
Bara memutuskan untuk pergi lagi ke sebuah club yang sering ia datangi. Tempat dimana ia pertama kali bertemu dengan Geya. Tempat yang ia percaya bisa melupakan masalah meski sesaat.
Disana, ia meminum beberapa gelas alkohol. Ia merasa sudah lelah dengan masalah keluarga yang tak kunjung usai. Hampir setiap hari ia mendengar keributan antara kedua orang tuanya. Masalah spele, kesalahpahaman, dan juga masalah yang lainnya. Jujur, ia ingin pergi ke tempat yang jauh, dimana hanya ada ketenangan. Tapi ia sadar, jika ia tidak ada di antara mereka, maka akan terjadi hal buruk yang tidak diinginkan.
"Hai .. " sapa seorang wanita dengan pakaian sekksi membuat Bara mendongakan wajah.
Bara tidak membalas sapaan wanita tersebut. Ia kembali menenggak alkohol yang masih tersisa di gelas sampai tandas.
Merasa di cuekan, wanita itu tidak menyerah begitu saja dan duduk di sebelah Bara.
"Hei, jangan terlalu banyak minum, nanti kau bisa mabuk berat," ujarnya memperingati.
Bara menoleh wanita tersebut. "Aku tidak perduli," jawabnya ketus.
Wanita itu yakin jika seorang pria mabuk, maka sesuatu telah terjadi pada dirinya. Hanya ada dua kemungkinan, jka bukan karena percintaan, maka urusan keluarga.
"Apa kau sedang patah hati?" tanya wanita itu lagi dan Bara menggeleng.
__ADS_1
"Masalah keluarga?"
Pertanyaan nya tidak mendapat respon, sepertinya memang benar jika pria yang saat ini duduk di sebelah nya tengah mengalami masalah keluarga.
Perlahan tangan wanita itu meraih buah tangan Bara, mengusap lembut punggung tangan itu.
"Jika kau butuh teman cerita, aku siap menjadi pendengar. Bagaimana?"
Bara menatap wanita tersebut untuk beberapa detik, sebelum kemudian ia kembali tertunduk. Kepalanya kini mulai terasa pusing, mungkin efek alkohol yang kini mulai bereaksi.
"Hei, kenapa?" tanya wanita tersebut seraya merengkuh bahu Bara.
"Kau pusing?" tanya wanita itu lagi.
Bara diam, kepalanya serasa mau pecah sekarang.
"Kau sepertinya mabuk berat, bagaimana jika antar kau pulang?" tawar wanita itu.
__ADS_1
"Aku antar kau pulang, ya."
Wanita tersebut membantu Bara untuk bangkit dari duduknya, dengan susah payah membantu pria itu untuk berdiri. Ia juga mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, yang ia kira itu milik Bara. Ia tidak sengaja menekan tombol power ponsel tersebut dan membuat ponsel nya nyala. Ia melihat chat masuk di layar ponsel bernamakan Geya.
"Geya?" gumamnya.
Ia tidak memperdulikan hal itu. Ia membawa Bara keluar dari club dan membawanya masuk ke dalam mobil miliknya.
"Rumahmu dimana?" tanya wanita itu tapi tidak mendapat jawaban.
"Rupanya kau mabuk berat, sudah ku peringati sebelumnya jangan minum terlalu banyak. Tapi kau tidak mengindahkan."
Wanita itu terpaksa membawa Bara dari sana. Lantaran Bara tidak juga memberi tahu dimana alamatnya, ia bawa dia ke sebuah hotel.
Wanita tersebut mem-booking satu kamar untuk malam ini. Ia menjatuhkan Bara ke atas tempat tidur kamar hotel tersebut. Pria itu terbaring terlentang di atas kasur besar. Ia mengatur napasnya yang sedikit memburu karena beban tubuh pria itu yang cukup berat.
Ia duduk di tepi ranjang, memandangi wajah Bara yang setengah sadar. Jika di lihat-lihat, pria itu tampan juga. Apalagi tubuhnya lumayan kekar dan yang pastinya gagah.
__ADS_1
_Bersambung_