
Setelah perbicangan serius, Papi Firman mengajak keluarganya makan malam. Meski suasana pasti tidak nyaman, tapi Papi tidak ingin Mami dan Arumi melewati makan karena masih terpukul dengan perbuatan Dina.
Tidak ada perbincangan dalam acara makan malam, namun Arumi dan Mami Mira sudah tidak lagi menangis.
Selesai makan malam, Arumi langsung pamit tanpa mengajak Henri namun pria itu tidak akan membiarkan istrinya pulang sendirian.
Arumi tidak menolak ajakan Henri meski tidak mengucapkan sepatah kata pada suaminya.
“Sayang,” Henri menyentuh jemari istrinya yang sejak tadi menatap ke jendela samping. “Maafkan aku telah lalai menjaga kepercayaanmu. Demi apapun bahkan demi nyawaku sendiri aku berani bersumpah kalau aku tidak pernah tertarik pada Dina. Aku selalu menghindarinya saat aku sadar kalau sikap Dina terlalu agresif sebagai seorang adik.”
“Bisakah kita tidak membahasnya sekarang ?” ujar Arumi tanpa menoleh ke arah suaminya.
“Okkey,” Henri melepaskan genggamannya. “Aku akan menunggu sampai hatimu siap memaafkan aku. Sama seperti yang Arkan lakukan, kalau kehadiran Mili hanya menciptakan rasa sakit hatimu, kita akan pindah ke tempat yang jauh darinya. Tapi tolong jangan minta aku berpisah darimu karena aku sangat-sangat mencintaimu.”
Arumi masih terdiam dan memandang ke samping jendela sambil bersandar ke pintu.
Henri pun tidak mengajak istrinya berbicara panjang lebar hingga mobilnya terparkir di basement dan keduanya masuk ke dalam apartemen.
“Aku akan tidur di kamar sebelah. Kalau ada yang kamu butuhkan, jangan ragu untuk membangunkan aku,” ujar Henri selesai mandi dan membawa bantalnya ke ruangan sebelah yang biasa dijadikan kamar tamu.
Arumi tidak menjawab, ia masih duduk di depan meja rias mengeringkan rambutnya yang masih basah.
“Arumi,” Henri masuk kembali setelah meletakkan bantalnya di kamar sebelah.
“Aku tidak akan pernah lelah menunggumu sampai kapanpun, tapi saat ini aku mengambil jarak bukan berarti aku mengabaikanmu tetapi ingin memberi ruang untukmu.
Kapan pun kamu membutuhkan aku, sudah pasti aku tidak akan menolaknya. Aku mohon Arumi, jangan pernah berpikir untuk bepisah denganku,” ujar Henri dengan wajah sendu.
Arumi hanya diam dan mematikan pengering rambutnya saat Henri berbicara.
Melihat tidak ada tanggapan apapun dari istrinya, akhirnya Henri memilih keluar kamar.
Waktu hampir jam 12 malam tapi Arumi masih sulit memejamkan matanya di atas tempat tidur.
Hatinya terluka mendapati fakta kalau suaminya memiliki anak dari perempuan lain meski semuanya itu terjadi tanpa diketahui oleh Henri sendiri.
Arumi bangun dari tempat tidur menuju balkon, membuka tirai dan memandang keluar dari balik jendela.
Ingatannya kembali pada 5 tahun yang lalu saat Arumi baru saja kembali dari Singapura setelah mendapat kabar kalau Arkan akan menikah lebih dulu karena telah menghamili Dina.
__ADS_1
“Kenapa kamu sampai tega melakukan itu pada sahabatmu sendiri, Ar ? Kamu tahu bagaimana pandangan orang terhadap perempuan yang hamil sebelum menikah apalagi di usia sekolah seperti Dina ?”
Saat itu Arumi menemui Arkan di kamar tidurnya, tepat di saat Arumi baru beberapa jam tiba dari Singapura dan besoknya adalah hari pernikahan Arkan dan Dina.
Arkan diam saja, tidak menyahut dan berdiri dekat jendela kamarnya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya.
Arumi menganggap Arkan diam saja karena menyesal dengan perbuatannya. Tapi semakin lama, Arumi bisa melihat bagaimana Arkan semakin tidak peduli pada Dina.
Menganggap Dina adalah perempuan baik-baik yang menjadi korban, lebih dari dua kali Arumi memarahi adiknya habis-habisan.
“Kamu lupa kalau punya kakak perempuan, Ar ? Istri kamu lagi hamil, bisa-bisanya kamu mengabaikannya padahal Dina sangat membutuhkan kehadiranmu.”
Omelan Arumi hanya didengar oleh Arkan namun tidak pernah ditanggapinya bahkan Arkan semakin menunjukkan sikap tidak peduli pada istrinya.
“Arkan !” tangan Arumi pun melayang menampar wajah adiknya.
Saat itu Mama meminta Arumi dan Henri datang menghibur Dina yang harus dirawat di rumah sakit karena sempat mengalami kontraksi di saat usia kandungannya baru 6 bulan.
Arkan tidak datang, adik Arumi yang berstatus suami Dina itu malah pergi keluar kota dengan teman kampusnya.
Ditemani Henri, Arumi langsung menemui adiknya yang baru pulang di rumah orangtua mereka.
Arumi dan Henri sempat dibuat bingung karena Arkan memilih tetap diam meski tangan Arumi membuat merah pipinya.
