
Clarin mendongakan kepala dan menatap wajah sang ibu dengan sangat lekat. Ia genggam kedua tangan ibu dengan tangannya yang gemetar.
"Ibu, aku minta maaf, bu. Sungguh, selama ini aku menjadi anak durhaka pada ibu. Aku minta maaf, bu. Aku anak yang tidak tahu diri, aku anak yang sangat durhaka karena tidak mau mengakui ibu sebagai ibuku. Ibu, aku minta maaf. Aku minta maaf, buuu .. "
Tangis Clarin semakin menjadi, begitupula dengan bi Yayan yang sudah tidak kuasa menahan tangisnya.
"Ibu .. Luka yang aku goreskan cukup mendalam di hati ibu kini menjadi boomerang hebat bagi aku, bu. Kini semesta telah mengutuk aku, buuu .. Aku di pecat dari pekerjaan, aku tidak bisa menjadi model lagi karena sekarang aku mengandung anak dari seseorang yang akupun tidak tahu ini anak siapa, buuu .. "
"Astaghfirullahalazim .... "
Setelah cukup lama diam kini bi Yayan bersuara mengucapkan istighfar saking syok nya. Wanita paruh baya itu sampai memukuli dirinya sendiri karena merasa gagal menjadi seorang ibu.
Ethan dan mama Elin berusaha menenangkan bi Yayan agar beliau tidak menyalahkan diri sendiri. Ethan menarik tangan Clarin agar sedikit menjauh dari bi Yayan.
"Bi, bibi tenang, ya. Jangan seperti ini, ini bukan salah bibi. Tapi ini salah dia sendiri yang tidak bisa menjaga dirinya," ucap Ethan berusaha menenangkan.
__ADS_1
"Ibu gagal mendidikmu, nak. Ibu gagal .. Ibu gagal mendidikmu, Clarin .. "
Bi Yayan terus memukuli dirinya dan berusaha di halangi oleh mama Elin. Geya tidak tega melihat bi Yayan seperti ini, apalagi ini semua ulah wanita yang tidak memiliki hati nurani seperti Clarin.
Menjadi seorang asisten rumah tangga bukanlah keinginan semua orang termasuk bi Yayan. Tapi hanya dengan cara itu ia menggantungkan diri agar bisa bertahan hidup, menghidupi dirinya dan juga sang anak. Namun sayangnya Clarin tidak bisa menerima sesuatu yang sudah di takdirkan untuknya.
Clarin hendak mendekat ke arah ibunya, akan tetapi segera di cegah oleh Ethan. Ia tidak mau bi Yayan sampai menyakiti dirinya sendiri dan juga terus menerus menyalahkan diri atas kesalahan yang di buat akan ulah putrinya.
"Lepaskan!" Clarin menepis tangan.
"Iya aku tahu aku salah. Aku hanya ingin meminta maaf saja padanya. Semua orang berhak mendapat maaf atas kesalahannya."
"Bahkan bi Yayan sendiri tidak tahu apa kesalahan yang sudah kau lakukan itu masih pantas di maafkan atau tidak!"
Clarin terdiam mendengar kalimat Ethan. Tapi hal itu tidak membuatnya menyerah untuk mendapat maaf dari sang ibu.
__ADS_1
Jika sudah seperti ini, lantas harus bagaimana? Nasi sudah berubah menjadi bubur, jadi tinggal di makan saja buburnya. Tapi ini bukan tentang bubur, melainkan hidup Clarin.
Kini semua orang di buat panik, lantaran bi Yayan sampai pingsan dan tidak sadarkan diri. Dengan cekatan Ethan bergegas mengangkat tubuh bi Yayan dan membawanya ke kamar. Ia juga meminta agar Clarin tidak ikut menyusul, mengingat bi Yayan yang masih syok.
Kini hanya ada Clarin dan papa Adnan di sana. Clarin masih menangis, meratapi penyesalan yang terjadi pada dirinya.
"Kau bukan hanya menghancurkan ibumu, tapi juga hidup putriku. Tapi saya sangat berterima kasih, berkat dirimu sekarang kehidupan putriku berjalan dengan semestinya," ucap papa Adnan kemudian melipir pergi dari sana, meninggalkan Clarin sendirian di ruang tamu.
"Arrrggghhh ..." Clarin mengacak rambutnya.
Ia merasa sangat frustasi. Jujur, ia merasa hancur sehancur-hancurnya sekarang. Ia tidak sanggup jika harus melewati hal ini sendiri. Terlebih posisinya sedang hamil, dan ia tidak tahu siapa ayah dari anak yang saat ini ia kandung.
"Arrrggghhh ...."
_Bersambung_
__ADS_1