa aku buat menikah dengannya lagi. Dia itu licik, pa. Please, buka mata dan hati kalian. Dia tidak hanya merampas sebagian kasih sayang dan perhatian kalian dariku, dia juga ingin merampas kebahagiaanku yang tersisa."


Mama Elin berusaha untuk menenangkan putri dan suaminya. Meminta keduanya untuk menghentikan perdebatan ini.


"Sudah, ya, sudah. Cukup, lebih baik kita sskarang sarapan bersama, ya."


Mama Elin mengusapi lengan putri dan juga suaminya. Ia berusaha menjadi penengah di antara keduanya. Hanya karena masalah ini, ia tidak ingin keluarga kecilnya ini terpecah belah.

__ADS_1


Ethan bangkit berdiri dan berjalan beberapa langkah lalu berhenti tepat di hadapan Geya.


Geya menatapnya dengan melayangkan tatapan penuh kebencian.


"Aku tahu aku tidak bisa memberikan bukti apapun. Tapi aku bisa pastikan apa yang aku katakan ini benar adanya. Aku yakin, kau juga pasti akan mengetahui kebenarannya. Entah itu melalui Bara sendiri yang berani mengakui perbuatannya, atau justru dari Clarin yang dengan sengaja memberi tahumu."


Ethan melipir pergi sana bahkan sebelum sarapannya di mulai. Ia tidak ingin Geya terus menerus menuduh dirinya telah memanipulasi semua ini.


Tidak berapa lama setelah Ethan undur diri, ponsel Geya mendapati notifikasi pesan masuk. Wanita itu segera mengecek ponselnya berharap Bara yang menghubunginya. Akan tetapi harapannya pupus begitu nomer yang tidak ia kenal mengirimkan sebuah foto dan juga video singkat dengan chat singkat.


Betapa terkejutnya Geya saat melihat foto dan isi video yang memperlihatkan Bara tengah asik bercumbu dengan wanita yang tentu saja sangat familiar baginya. Telapak tangannya reflek menutup mulutnya yang menganga dengan iris mata yang seketika melebar dua kali lipat.


"Tidak, ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin! Ini tidak mungkin!"


Geya membanting hp nya ke lantai hingga benda pipih tersebut kini pecah belah berserakan di lantai. Melihat rekasi putrinya usai menerima pesan tersebut membuat mama Elin dan papa Adnan kini panik dan juga khawatir.


"Geya, ada apa, sayang? Siapa yang mengirim pesan dan apa isi pesan itu?" tanya mama Elin dengan baik-baik.


"Tidak, ma. Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin. INI TIDAK MUNGKIIIINNN ...!!!"


Geya berteriak sekencang-kencangnya, membuat mama Elin dan juga papa Adnan kini di buat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2