
Abi rasanya ingin menonjok wajah Edward Blair saat ini juga jika tidak ingat mereka berada dimana. Bisa-bisanya main melamar anak batita disaat seperti ini?
"Are you NUTS??!!" pekiknya yang membuat Yuna dan Dara menoleh ke tempat Edward dan Abi berada.
"Tampaknya kita harus melerai suami masing-masing" ucap Yuna sembari berjalan ke arah suaminya diikuti oleh Dara.
"Kamu kenapa lagi!" bentak Yuna sambil menjewer telinga Edward.
"Aduh duh duh, Darling! Baby! Sakit ini!" protes Edward.
"Yuna, sepertinya suami mu harus mandi kembang tujuh rupa sekalian diruqyah biar otaknya gak miring!" umpat Abi jengkel.
"Memang mas Edward bilang apa, mas?" tanya Dara.
"Bule gadha akhlak ini, bisa-bisanya main lamar Rhea! Melamarkan dengan atas nama Duncan!" teriak Abi emosi.
Dara hanya ternganga lalu menatap Edward yang masih dalam posisi dijewer Yuna.
"Mas Edward... waras?" selidik Dara.
Yuna melongo mendengar penjelasan Abi dan kalimat yang keluar dari mulut Dara pun juga nggak habis pikir suaminya lebih Gesrek dari dirinya.
"Kamu waras, Ed?" Yuna menatap tajam suaminya serta semakin kencang jewerannya.
"Aduh, baby, lepasin dulu jewerannya. Bisa putus ini kupingku!" rengek Edward dengan wajah kesakitan.
"Kayaknya memang kamu itu harus diruqyah deh Ed!" cebik Yuna kesal.
Stephen dan Diana yang datang akibat ribut-ribut dari pihak keluarganya, meminta agar keempatnya masuk ke ruang kerja Stephen yang kedap suara.
"Sudah! Kalian disini semua! Mau kalian berantem atau mengumpat tidak akan kedengaran!" omel Stephen yang kesal dengan kakaknya yang minus akhlak.
"Kalian nanti semua, hutang penjelasan pada kami!" tambah Diana dengan nada gemas.
Pasangan suami-istri itu lalu meninggalkan ipar dan sahabat mereka di ruangan Stephen.
***
Yuna dan Dara menatap suami masing-masing yang duduk di seberang mereka. Mereka duduk di sofa empuk ruangan Stephen tanpa ada niatan mau makan pastry dari pesta yang dibawakan oleh pelayan agar mereka berempat tidak kelaparan. Dua kopi hitam dan dua teh oolong sudah tersedia di depan mereka.
"Sekarang, Edward. Katakan apa alasanmu main lamar Rhea dengan cara seperti itu?" Yuna menatap suaminya dengan tajam.
"Sayang, kamu tahu kan aku sudah lama ingin besanan dengan Abi. Kalau ditanya alasannya, ya karena aku tahu Abi dan Dara gimana, pasti anaknya juga bakalan baik didikannya" cengir Edward yang di mata Abi wajah bule itu menyebalkan.
"Lalu?"
"Tadi Abi bilang kalau G punya teman bernama Gozali dan aku tidak mau kalah start dong jadi aku sudah main ikat Rhea duluan."
Yuna menepuk jidatnya yang mulus.
"Astaga Edward Blair! Benar kata Abi, otakmu sudah somplak!" umpat Yuna jengkel.
__ADS_1
"Kok jadi bawa-bawa Gozali?" tanya Dara.
"Siapa tahu Gozali juga sudah naksir Rhea sejak bayi" eyel Edward.
"Astaghfirullah!" Abi mengusap wajahnya kasar.
"Mas Edward, kayaknya dirimu obsesi deh sama Rhea untuk jadi menantu mu. Dengar ya mas, aku dan mas Abi tidak akan melarang Rhea berhubungan dengan siapa saja, entah Duncan atau Gozali atau siapapun nanti disaat dia besar nanti. Aku hanya ingin Rhea ataupun G menikmati hidupnya selayaknya dan sesuai dengan apa keinginannya. Kita sebagai orangtua, hanya mengarahkan dan menasehati jika mereka mulai keluar dari jalur. Jadi aku dan mas Abi tetap tidak bisa menerima lamaran mas Edward. Maaf sekali lagi tapi biarkan waktu yang menentukan karena aku tidak mau Rhea terkungkung dengan janji orangtuanya andaikan kami setuju. Biarlah Rhea menjadi Rhea yang sesuai dengan kepribadiannya. Kalau memang D adalah jodoh Rhea, mau dengan cara apapun pasti ketemu. Kalau D bukan jodoh Rhea, mau mas Edward paksakan berbagai jalan mau via tol atau tikus, tetap tidak bersatu." Dara menatap Edward dalam-dalam.
