MENIKAHI SAUDARA ANGKAT

MENIKAHI SAUDARA ANGKAT
Wanita Sialan


__ADS_3

Cahaya mentari menyelinap masuk ke celah jendela kamar hotel. Kelopak mata pria yang terbaring di atas tempat tidur itu kini mulai bergerak-gerak. Kedua matanya memicing saat cahaya tersebut terasa menusuk ke bagian kornea mata. Tangannya kini memijat pangkal alis lantaran kepalanya terasa sangat pusing.


Setelah memastikan dirinya baik-baik saja, ia bangun. Ia terkejut saat ia tidak tahu sedang berada dimana sekarang. Kedua matanya menyapu sekeliling ruangan.


"Aku dimana?" tanyanya pada diri sendiri.


Pandangannya jatuh pada beberapa kain di lantai yang merupakan pakaian dan celananya. Sontak ia menyibakan selimut yang saat ini masih membalut tubuhnya.


Betapa terkejutnya ia saat mendapati tubuhnya dalam keadaan tanpa sehelai benang.


"Astaga! Apa yang terjadi padaku?"


Ia menoleh ke bagian sisi kosong di sebelahnya. Ia menemukan secarik kertas di sana. Ia ambil kertas tersebut dan membacanya.


"Terima kasih atas permainannya. Aku senang dengan apa yang kau lakukan padaku semalam. Jika kau ingin tahu siapa aku, kau bisa hubungi nomer ini."


0822xxxxx


Pria itu merremmas secarik kertas tersebut dalam genggamannya. Kemudian melemparnya ke sembarang arah. Usai membaca tulisan di secarik kertas tersebut ia merasa sangat marah.


Tiba-tiba kepalanya kembali pusing. Ia memegang kedua sisi kepalanya dengan kedua mata terpejam. Seketika ia ingat jika semalam ia mabuk parah.

__ADS_1


Kedua matanya terbuka dan kepalanya kini mendongak.


"Wanita itu .. "


Ia ingat sesuatu.


"Apa wanita yang membawaku ke sini dan memanfaatkan keadaanku."


Bara teringat akan wanita yang datang menghampiri saat ia sedang minum di club semalam. Saat ia masih setengah sadar.


"Iya, aku yakin pasti dia. Pasti dia yang membawaku ke sini dan memanfaatkan keadaanku. Sialan!"


Ia membuka kembali gulungan kertas yang ia remmas itu, kemudian ia mencari ponsel miliknya. Beruntung ponselnya ada dan tergeletak di atas nakas tempat tidur. Ia salin nomer tersebut dan mencoba untuk menghubungi nomernya.


Dengan tidak sabar menunggu pemilik nomer itu menjawab telepon nya. Di panggilan pertama tidak di angkat, panggilan kedua tidak di angkat juga, dan di panggilan ketiga hasilnya tetap sama.


"Arrrggghhh .. Sialaaan .. !!" Teriak pria itu seraya melemparkan ponselnya ke atas ranjang tempat tidur.


"Aku harus cari dia sampai dapat untuk memastikan apa yang telah terjadi di antara aku dengannya semalam!"


Bara mengepalkan kedua tangannya menahan amarah yang tergambar jelas di wajahnya. Ia pergi ke club dengan tujuan untuk melupakan masalah, justru ia malah mendapat masalah baru.

__ADS_1


Ia mengambil pakaiannya dan memakainya kembali. Setelah itu ia keluar dari kamar tersebut. Dan berapa terkejut nya ia ketika mendapati om nya juga keluar dari kamar yang berhadapan dengan kamar tersebut.


"Bara, kau sedang apa di sini?" tanya pria itu.


Bara melirik tulisan di dinding yang terdapat di bagian sebelah kamar om nya.


Hotel Primdone.


Ia baru saja sadar jika ia sedang berada di hotel yang sama dengan tempat dimana biasa om nya menginap.


"Ak-aku .. " Bara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari mencari jawaban.


"Jadi kau menginap di sini juga ternyata. Kenapa tidak memberi tahu om?"


"Mm .. Bagaimana kalau kita sarapan di luar, om? Ada yang ingin aku bicarakan dengan om."


"Iya, boleh. Ayo."


Bara merasa ada baiknya ia ceritakan saja masalah semalam. Siapa tahu om nya bisa bantu carikan wanita yang telah memanfaatkan keadaan mabuknya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2