
Satu minggu berikutnya.
Papa Adnan, mama Elin, Geya, Ethan dan juga bi Yayan tengah duduk di sofa ruang tamu untuk membahas perihal rencana pernikahan. Mereka memutuskan untuk melangsungkan pernikahan akhir bulan. Sekitar dua mingguan lagi.
"Papa benar-benar tidak menyangka jika pada akhirnya kau menyetujui permintaan papa, sayang," ucap papa Adnan di akhiri dengan mengusap lembut rambut sang putri tercinta.
"Permintaan papa lah yang membuka mata hati aku jika Ethan itu berharga."
Hati Ethan bergetar mendengar kalimat Geya yang ditujukan untuk nya barusan.
"Tapi ini sungguh keinginanmu, bukan atas paksaan mama dan papa?" tanya mama Elin untuk memastikan lagi.
"Ini tidak hanya keinginan aku sendiri, ma. Ini keinginan kita bersama. Keinginan mama dan papa yang menginginkan putrinya menikah dengan seorang anak laki-laki hebat yang mama adopsi agar bisa melindungi dan menjaga putrinya dengan rasa kepercayaan penuh. Keinginan aku untuk bisa hidup bersama Ethan selamanya, dan atas kerendahan hati Ethan yang mau menjadi suamiku. Ini keinginan kita bersama," jawab Geya.
Papa Adnan dan mama Elin sangat bangga sekaligus senang dengan cara berpikir putrinya sekarang yang lebih dewasa dalam menyikapi berbagai hal.
__ADS_1
Geya melihat ke arah Ethan yang duduk di sofa single sementara dirinya duduk di sofa panjang di tengah-tengah antara mama dan papanya. Pandangan mereka bertemu.
"Terima kasih sudah mau menjadi suamiku, Ethan," ucap Geya di akhiri dengan senyum.
Ethan mengangguk. "Iya, Geya. Terima kasih juga sudah mau menjadi istriku," balas pria itu.
Bi Yayan yang ada di sana ikut bahagia menyaksikan keduanya yang berencana mau menikah. Apalagi selama ini Ethan menganggap dirinya seperti ibu kedua selain ibu angkatnya yaitu mama Elin. Ia pun menganggap Ethan sudah seperti anaknya, mengingat putrinya sendiri yang tidak mau mengakui dirinya sebagai seorang ibu.
Saat mereka tampak sibuk dengan perencanaan pernikahan, bi Yayan kembali di kejutkan oleh kehadiran seseorang yang saat ini sudah berdiri di ambang pintu.
Seorang wanita yang menggunakan gaun berwarna merah merekah namun penampilannya tampak sedikit kacau itu berdiri dengan perut yang terlihat menonjol. Dari wajahnya, dia tampak kacau sekali.
Ethan sudah waspada, ia khawatir wanita itu membuat keributan hingga menciptakan suasana buruk di sana.
"Ibu ..." ucap wanita itu lalu menghambur ke arah bi Yayan, ia berlutut dan bersimpuh di kaki bi Yayan di iringi dengan tangis yang terdengar sangat keras.
__ADS_1
Semua orang terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi di depan mata mereka. Termasuk bi Yayan sendiri yang tampak kaget dengan apa yang di lakukan oleh putrinya saat ini.
"Ibu .. hu uuu .. Ibuuuu .. " Clarin menumpahkan tangisnya di kaki sang ibu.
Wanita menangis sesenggukan penuh akan penyesalan dalam dirinya.
Bi Yayan tidak tahu harus melakukan apa, karena jujur ia sudah terlanjur kecewa dengan putrinya. Tapi tidak bisa di pungkiri, air matanya ikut jatuh mendapati putrinya seperti ini.
"Ibu .. Aku minta maaf, bu. Aku minta maaf .. Ibuuu .. Huuu uuuuu .. "
Air mata Clarin bertumpah ruah bersama dengan penyesalannya.
Clarin mendongakan kepala dan menatap wajah sang ibu dengan sangat lekat. Ia genggam kedua tangan ibu dengan tangannya yang gemetar.
_Bersambung_
__ADS_1