Arkan terlihat acuh dan tidak peduli dengan caci maki yang dilontarkan kepadanya.
Puncak kemarahan keluarga Arumi adalah saat Dina melahirkan Emilia. Kondisi Dina yang lemah tidak memungkinkan wanita itu melahirkan normal.
Sehari sebelum tanggal tanggal kelahiran Emilia, Arkan menghilang entah kemana. Handphonenya mati dan tidak ada satu pun teman Arkan yang tahu keberadaan pria itu.
Tiga hari sesudah Emilia lahir, Arkan baru muncul, itupun datang ke rumah orangtuanya, bukan mendatangi Dina yang tinggal di rumah orangtuanya sendiri.
Saat itu Papi Firman kembali memukul Arkan. Sekalipun tidak tega melihat adiknya dihajar Papi tapi Arumi tidak berniat membela Arkan. Kekecewaan Arumi pada Arkan sudah sampai ke ubun-ubun.
Perbuatan terakhir Arkan yang tidak terduga adalah saat adik Arumi itu menyodorkan surat keputusan cerai dari pengadilan antara dirinya dan Dina.
Saat itu sikap Arkan sudah berbeda. Terlihat keras, tegas dan tidak menerima penolakan. Tidak ada yang bisa menyanggahnya karena Arkan memberikan copy legalitas dari pengadilan, bukan sekedar permohonan cerai.
Arkan tidak mempedulikan Dina yang sesunggukan di tengah perbincangan keluarga mereka.
__ADS_1
Bahkan saat Arumi dan Henri menahan kepergian Arkan yang memutuskan melanjutkan studi di negeri orang, pria yang berbeda usia 4 tahun dengan Arumi itu berbicara santai tanpa beban.
“Papi sudah mendidik aku dengan benar, menjadi laki-laki yang bertanggungjawab atas permintaan orangtuanya tapi bukan atas perbuatannya sendiri. Suatu saat nanti kebenaran akan terkuak karena bangkai yang dikubur bukan pada tempatnya pasti akan mengeluarkan bau yang bisa tercium oleh banyak orang.”
Arumi dan Henri dibuat bingung dengan ucapan Arkan saat itu. Mereka tidak bisa lagi menahan Arkan yang telah bersikeras berpisah dengan Dina dan pergi sejauh mungkin dari keluarganya.
Saat ini akhirnya Arumi baru menyadari satu hal yang dianggapnya wajar selama ini.
Selama rumahtangga Dina dan Arkan bermasalah, Mami dan Mama Heni selalu meminta Arumi dan Henri yang datang menghibur Dina, bukan sekedar Arumi saja.
Arumi baru sadar bahwa Dina yang sering histeris itu akan kembali tenang saat Henri memeluknya sambil membisikkan kata-kata petuah yang berisi nasehat dan penghiburan.
Arumi benar-benar tidak memilki pikiran jelek saat itu bagi Arumi apa yang terjadi pada Dina adalah akibat perbuatan adiknya yang tidak bertanggungjawab. Sebagai sesama perempuan dan kakak Arkan, Arumi merasa ikut bertanggungjawab atas kondisi Dina.
Arumi menghela nafas. Tidak menyangka kalau Dina ternyata telah membuat Arkan begitu terluka karena harus menerima pukulan dan caci maki dari keluarganya sendiri.
Dan sekarang, Arumi adalah korban berikutnya. Ada sedikit penyesalan karena Arkan tidak membuka fakta yang sebenarnya sebelum pernikahan Arumi dan Henri terjadi, tapi Arumi yakin kalau semua yang dilakukan Arkan karena adiknya itu begitu menyayangi orangtua dan kakaknya hingga kesalahan yang ditimpakan kepadanya diterima hanya dalam diam.
Arumi menatap ranjangnya yang kosong. Sebagai perempuan yang memiliki kekurangan, Arumi sadar kalau cinta Henri memang tidak main-main untuknya.
Sudah 5 tahun pernikahan mereka tapi belum ada tanda-tanda kehadiran buah hati yang menyempurnakan ikatan perkawinan mereka.
Baik Henri maupun Arumi sudah memeriksakan diri ke dokter dan masalahnya ada pada Arumi. Jika serius ingin memiliki buah hati, Arumi harus mengurangi sembilan puluh persen aktivitasnya, berobat secara teratur dan mengikuti aturan yang ditetapkam dokter.
Tanpa terasa 5 tahun berlalu, dan Arumi masih belum merasa siap untuk melepas apa yang sudah dicapainya saat ini.
Selama itu pula Henri tidak pernah menuntutnya, malah menghibur Arumi yang terlalu serakah dan berharap mendapatkan keajaiban dari surga.
Bisa memiliki anak tanpa harus meninggalkan hasil kerja kerasnya.
Arumi menghela nafas beberapa kali sambil berjalan ke meja kerja kecil yang biasa digunakan Henri untuk menyelesaikan gambar designnya.
Arumi tersenyum getir saat melihat banyak fotonya dengan Henri terpampang di sana. Suaminya itu memang suka memasang foto di atas meja kerjanya.
“Pemberi semangat, Sayang.”
Begitu alasan Henri setiap Arumi bertanya. Di meja kerja Arumi di kantor hanya ada foto pre-wedding mereka dan satu foto berdua saat mereka menggelar resepsi.
Entah keputusan apa yang harus diambil Arumi saat ini karena rasa sakit dan kecewa masih menguasai hampir seluruh ruang hatinya.
__ADS_1