
Bara menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada om nya. Om nya pun ikut terkejut dengan apa yang di alami oleh keponakannya.
"Aku minta om jangan sampai cerita masalah ini sama mama maupun papa. Aku tidak mau gara-gara masalah ini mereka jadi bertengkar lagi," pinta Bara memohon.
Om nya pun mengangguk. "Iya, om tidak akan cerita untuk masalah ini pada kedua orang tuamu. Dan om akan bantu cari tahu siapa wanita itu dengan cara melacak nomer teleponnya."
"Iya, om. Terima kasih."
"Iya, kau tenang saja. Wanita itu pasti akan secepatnya om temukan."
Bara sangat percaya dengan om nya.
"Sekarang kirim saja kontak nomer telepon wanita itu, nanti om akan minta bantuan teman om untuk melacak identitas dan juga tempat tinggalnya."
"Baik, om."
Bara merogoh ponsel di saku celananya dan membuka panggilan di aplikasi whatsapp. Kedua matanya memicing melihat ada riwayat panggilan video call masuk semalam dari Geya yang berdurasi lima detik saja.
__ADS_1
"Geya video call aku semalam?"
Perasaan Bara berubah tidak enak. Pasalnya semalam ia tidak sadar dan yang mengangkat panggilan video call nya pasti wanita itu.
"Kenapa?" tanya om nya.
Bara tidak memperdulikan pertanyaan om nya, ia melakukan panggilan ulang pada Geya akan tetapi tidak mendapat jawaban. Ia melakukannya lagi, namun hasilnya tetap sama. Panggilan tersebut tidak kunjung berubah berdering, itu artinya nomer Geya sedang tidak aktif.
Dan yang ia khawatirkan, Geya melihat apa yang wanita itu lakukan dengannya dan sengaja di perlihatkan. Sekarang ia jadi berpikir apa Geya memblokir kontaknya.
Bara mencoba mengirimkan pesan singkat, begitu pesan di kirim hanya memunculkan centang satu. Perasaan nya kini semakin tidak enak.
"Selama Geya video call aku, om. Hanya berdurasi lima detik. Semalam aku kan mabuk parah dan tidak sadar, itu artinya yang jawab video call wanita itu. Aku khawatir wanita itu yang membuat Geya kini tidak mengaktifkan nomernya atau bahkan memblokir kontakku," jelas Bara.
"Itu sudah benar-benar keterlaluan. Wanita itu harus segera di temukan. Dia membawa masalah besar dan meninggalkan sial di hidupmu."
"Iya, om. Secepatnya om harus temukan wanita itu."
__ADS_1
"Itu pasti, Bara."
Kemarahan tampak jelas di wajah Bara sepertinya namanya. Sepertinya ia harus ke rumah Geya sekarang untuk menjelaskan sesuatu jika memang Geya semalam sempat melihat sesuatu tentang dirinya dengan wanita itu.
Di tempat lain, Geya berusaha untuk tidak mempercayai foto yang di kirim oleh Clarin. Ia masih yakin jika Bara tidak segila itu. Tapi sulit untuk ia menyangkal, lantaran tidak hanya foto, di sana terdapat bukti berupa video yang memperlihatkan betapa senangnya Bara ketika mencumbu Clarin.
"Kenapa kau melakukan hal itu, Bara? Kenapa harus dengan Clarin juga? Kenapa kau setega itu? Kenapa?"
Geya melempar apapun yang bisa ia jangkau dengan tangannya. Ia meluapkan kemarahannya dengan cara itu. Bahkan kini make up di atas meja rias sudah bersih, berantakan dan berserakan di lantai.
"Aku tidak menyangka kau seburuk ini, Bara. Aku tidak menyangka kau melakukan hal seperti itu. Aku pikir kau pria baik-baik. Aku pikir kau beda dengan pria yang lain."
Geya kembali melempar sebuah benda yang ia jangkau dengan tangannya.
"Kenapa aku bisa dengan cepat menaruh harapan dan menanamkan perasaan untuk pria sejahat kau, Bara. Padahal sebelumnya aku tidak segampang ini berharap pada pria apalagi nyaman dan tumbuh perasaan secepat ini."
Tangis Geya semakin deras, mengingat bagaimana manisnya perlakuan Bara meski baru beberapa kali bertemu. Dan begitu ia melihat video itu, lukanya semakin besar.
__ADS_1
"Arrrggghhh .. "
_Bersambung_