Edward menatap Dara lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Aku rasa kau benar, Ra. Mungkin aku yang terlalu egois hingga tidak mengindahkan perasaanmu, Abi dan Rhea sendiri." Edward menghembuskan nafas panjang.
"Kasih tahu Duncan, kalau dia juga jangan ikutan obsesi seperti dirimu, Ed" ucap Abi.
"Hu um. Darling, maafkan aku ya" Edward menatap Yuna dengan memelas.
"Minta maaflah dengan Abi dan Dara. Kamu sudah bikin mereka pusing tiga tahun ini. Nanti Duncan aku kasih pengertian agar tidak ikutan Gesrek sepertimu!" Yuna menatap tegas suaminya.
"Maaf Abi, maaf Dara atas keegoisanku." Edward menundukkan kepalanya khidmat.
"Kami maafkan kok mas" ucap Dara lembut.
"Sekali lagi kamu ulang, aku hajar kamu!" ancam Abi.
"Mas Abi!" desis Dara yang langsung membuat Abi bungkam.
"Sudah, kita ngemil dulu yuk. Aku lapar ini!" sahut Yuna sambil mengambil cake cantik di piring.
***
"Ya ampun bro!" keluh Stephen sambil mengacak-acak rambutnya.
"Mas Edward, kamu tuh obsesi bangets sih sama Rhea?" omel Diana kesal.
"Aku kan sudah minta maaf" sahut Edward sambil memanyunkan bibirnya.
"Nggak kelihatan imut juga bro, malah menyebalkan!" umpat Stephen.
Abi dan Dara tersenyum melihat perdebatan kakak beradik itu.
"Ohya, aku jadi ingin ketemu dengan Gozali" celetuk Yuna.
"Datang saja besok ke mansion, bocahnya nginep di rumah kok!" sahut Dara yang memang tadi mendapatkan pesan dari Mirna kalau Gozali menginap.
"Wah boleh tuh! Besok kita ketemu sama anak-anak ya mas!" seru Diana.
"Besok kita bawa Nadya dan Neil, Di" timpal Stephen ke istrinya.
"Kami tunggu!" ucap Abi.
***
__ADS_1
Abi dan Dara kini sudah berada dalam mobil perjalanan pulang ke mansionnya. Sepanjang jalan, keduanya hanya diam memikirkan kehebohan Edward tadi.
"Mas."
"Hhmmm."
"Apa menurutmu Gozali akan naksir Rhea nanti kalau sudah besar?" tanya Dara.
"Aku tidak bisa menjawab, sayang" jawab Abi apa adanya.
"Kalau mas sendiri, untuk dijadikan menantu, suka siapa?" selidik Dara sambil menatap suaminya.
"Astaga Adaraaaaa!" kekeh Abi geli melihat wajah istrinya yang makin mengemaskan meskipun sudah melahirkan dua anak.
"Ini kan umpama. Mana kita tahu jodoh Rhea siapa. Anak perempuan itu lebih ekstra untuk menjaganya karena dia akan menghabiskan sisa hidupnya kepada pria yang tidak dikenal dari lahir namun mempercayainya untuk menjadi bagian hidupnya. Apalagi, setelah Rhea menjadi istri, tanggung jawab kita sebagai orang tua pun berakhir namun kita juga tidak bisa melepaskan begitu saja karena jangan sampai pria yang mengambil anak kita, kasarannya, adalah orang yang salah."
"Seperti dirimu ke diriku?" tanya Abi.
"Walaupun aku menikah dengan mas Abi karena wasiat almarhum Yanti, tapi mas Abi adalah jodohku yang terbaik diberikan Allah" senyum Dara. "Makanya aku mempercayakan hidupku kepadamu mas until janah."
Abi mengambil tangan kanan Dara dan mencium punggung tangannya dengan khidmat.
"Terimakasih telah bersamaku, Adara. Melahirkan anak-anakku, mendidiknya menjadi anak-anak yang hebat."
"Itu semua karena dukunganmu juga mas."
Abi tersenyum menatap wajah istrinya sekilas karena dia masih dalam posisi menyetir.
"Jadi kalau Rhea besar nanti, mas lebih milih siapa jadi calon menantu?" goda Dara yang penasaran dengan jawaban suaminya.
"Gozali."
***
Yang penasaran ma Gozali
Ini Gozali usia 8 tahun Yaaaa
***
Yuhuuu
Up siang dulu
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1