MENIKAHI SAUDARA ANGKAT

MENIKAHI SAUDARA ANGKAT
Hal Yang Mengharukan


__ADS_3

Papa Adnan dan mama Elin kini ikut bahagia melihat Geya dan Ethan lebih dekat dan akur dari biasanya. Senyum Geya yang sempat hilang gara-gara masalah yang sudah berlalu tiga bulan ini kini berangsur kembali. Bahkan tak jarang Geya di buat tertawa oleh kelakuan Ethan yang berusaha menghiburnya. Sesekali Ethan juga menceritakan masa kecil mereka yang membuat Geya tidak berhenti terkekeh.


"Hahahaha ... " Geya tertawa sampai terpingkal-pingkal.


Perlahan senyum wanita itu memudar seiring Ethan terdiam menatap dirinya.


"Kenapa lihat aku sampai seperti itu?" tanya Geya sedikit gugup.


Ethan menggeleng. "Geya yang aku kenal telah kembali. Kau sudah pulih sekarang."


Geya seketika menunduk, menghindari kontak mata dengan Ethan. Entah kenapa ia kini di buat gugup oleh tatapan pria itu.


"Itu semua berkat dirimu. Terima kasih telah mengembalikan aku pada Geya yang dulu. Sekarang aku merasa lebih baik, perlahan aku sudah mulai bisa melupakan kejadian itu," ucap Geya dengan lirih namun cukup terdengar jelas oleh Ethan.


"Itu berkat dirimu juga karena sudah mengizinkan aku untuk bisa menghiburmu. Sebab sebelumnya kau tidak pernah suka aku ada di dekatmu."


Geya mendongakan wajahnya menatap wajah pria yang saat ini ada di hadapannya.


"Maaf .. " ucap Geya tiba-tiba.


"Maaf untuk apa?" tanya Ethan tidak paham.


"Ya maaf," ucap Geya lagi.


"Geya, aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu. Kau tidak membuat kesalahan lalu untuk apa kau meminta maaf?"

__ADS_1


"Aku membuat kesalahan besar padamu."


Kalimat Geya semakin membingungkan Ethan.


"Kesalahan apa? Aku tidak merasa dijahati olehmu."


"Aku jahat, Ethan. Aku sudah jahat padamu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup di posisi dirimu. Aku benar-benar minta maaf. Sejak kau di adopsi menjadi anak angkat mama papa, aku tidak juga bisa menerima dirimu. Aku yang selalu merasa jika mama dan papa lebih sayang dirimu di banding aku putri kandung mereka. Aku yang selalu merasa perhatian mama dan papa terbagi dua, aku yang selalu merasa jika kau berniat merebut posisiku sebagai anak mama dan papa, aku yang memberi sebutan tidak pantas untukmu. Kau pasti sangat terluka begitu aku memanggilmu dengan sebutan yang aku buat. Sebab bukan keinginanmu terlahir di rahim seorang ibu yang tidak berperasaan. Aku tidak tahu seberapa terlukanya kau setiap aku menyebutmu sebagai anak pungut. Kau pasti sangat terluka aku membuatmu harus menyesali hidup dengan terlahir di rahim orang tua yang tidak menginginkan dirimu."


Air mata yang sebelumnya Geya tahan agar tidak sampai terjatuh kini terjun bebas di pipinya. Membiarkan mengalir begitu saja.


Ethan menundukan kepalanya, jujur ia juga ikut sedih mendengar permintaan Geya.


"Selama ini aku menutup mata dan hatiku. Aku selalu menganggap kebaikanmu untuk mencari perhatian mama dan papa demi mendapatkan pujian semata."


"Ethan, aku benar-benar minta maaf. Aku berterima kasih padamu, sekarang aku baru sadar jika kau yang selalu ada untukku. Bahkan disaat aku membutuhkan seseorang pun kau yang selalu ada, kau selalu hadir. Terima kasih telah menjagaku dan membuat aku merasa aman saat bersamamu. Terima kasih atas semua yang kau lakukan demi menjagaku, saudara angkatku. Tapi maaf, mulai sekarang, aku bukan lagi adikmu dan kau bukanlah saudara angkatku."


"Maaf, Ethan. Aku harus memutuskan tali persaudaraan ini," imbuh Geya.


Cukup lama Ethan terdiam, kini pria itu angkat bicara.


"Apa maksudmu, Geya?" tanya Ethan dengan bibir gemetar dan jantung yang kini berpacu tidak karuan menahan takut akan kekhawatiran.


Kedua mata Geya kini tertuju pada tangan Ethan. Ia meraih buah tangan pria itu lalu menggenggamnya erat-erat. Ia beralih menatap kedua manik Ethan lagi. Tatapan mereka cukup dalam.


"Ethan, aku putuskan hubungan persaudaraan di antara kita. Karena aku mau memenuhi permintaan mama dan papa."

__ADS_1


Ethan terkesiap mendengar pernyataan Geya. Tubuhnya terpaku, mulutnya serasa di kunci. Dan telinganya seolah kehilangan pendengaran. Ia merasa apa yang di ucapkan oleh Geya barusan adalah mimpi.


"K-kau .. Kau-"


Geya mengangguk dengan ulasan senyum.


"Iya, Ethan. Aku ingin selamanya kau yang ada di sampingku. Bukan lagi sebagai saudara, bukan lagi sebagai adik dan kakak. Tapi sebagai suami dan istri yang terikat dalam sebuah pernikahan."


Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Ethan. Air mata haru, air mata bahagia karena pada akhirnya Geya mampu menerima dirinya, bukan lagi sebagai saudara angkatnya, melainkan sebagai seseorang yang akan menemani dia hingga tua nanti.


"Really?" tanya Ethan memastikan.


Geya mengangguk membenarkan.


"Iya, aku bersungguh-sungguh dengan apa yang aku katakan barusan."


Seketika Ethan membawa tubuh Geya ke dalam pelukannya. Mendekap wanita itu erat-erat dalam pelukan. Menumpahkan tangis di bahu, tangis bahagia, tangis yang membuat suasana kini berubah mengharu biru.


Cukup lama mereka berpelukan, hingga kini Ethan pelukannya secara perlahan. Ia genggam kedua tangan Geya, ia tatap kedua bola mata wanita itu.


"Aku janji, aku akan menjadi seseorang yang bukan hanya melindungimu, tapi juga seseorang yang akan membahagiakanmu, menuntunmu menuju Surga-Nya. Aku akan pastikan jika kau akan merasa aman, nyaman, damai, bahagia. Dan aku akan menjadi seseorang yang paling beruntung melakukan hal itu."


Geya mengangguk. "Iya, aku percaya. Aku percaya kau mampu melakukan itu."


Mereka kembali berpelukan, bukan lagi pelukan seorang kakak dan adik. Melainkan pelukan dua insan yang saling menyanyangi satu sama lain.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2