
Wanita tersebut mem-booking satu kamar untuk malam ini. Ia menjatuhkan Bara ke atas tempat tidur kamar hotel tersebut. Pria itu terbaring terlentang di atas kasur besar. Ia mengatur napasnya yang sedikit memburu karena beban tubuh pria itu yang cukup berat.
Ia duduk di tepi ranjang, memandangi wajah Bara yang setengah sadar. Jika di lihat-lihat, pria itu tampan juga. Apalagi tubuhnya lumayan kekar dan yang pastinya gagah.
Ponsel pria itu yang sebelumnya ia masukan ke dalam tas jinjing kecil miliknya kini berdering. Sebuah panggilan video call bernamakan Geya masuk.
"Apa ini kekasihnya?" pikir wanita itu.
Ia menutup bagian kameranya menggunakan jari telunjuk dan menjawab panggilan video call tersebut untuk memastikan wajah di balik nama tersebut.
"Hei, Bara. Kau belum tidur?"
Wanita tersebut membulatkan matanya sempurna begitu melihat wajah bernama Geya itu. Dengan cepat ia matikan panggilan tersebut dan meletakan ponselnya di atas nakas.
"Geya putra Adnan?" ujarnya.
Ia refleks beralih menatap Bara.
"Jadi dia berhubungan dengan Geya putra Adnan? Gadis yang membuat aku iri dengan apa yang ia miliki."
Ia tiba-tiba teringat akan masa kecilnya. Saat ia menginginkan mainan wanita itu tapi tidak wanita itu beri hingga ia menangis sementara ibunya tidak mampu membelikan mainan seperti itu karena harganya yang cukup mahal dan ibunya hanya seorang pelayan di rumah tersebut.
Clarin.
Ya, wanita itu adalah Clarin. Ia sontak mengepalkan kedua tangannya emosi jika mengingat hal itu.
__ADS_1
"Siapa yang telepon?"
Clarin seketika kaget mendengar pertanyaan itu. Bara bangun dan duduk.
"Apa dia sudah sadar dari mabuknya?" pikirnya.
Clarin tampak sedang memikirkan sesuatu. Kemudian ia meraba pipi Bara dengan sentuhan lembut.
"Kau sudah sadar, sayang?"
Bara memicing dan menatap wajah wanita di hadapannya.
"Kau siapa?" tanya pria itu kemudian.
Clarin tampak sedikit panik, ia khawatir jika dia benar-benar sudah sadar.
"Geya?"
Clarin mengangguk. "Iya, sayang. Ini aku Geya," ucapnya dengan seulas senyum.
Bara memperhatikan wajah wanita tersebut, lama kelamaan ia melihat wajah itu berubah menjadi wajah Geya. Seulas senyum pun terbit dari kedua sudut bibirnya.
"Geya, aku senang kau ada di sini. Aku ingin kau temani aku, ya." pinta Bara dengan cepat di angguki oleh Clarin.
Clarin menghembuskan napas lega, ternyata pria itu belumlah sadar dan kini berubah berhalusinasi.
__ADS_1
"Aku akan menemanimu, sayang."
Keheningan pun terjadi di antara mereka. Menyisakan tatapan di antara keduanya. Clarin hendak mencium bibir Bara, namun pria itu sontak menjauh.
"Kenapa?" tanya wanita itu.
"Geya, kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Bara merasa ada yang aneh.
Meski saat ia kesadaran nya kurang, tapi ia masih ingat jika Geya sebelumnya tidak pernah bersikap demikian.
"Mm .. Sayang, aku yakin kau juga pasti mau kan? Mumpung kita sedang berdua di sini, bagaimana jika kita .. "
Clarin menggigit bibir bawahnya sebagai tanda kode.
"Geya-"
"Aku sama sekali tidak keberatan. Aku justru senang jika kau mau melakukannya denganku. Bagaimana? Untuk malam ini saja."
Bara menunduk dan terdiam sejenak.
"Lupakan masalahmu, kita bersenang-senang, sayang."
Mendengar kata masalah, Bara sontak ingat bagaimana kejadian tadi di rumah. Amarah nya kembali meledak-meledak dan kepalanya kembali terasa pusing. Tangan Clarin yang kini sudah mengguliri setiap permukaan kulitnya membuat dirinya melampiaskan semua itu dengan cara mencari kesenangan pada wanita yang ia anggap Geya.
"Bagaimana, kau mau?" tanya Clarin lagi dan di angguki oleh Bara.
__ADS_1
Tanpa aba-aba Bara memagut bibir Clarin dengan lembut dan semakin lama semakin memanas. Keduanya melakukan hal tersebut hingga menyisakan suara errangan dan dessahan yang keluar dari mulut Clarin.
_Bersambung_