MENIKAHI SAUDARA ANGKAT

MENIKAHI SAUDARA ANGKAT
Berusaha Menjelaskan


__ADS_3

Geya melempar apapun yang bisa ia jangkau dengan tangannya. Ia meluapkan kemarahannya dengan cara itu. Bahkan kini make up di atas meja rias sudah bersih, berantakan dan berserakan di lantai.


"Aku tidak menyangka kau seburuk ini, Bara. Aku tidak menyangka kau melakukan hal seperti itu. Aku pikir kau pria baik-baik. Aku pikir kau beda dengan pria yang lain."


Geya kembali melempar sebuah benda yang ia jangkau dengan tangannya.


"Kenapa aku bisa dengan cepat menaruh harapan dan menanamkan perasaan untuk pria sejahat kau, Bara. Padahal sebelumnya aku tidak segampang ini berharap pada pria apalagi nyaman dan tumbuh perasaan secepat ini."


Tangis Geya semakin deras, mengingat bagaimana manisnya perlakuan Bara meski baru beberapa kali bertemu. Dan begitu ia melihat video itu, lukanya semakin besar.


"Arrrggghhh .. "


Geya kini mengamuk, ia mengambil bantal di atas tempat tidur kemudian melemparnya ke sembarang arah. Menarik selimut kemudian membuangnya. Apapun ia lempar guna meluapkan kekecewaan nya.


Beruntung ia tahu Bara aslinya seperti apa saat masih dalam masa pendekatan. Ia tidak tahu apa jadinya jika ia sudah memiliki sebuah komitmen dalam hubungan. Mungkin ia akan lebih hancur dari sekarang.


Suara ketukan pintu membuat ia menghentikan tangisnya sejenak. Ia menoleh ke pintu tersebut.


"Geya, sayang .. Keluar sebentar, nak. Ada yang ingin bertemu denganmu."

__ADS_1


Tok tok tok ..


"Sayaaang .. "


Geya menyeka air mata di kedua pipinya.


"Siapa yang ingin bertemu denganku?" gumamnya.


Tok tok tok ..


"Geya, sayang .. Buka pintunya, nak!"


"Pasti si anak pungut itu. Dia pasti sedang tertawa di atas penderitaan sekarang. Karena apa yang di katakan terbukti."


"Geya, ayo buka pintunya, nak! Ada tamu di depan ingin bertemu denganmu. Temui sebentar, ya."


Seorang pria sampai di ujung tangga, ia berjalan ke arah dimana mama Elin berdiri.


"Biar aku saja yang panggil boleh?" tanya pria itu dan di angguki oleh mama Elin.

__ADS_1


"Iya, silahkan."


Pria itu menatap pintu kamar di hadapannya. Mama Elin mundur selangkah untuk memberi jalan pria tersebut.


Tok tok tok ..


"Geya, ini aku Bara."


Mendengar nama pria itu membuat Geya semakin tidak ingin keluar dari kamar. Perasaannya kini terlanjur berubah benci.


"Pergi kau dari di sini, pergi! Pergiii ..!!" teriak Geya dari dalam.


Mendengar Geya mengusir dirinya membuat Bara merasa sedih. Sebelumnya ia sudah ceritakan hal yang sebenarnya pada kedua orang tua Geya. Awal ia datang, ia juga mendapat usiran dari papa wanita itu. Bahkan pria itu sempat memintanya untuk tidak lagi menginjakan kaki di rumahnya.


Tapi Bara sempat memohon, meminta mereka untuk mendengarkan penjelasan nya. Beruntung ia datang bersama om nya, sehingga membantu menjelaskan jika semalam ada keributan di rumah yang membuat Bara harus cepat pulang.


Bara sama sekali tidak membohongi Geya. Ia benar-benar pulang ke rumah, akan tetapi apa yang terjadi di rumah yang membuat ia harus pergi ke sebuah club dengan tujuan agar bisa melupakan masalah sejenak. Malangnya ia justru mendapat masalah baru.


Sekarang ia juga tidak perlu repot-repot mecari tahu siapa identitas wanita yang melakukan itu padanya. Sebab kedua orang tua Geya memberi tahu jika wanita itu Clarin yang merupakan anak dari pelayan rumah mereka. Tidak hanya itu, mama Elin menambahkan cerita mengenai hubungan antara Clarin dengan bi Yayan sekarang. Mereka juga tidak tahu Clarin tinggal dimana sekarang. Masalah itu, om nya Bara akan mencari tahu lebih lanjut.

__ADS_1


Oleh karena itu, mama Elin dan papa Adnan memberi kesempatan pada Bara untuk menjelaskan yang sebenarnya pada putri mereka. Hanya saja dengan satu syarat, tidak boleh memaksa Geya jika Geya tidak mau bertemu.


_Bersambung_


__ADS_2